
Tenda besar sudah terpasang di sebuah lapangan bola di sebuah kampung. Kampung inilah yang akan menjadi pusat wisata nantinya. Di sekeliling kampung sudah mulai pembangunannya. Rencana Gubernur, pembangunan akan dilaksanakan di sepanjang pantai dalam kawasan Provinsi Wilayah Selatan. Anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan tidak tanggung-tanggung semua mencapai enambelas triliun, itu termasuk memperlebar jalan dan juga pembangunan resort di beberapa titik.
"Kami sudah bekerjasama dengan pemerintah pusat agar kami memiliki akses promo ke luar negeri. Diperkirakan, duw twhun berikutnya provinsi Wilayah selatan akan menerima kunjungan wisata sebanyak satu juta orang. Dan itu akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Itu adalah wisatawan lokal dan mancanegara." Jelas Ayah Manan.
Diana melirik pada pakaian Ayah Manan, dilihatnya orang itu bernama Bilal.
"Mmm Paman Bilal, kata Gubernur, aku bisa mengelolanya sampai dua puluh tahun. Bisakah itu diperpanjang nantinya?" Tanya Diana.
"Bisa, Nona! Keuntungan pemerintah kan juga banyak, mulai dari penerbangan, angkutan kereta api dan juga pajak trmpat hiburan. Selain itu, masyarakat memdapat keuntungan dari menjual makanan, menchandise dan jasa angkutan. Semua tentu akan mendapat keuntungan." Jawab Bilal.
Di belakang Bilal, ada istrinya dan juga Jenny. Jenny sama sekali tidak nyaman. Apalagi ketika mendengar investasi untuk proyek ini nilainya sampai enam belas triliun. Apakah Diana punya uang sebanyak itu? Aduh, Jenny tidak bisa membayangkannya.
"Kalau begitu, kita tinggal tanda tangan saja, Paman." Kata Diana.
"Benarkah, Nona? Semudah itu?" Tanya Bilal.
Awalnya, Bilal berpikir bahwa akan memerlukan waktu berbulan-bulwn untuk mendapatkan investor pada proyek ini. Namun, ini? Bukankah ini terlalu mudah?
"Iya, aku ini pengusaha, jika untung buatku, maka aku akan investasi, tapi aku minta jaminan." Jawab Diana.
"Oh tentu, Nona! Gubernur sudah mengatakan bahwa Nona akan mendapatkan jaminan perusahaan Nona untung. Apalagi nantinya pemerintah pusat juga akan membantu promosi ke luar negeri. Jadi jangan kuatir, Nona." Kata Bilal meyakinkan.
Diana mengangguk-angguk. Sebagai pengusaha, apalagi yang dia cari selain keuntungan? Tapi memang dalam.benaknya, dia juga sudah memikirkan bagaimana memberi keuntungan dan penghasilan bagi penduduk sekitar. Itu juga penting agar ke depan semua dapat berjalan beriringan dan sama-sama mendapatkan keuntungan yang seimbang.
Saat itu, ada keributan yang mendadak, semua orsng melihat ke arah sebuah bukit karang tak jauh dari oantai. Bukit itu tidak terlalu besar, namun bagian atas berupa dataran yang cukup luas. Terjangan ombak tsk menggoyahkan bukit karang itu.
Bukan itu yang membuat orang-orang tertarik, namun ada sebuah pertarungan di atas karang itu. Terlihat seorang pemuda berambut gondrong sedang bertarung melawan seorang bertubuh tinggi besar.
Pemuda itu tampak sangat hebat sehingga lawannya pun terdesak. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lawan sudah berhasil dilumpuhkan. Pemuda berambut gondrong itu pun mengambil sebuah tali, mengikat orang besar dan mengambil sesuatu dari pakaian orang besar itu.
Saat itu pemuda gondrong langsung mengangkat tubuh besar agar berdiri. Tidak ada yang menyangka, di bawah karangbitu ada sebuah oerahu kecil yang tertambat. Pemuda i5u mendorong pria besar ke laut, lalu diapun ikit menceburkan diri, meraih perahu dan memaksa pria besar naik ke perahu. Pemuda itu pun akhirnya naik ke perahu.
Setiap orang sangat terkejut, perahu itu meluncur cepat ke pantai tanpa bantuan apapun, tidak ada mesin, tidak ada dayung atau apapun.
Pria besar duduk, sementara pemuda itu berdiri. Perahu dengan cepat sampai di oantai. Beberapa orang polisi bersenjata lengkap sudah menyambut mereka, termasuk di sana ada Kapten Herry.
Para polisi menodongkan senapan ke arah dua otang itu. Pria besqr itu memakai kacamata hitam dan ternyata dia adalah Tuan Ghost.
Setelah dilihat dari dekat, pemuda itu ternyata sangat tampan. Rambutnya yang gondrong acak-acakkan sebagian menutup wajah yang putih. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Badannya tidak terlalu atletis, namun proporsional. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima centimeter.
"Kapten, dia adalah Robby, dialah yang menyuruh delapan orang yang sekarang menjadi tahananmu. Dia bukanlah dalangnya. Tapi masih ada orang di belakangnya. Jika kamu pintar, kamu bisa membuatnya bicara. Dia tadi ingin membunuh semua tahananmu dengan ini." Kata pemuda itu. Lalu dia menyerahkan sebuah benda seperti remote control pada Kaptrn Herry.
Kaptrn Herry menerima benda itu dan memeriksanya.
"Itu adalah remote control untuk meledakkan bom dalam tubuh delapan tahananmu, selain memiliki waktu sepuluh hari, bom itu juga bisa diledakkan dengan benda itu asal jaraknya tidak terlalu jauh. Di dalam perahu ada senapan milik Robby." Kata pemuda itu.
"Apa aku harus mempercayaimu?" Tanya Kapten Herry.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu! Selamat tinggal!" Pemuda itu langsung memutar tubuhnya dan hendak pergi.
"Tunggu!" Terdengar sebuah suara wanita. Pemuda itu berhenti. Lalu menoleh. Dia melihat seorang gadis cantik. Namun dia segera memandang ke arah lain.
"Tunggu, bukankah kamu? Kamu adalah.....?" Tanya Diana.
"Nona salah orang!" Jawab pemuda itu.
"Aku tidak mungkin salah orang. Aku mengenalmu." Kata Diana.
Pemuda itu tidak peduli, dia berjalan menjauh.
"Aku sudah mencarimu sekian lama!" Teriak Diana. Semua orang terdiam. Sementara pemuda itu tidak mempedulikan Diana dan terus menjauh. Diana terlihat sedih. Apa yang terjadi? Semua orang hanya menerka-nerka tanpa berani bersuara.
"Ibu." Dara memanggilnya. Diana menoleh ke arahnya dan berusaha tersenyum. Lalu Diana berjongkok, Dara segera memeluk Diana.Sementara Karmen dan Anita juga tidak mengatakan apa-apa.
Kapten Herry segera memerintahkan membawa Robby ke markas. Satu mobil tahanan milik polisi lokal membawa Robby ke markas, Herry pun langsung ikut.
Sambil menggendong Dara, Diana menemui Inspektur Herman Dan Jenderal Joshua.
"Keberadaan delapan tahanan sudah diketahui, sebaiknya perketat penjagaan. Jenderal, aku minta beberapa anak buahmu membantu polisi menjaga orang-orangku." Kata Diana.
"Nona tenang saja, aku sudah menyiapkan prajurit-prajurit pilihan untuk membantu polisi melindungi orang-orang Anda." Jawab Joshua.
"Inspektur, segeralah bawa gubernur kembali. Umumkan keadaan darurat dan jangan ambil.resiko. Aku akan di sini beberapa hari sampai orang-orangku benar-benar bisa mengeluarkan bom dari tubuh para tahanan." Kata Diana.
Diana kemudian membawa Dara dan Karmen di suatu tempat. Di sebuah ruang bawah tanah yang cukup luas, di situlah para tahanan sedan dilakukan pemeriksaan. Diana menemui Farel dan membicarakan sesuatu padanya sebelum akhirnya Diana, Karmen, Dara dan Anita pergi. Mereka akan tinggal di rumah kepala desa untuk beberapa hari.
Sementara, rombongan gubernur sudah mulai bergerak kembali ke Kota M.