Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Mirip Dara


Rangga kembali ke dalam restoran. Beberapa wanita tampak terlihat berkaca-kaca. Karmen yang saat itu mendekati Dara, menemukan sebuah foto. Di dalam foto, tampak sebuah keluarga. kecil Tampak itu adalah foto suami istri, ada seorang yang lebih tua dan dua anak kecil. Mata Karmen melotot ketika melihat foto dua anak kecil itu. Mereka sangat mirip dengan Dara.


"Lang!" Lalu Karmen memberikan foto itu pada Galang. Galang memperhatikan foto itu dan dia terkejut. Dia memperhatikan dua foto anak kecil. Sangat mirip dengan Dara.


"Lang, jangan-jangan Riana memang punya saudara kembar." Kata Karmen. Galang yang tersadar dari tuduhannya pada nenek dan Diana, kemudia berlari keluar restoran. Dia mencari-cari kedua orang itu. Namun jelas sekali tidak menemukan apa-apa.


"Paman Han? Apa benar dia bukan ayahnya Riana?" Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah beberapa waktu Galang mencari-cari dan tidak menemukan orang, lalu dia pun kembali ke restoran dan langsung menuju Jatmiko.


"Paman, kerahkan anak buahmu, cari nenekku dan Diana. Bila perlu kerahkan semua orang untuk mencarinya mulai malam ini. Laporkan semua perkembangan kepada Rangga. Aku ingin nenekku dan Diana ditemukan!" Galang juga memerintahkan para direktur untuk mengerahkan orang-orangnya untuk ikut dalam pencarian mulai malam ini.


"Baik, Tuan Muda!" Jatmiko dan para direktur menjawab dengan serempak dan membungkuk hormat. Lalu semua orang pergi dari tempat itu. Termasuk Sisi dan Dimas serta Daniel. Dimas termasuk yang ditugaskan oleh ayahnya untuk memenuhi permintaan galang. Jadi Dimas dan Sisi sudah yakin bahwa Dimas tidak akan kehilangan pekerjaannya.


Galang lalu duduk lemas. Dia sama sekali tidak percaya, orang yang selama ini dia anggap ayah Riana, ternyata bukan ayahnya, tapi pamannya.


Dan Paman Han mengusir Diana dan nenek? Ahhhh.. Benar-benar tidak masuk akal. Karmen dan Rangga mendekati Galang. Keduanya memegang bahu Galang. Dara pun yang digendong Karmen, memegang kepala galang. Galang lalu memegang tangan Dara. Ada perasaan bersalah di hati Galang karena tidak mempercayai saudara kandung istrinya.


Dia juga merasa sangat bersalah pada mendiang istrinya. "Apa ini?"


Tangan Galang yang memegang tangan Dara merasakan ada sebuah benda di tangan Dara. Anton yang melihatnya lalu memeriksa. Anton melihat sebuah gelang dari emas murni. Setelah memeriksa dengan teliti, di gelang itu tertulis nama Riana.


"Lang, mungkin dia memang benar nenekmu. Kamu jangan merasa bersalah. Mereka pasti akan ditemukan. Aku memang merasakan kekuatan kedua orang tadi tidak bisa dibayangkan. Kekuatanku saja mungkin tidak sebanding dengan nenekmu. Tapi, Dara sering bertemu dengan nenekmu entah saat kapan. Dan itu tandanya nenekmu bukan orang sembarangan." Anton menghentikan ucapannya.


"Gelang ini sepertinya sudah usang. Mungkin nenekmu bermaksud memberikannya pada Riana sewaktu masih kecil, namun keburu diusir oleh Han. Jadi dia terus membawanya dan berharap bisa memberikannya pada Dara. Dan ini tadi adalah kesempatannya." Anton kembali mengutarakan prediksinya.


"Baiklah, Paman. Ayo kita pulang. Kita bicarakan ini di rumah." ajak Galang. Mereka kemudian pulang ke rumah Jatmiko. Di dalam mobil, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


******


"Nenek, apa yang nenek lakukan? Lihatlah perlakuan Galang pada kita. Tidak seharusnya kita mengganggu kehidupan mereka." Diana mengomel setelah kembali ke sebuah pondok kecil di tengan perkampungan kumuh.


"Kenapa kamu cerewet sekali? Aku hanya ingin memberikan gelang itu pada putrinya Riana. Gelang yang belum sempat aku berikan pada Riana dulu. Aku senang sudah memberikan itu pada Dara." Jawab nenek juga tak kalah.


"Tapi nenek tidak perlu melakukan itu. Galang mungkin sangat tidak menyukainya." Diana lalu duduk di sebuah bangku tua.


"Galang anak yang baik. Dia hanya terkejut, ternyata Han bukan ayahnya Riana. Dia pasti sangat terpukul. Itu sebenarnya yang terjadi. Yang dia tahu, Riana adalah anak perempuan Han satu-satunya. Dan dua anak laki-laki Han adalah adik Riana. Jadi dia pasti tidak mudah menerima kenyataan ini." Kata nenek. Lalu dia merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang kayu tanpa kasur.


Mereka tinggal di sebuah pondok kayu dengan atap seng. Pondok mereka sangat tidak layak ditinggali. Namun Nenek Diah adalah orang yang sangat dihormati di perkampungan itu. Selain punya kemampuan beladiri dan tenaga dalam, Diah yang merupakan nenek dari Diana adalah orang yang suka membantu orang lain. Terutama mereka yang tertindas.


"Nenek, kenapa nenek tidak memperbolehkan aku membalas dendam pada Paman Han?" Tanya Diana tiba-tiba.


"Diana, kemampuanmu sangat hebat, kamu bisa mengalahkan ratusan musuh hanya dalam beberapa gerakan. Tapi jika kamu menganiaya orang lemah seperti pamanmu itu, maka kemampuanmu sama sekali tidak berarti. Bukankah Kakekmu pernah memberitahumu, bahwa kekuatanmu yang diwariskan kakek harus digunakan untuk menolong yang lemah? Bahaimanapun, Han adalah adik dari ayahmu. Kamu tidak boleh membalas dendam." Nenek Diah tersenyum masam.


"Dendam hanya akan merusak hatimu. Dan kamu selamanya tidak akan merasa tenang. Bukankah kamu sudah menceritakan yang sebenarnya pada Galang? Itu sudah cukup. Dan ketika dia percaya, artinya kamu sudah membalaskan dendammu pada pamanmu." Lanjut nenek.


Diana semakin memahami apa yang diucapkan oleh neneknya. Dia memang selalu ingin bertemu Galang dan menceritakan apa yang sebenarnya tentang dia dan Riana, adik kembarnya. Dan hari ini, setidaknya dia sudah melenyapkan satu batu yang selalu tersimpan dalam hatinya selama puluhan tahun.


Diana tersenyum. Wajahnya kini bisa menyunggingkan senyum yang sudah lama hilang. Sejak diusir paman dan bibinya 20 tahun lalu, walaupun itu adalah cerita dari nenek, namun dia merasakan kepahitan yang sangat dalam. Saudara satu-satunya yang dia punya tidak pernah bisa ditemuinya. Akhirnya nenek membawanya ke tempat ini dan tinggal bersama kakeknya yang miskin. Walau sempat sekolah sampai SMA, Diana sama sekali tidak ingin pergi dari tempat ini dan dia selalu bekerja sebagai tukang timbang di gudang barang bekas milik Pak Harun.


Pak Harun sangat menghormati kakek dan Neneknya. Jadi, Diana tidak pernah sekalipun dimarahi oleh Pak Harun walaupun sering melakukan kesalahan. Diana sebenarnya tidak enak hati pada Pak Harun. Namun dia tidak ada kemampuan lain selain pekerjaannya sekarang ini. Jadi dia selalu berusaha memperbaiki setiap kesalahannya. Kakeknya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Jadi dia kini hanya tinggal bersama neneknya.


Di pekerjaannya, Diana sebenarnya selalu tidak disukai oleh beberapa orang karyawan Pak harun. Mereka merasa iri dengan perlakuan Pak Harun pada Diana yang selalu baik. Seringkali Diana dijebak melakukan kesalahan agar dipecat oleh Pak Harun, Namun Pak Harun sama sekali tidak pernah marah padanya.


Hari ini dia libur kerja dan diajak oleh neneknya ke tempat pembuatan batu bata. Setelah dari sana neneknya mengajaknya pergi ke restoran Perancis tadi. Walaupun Diana tidak ingin, namun dia tidak bisa membantah keinginan neneknya. Neneknya langsung yang meminta izin pada Pak Harun pagi tadi.


Memikirkan hal itu, Diana tersenyum masam. Ya, neneknya menjadi alasan Pak Harun untuk selalu bersikap baik padanya. Padahal, dia juga tidak tahu hati Pak Harun sebenarnya. Akhirnya, mereka berdua tertidur lelap malam ini.


******


Pagi hari di gudang barang bekas


Diana datang kesiangan untuk bekerja. Entah kenapa, biasanya dia datang pagi-pagi sekali saat karyawan lain belum datang. Ketika dia sampai di sana, dia heran melihat banyak sekali orang berkerumun.


Diana mendatangi salah seorang temannya, "Jon, ada apa? Kenapa ramai sekali?" Tanya Diana penasaran.


"Oh, kamu datang terlambat? Biasanya kamu datang paling pagi." Orang yang dipanggil Jon malah tidak menjawab pertanyaan Diana.


"Iya, aku kesiangan. Ini ada apa?" Diana bertanya untuk kedua kalinya.


Jono menatap Diana yang berdiri tidak jauh di sampingnya. Dia heran, kenapa Diana sampai tidak tahu?


"Gudang ini sudah dijual. Dan pemilik baru sudah datang. Itu orangnya. Dia masih muda. Namanya Johan. Dengar-dengar dia belum punya istri. Dan ayahnya juga lumayan kaya. Siapa tahu kamu tertarik." Jawab Joni sambil memandang ke arah Diana.


"Apa yang kamu katakan? Jangan beromong kosong!" Diana tidak suka dengan gurauan Joni.


Setelah Berkenalan, Johan akhirnya menyuruh semuanya bekerja seperti biasa. Namun kali ini dia selalu memperhatikan Diana. Dia sepertinya tertarik pada kecantikan Diana yang alami.


Johan terlihat cukup tampan, Apalagi semuda itu sudah bisa memiliki bisnis yang cukup menjanjikan, tentu saja membuat para gadis-gadis ingin mengejarnya. Umur Johan sekitar tiga puluhan. Dia termasuk yang lambat menikah. Namun itu tidak membuat para gadis mengurungkan niat untuk mendekatinya.


Tapi Diana sama sekali tidak tertarik dengan Johan. Dia belum memikirkan masalah hatinya saat ini. Dia masih senang hidup bersama neneknya.


"Lili, tolong panggilkan Diana dan suruh ke kantorku." Perintah Johan pada Lili sekretarisnya.


"Baik, Pak!" Lili menjawab dengan agak kecut. Ada apa bos memanggil Diana ke kantornya?


Selang beberapa lama, Diana sudah memasuki kantor Johan diantar oleh Lili.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Diana setelah duduk. Lili pun keluar dari sana.


"Ah, Diana, jangan panggil saya Pak. Terdengar sangat tua. Kamu bisa panggil saya Kakak saja." jawab Johan. Matanya menyapu tubuh Diana dengan tatapan mesum. Johan yang bertubuh kerempeng itu lalu berdiri dan mengambil dua botol minuman dan memberikan satu pada Diana.


"Diana, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Johan tiba-tiba yang membuat Diana terkejut. Dia tidak menyangka akan ditanya seperti ini. Itu membuat Diana sangat tidak nyaman.


"Maaf, Pak..."


"Eit... Aku sudah bilang jangan memanggilku Pak, kan?" Sebelum Diana menyelesaikan ucapannya, sudah dipotong oleh Johan.


"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dan aku tidak perlu menjawabnya. Itu bukankah urusan pribadi? Saya di sini bekerja, dan seharusnya membicarakan masalah pekerjaan." Diana melanjutakan.


"Ini juga bagian dari pekerjaan, Diana. Terus terang, aku tertarik padamu. Jika kamu menjadi istriku, maka kamu bisa hidup lebih baik. Aku membeli Gudang ini karena ingin dekat dengan kamu." Johan berterus terang.


Diana membelalakkan mata. Jadi sebenarnya tujuan Johan membeli gudang barang bekas ini karena dirinya?


"Maaf, saya tida bisa. Dan saya belum memikirkan untuk  menjalin hubungan dengan siapapun." jawab Diana dan dia langsung berdiri dan berniat untuk pergi.


"Diana! Kurang apa aku ini? kamu selama ini hidup dalam kemiskinan, aku bermaksud mengangkat derajattmu agar hidup layak. Tapi kamu menolakku? Aku sudah tahu di mana kamu tinggal. Dan gubuk yang kamu tinggali bersama nenekmu itu sungguh tidak layak!" Suara Johan meninggi dan membuat beberapa karayawan di luar kantor mendengarnya.


Diana tidak peduli, dia lalu berjalan pergi dari kantor Johan. Johan mengejarnya dan berusaha meraih tangannya.. Diana terus berjalan dan melewati Lili. Tangan Johan berhasil meraih tangan Diana. Sebenarnya Diana bisa saja memcelakai Johan, namun Diana tidak melakukannya dan tidak ingin membuat keributan.


"Diana, aku benar-benar serius terhadapmu! Apa kamu benar-benar menolakku? Kalau kamu menolakku, maka kamu akan aku pecat. Dan kamu tidak akan bisa mendapat pekerjaan di manapun. Ingat itu!" Johan mengancam Diana lalu menghempaskan tangan Diana.


"Diana, kamu jangan sok cantik. Kamu harus sadar, kamu itu miskin. Bos Johan mau menikah denganmu itu sebuah kehormatan. Seharusnya kamu menghormatinya." kata salah seorang gadis teman Diana.


"Benar! Kamu mau cari yang seperti apa? Kamu cuma gadis miskin saja sok kepedean menolak orang!" Teriak teman lainnya.


"Itu urusanku! Kalian tidak perlu ikut campur. Kalau mau pecat ya pecat saja! Tidak perlu berbuat kasar!" Kata Diana ketus.


"Hari ini kamu dipecat!" Teriak Johan dengan emosi yang meledak-ledak. Tidak disangka dia akan ditolak oleh seorang gadis miskin. Padahal dia membeli Gudang ini hanya untuk mendapatkan Diana. Dan dia bermaksud memberikan Gudang ini pada Diana nantinya. Namun Diana justru menolaknya.


Johan yang sedang marah-marah lalu mengambil kursi plastik di dekatnya dan membantingnya.


Saat itu, Jatmiko dan beberapa pengawalnya diantar oleh satpam masuk dan melihat Diana. Orang-orang yang berada di ruangan itu sangat terkejut mengetahui yang datang adalah Jatmiko. Orang yang sangat ditakuti di kota S. Johan yang melihat Jatmiko lalu mendekatinya dan menyapanya. Namun Jatmiko mengabaikannya.


Jatmiko dan para pengawalnya pergi ke arah Diana lalu berlutut. Diana dan semua orang yang ada di tempat itu terkejut melihat Jatmiko berlutut. Mereka jelas tahu siapa Jatmiko. Johan yang melihat Jatmiko berlutut pada Diana menjadi sangat terkejut.


"Nona,, kami diutus Tuan Muda Galang untuk membawamu dan nenek." Kata Jatmiko dengan hormat. Orang-orang yang mendengar memanggil Diana dengan sebutan Nona makin terkejut


"Aku tidak mau!" Jawab Diana dengan cepat dan menolak.


"Nona, Jika Anda menolak kami, maka kami akan mendapat masalah yang besar." Jatmiko berkata sambil terus menunduk. Tidak berani menatap wajah Diana secara langsung.


Sebelum masuk ke area gudang, Jatmiko sudah memberitahu Rangga bahwa dia telah menemukan Nona dan neneknya. Jadi Rangga, Karmen, Galang dan Dara sedang dalam perjalanan kemari. namun, sebisa mungkin Jatmiko membujuk Diana agar dia tidak disalahkan.


Diana tetap pada pendiriannya dan menolak ajakan Jatmiko. "Aku tidak ingin merepotkannya." Kata Diana.


"Nona, Tuan Muda sama sekali tidak repot. Tuan Muda sudah mencari Anda sejak Anda meninggalkan restoran itu." Jawab jatmiko. Diana tertegun. Benarkah yang dikatakan Jatmiko?


Saat itu, di luar, belasan mobil mewah datang. Orang-orang makin terkejut dengan pemandangan itu. Para pengawal turun dan membukakan pintu. Saat itu dari dua mobil keluar  Galang, Rangga, Karmen dan Dara.


Diana tidak tahu harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Dia manatap bergantian Galang dan Dara. Ketika menatap Dara, dia teringat foto masa kecilnya besama Riana. Dara sangat mirip dengan Diana dan Riana kecil.


"Ibu!" Tiba-tiba Dara berteriak memanggil Diana dengan sebutan ibu. Diana tertegun. Matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat perih. memikirkan Dara yang tidak pernah tahu siapa ibunya.


Karmen yang melihat Diana sangat mirip dengan Riana, memberitahu Dara bahwa dia harus memanggilnya ibu. Kedua tangan Dara lalu diulurkan ke Diana. Dia minta Diana menggendongnya. Diana pun menangis. lalu dia mengambil Dara dari Karmen dan menggendongnya. lalu Diana mencium Dara.


"Ibu." Sekali lagi Dara memanggilnya ibu. Karmen lalu memeluk Diana.


"Diana, pulanglah bersama kami." Bisik Karmen di telinga Diana.