
Dilla menangis terisak di lantai dekat ranjang. Ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Sungguh sakit rasanya, saat tau bahwa dirinya hanya dianggap sebagai budak nafsu suaminya.
"Kenapa dia tak menerima anak ini?"
Batin Dilla berkecambuk. Kehadiran seorang anak diantara mereka yang diharapkan mampu menyatukan nya dengan Aldy pupus sudah. Hatinya hancur tepat saat dimana Aldy secara terang terangan menolak janin yang sedang tumbuh di rahimnya.
Malam itu Aldy tidur diruang kerja nya sedangkan Dilla tidur di kamar nya dan Aldy.
Pagi hari
Dilla maupun Aldy sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
Mata sembam Dilla tetap saja kelihatan walau sudah ditutup dengan make up.
Hari ini wajah Dilla nampak memperihatinkan. Mata bengkak akibat semalaman menangis dengan mata panda di area bawah mata nya.
Dilla sudah duduk di meja makan untuk sarapan.
"Loh nak, kok mata mu bengkak gitu? Kamu abis nangis semalam?" Tanya mama Mela khawatir.
Seperti biasanya, Dilla tetap tersenyum teduh dihadapan mertuanya.
"Enggak ma, Dilla cuma kecapekan aja"
"Jujur aja nak, jika memang Aldy menyakitimu mama dan papa siap untuk membantumu" ucap papa Reza sambil melirik Aldy.
"Enggak ma pa, Dilla semalam hanya terharu saja. Dilla punya kabar baik buat mama dan papa"
"Kabar baik apa?" Tanya mama Mela dan papa Reza kompak.
"Dilla hamil ma" ucap Dilla.
Mama Mela dan papa Reza nampak berbinar mendengar kabar baik itu.
"Wahh yang bener Dil? Wahh akhirnya cucu ku nambah" mama Mela mendekat ke arah Dilla dan memeluknya.
"Selamat ya nak, jaga baik baik kandungannya jangan terlalu capek. Kalau perlu berhenti bekerja aja nak"
"Enggak ma, Dilla mau tetep kerja aja"
Sedangkan papa Reza langsung mendekat ke Aldy dan menepuk pundak putranya.
"Selamat boy" ucap papa Reza pada putra nya.
Ia melihat keterpaksaan di dalam senyum itu.
"Udah berapa bulan nak?" Tanya mama Mela sambil mengusap perut rata Dilla.
"4 minggu ma"
"Wahh cepet ya berarti. Baru dua bulan nikah tapi kandungan nya udah satu bulan aja" celetuk mama Mela.
"Rezeki ma" jawab Dilla.
Setelah selesai, Dilla segera berangkat ke kantor dengan tetap menggunakan motornya.
Papa Reza dan mama Mela tadi sudah memaksa Dilla untuk berangkat bersama Aldy.
Tapi Dilla menolak secara halus permintaan mertua nya dan meyakinkan mereka berdua bahwa ia akan baik baik saja nanti.
Sore hari
Dilla pulang dari kerja nya
Saat sampai rumah, ia dikejutkan oleh Ara dan Rifqi yang sudah ada dirumah nya.
"Loh Ara? Tumben dateng jam segini?" Tanya Dilla bingung melihat Ara yang datang ke mansion argadinata pada jam segini.
Biasanya jika berkunjung, Ara meengambil jam malam hari di hari kerja rifqi. sedangkan pagi hari saat hari libur kerja.
Ara memukul pelan lengan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
" Ish kau ini, ada tamu datang bukannya disambut malah dikasih pertanyaan" canda Ara.
Ara langsung memeluk sahabatnya.
"Selamat ya Dil atas kehamilanmu" ucap Ara.
" Hah? Kau tau dari mana kalau aku hamil?" Tanya Dilla bingung karna ia merasa belum mengabari Ara tentang kehamilan nya.
"Mama lah, siapa lagi. Setelah menikah dengan kak Aldy kau jadi melupakanku"
"Hehehe. Bukan gitu Ar. Ya udah yuk ke dalem, aku mau mandi dulu" Ucap Dilla.
Dilla pun berjalan menuju kamarnya melewati tangga.
yhok komen sampe 50 biar author up lagiiii