Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Bertemu Kapten Herry


Diana dan lainnya sudah tiba di kediaman Gubernur wilayah selatan. Rumah itu adalah rumah dinas yang disedikan khusus untuk Gubernur. Walaupun begitu, rumah itu hanya biasa saja.


Di negara Garuda, sudah bukan rahasia lagi, bagi pejabat negara, tidak ada yang diperbolehkan hidup mewah. Jika ketahuan korupsi, maka hukumannya adalah hukuman mati. Jadi setiap pejabat harus siap.hidup.sederhana dan hanya melayani kepentingan masyarakat saja.


Di aula yang besar tampak sudah berkumpul puluhan pejabat pemerintah. Mereka memang diundang untuk bertemu Diana. Selain itu, para pejabat itu tentu saja penasaran. Cerita dari Gubernur, Diana adalah seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun, namun sukses membawa beberapa perusahaan mencapai puncaknya. Bahkan termasuk perusahaan-perusahaan di provinsi kepulauan.


Saat Diana dan lainnya masuk, mereka yang ada di ruang tengah semuanya berdiri menyambut. Diana dan lainnya pun membungkuk hormat pada mereka semua.


Lalu, mereka akhirnya duduk. Rupanya malam ini adalah acara resmi. Jadi semua kegiatan sesuai dengan jadwal.


Seorang wanita cantik berdiri di podium. Dia membawa map berwarna keemasan, membukanya dan menyalakan mikropon.


"Selamat datang kepada Nona Diana, Nona Karmen, Nona Anita dan Nona Dara. Kami sangat menghargai kedatangannya atas undangan dari Gubernur wilayah selatan." Ucap wanita itu membuka acara.


"Mari kita dengar sambutan dari Gubernur!" Kata wanita itu lagi. Lalu hadirin berdiri dan bertepuk tangan.


"Baik, cukup! Ini tidak terlalu resmi, ya. Saya senang karena Nona Diana bersedia datang memenuhi undangan saya. Tadi saya dibisiki ajudan, katanya Nona Dara memesan ayam goreng dan sayur bayam, ya?" Gubernur memberi sambutan, namun selanjutnya menggoda Dara.


Dara menunduk malu saat semua orang menatapnya.


"Nona Dara jangan malu-malu, anggap saja ini rumah kakek, ya." Saat Gubernur mengatakan itu, Dara menilhat ke arahnya. Dia pun mengangguk. Dan, semua orang tertawa geli.


Aula itu adalah tempat terbuka di bagian samping kediaman Gubernur. Di sana tampak berjaga dari aparat keamanan.


Saat masuk, Diana seperti mengenal dua orang petugas keamanan. Dia mengingat-ingat.


"Karmen, aku mencurigai dua orang keamanan yang ada di sana, itu adalah orang-orang yang bertemu kita saat di bandara. Anita, ikuti perintahku, segera bawa Nona Dara saat aku memberi perintah dan masuklah ke dalam rumah." Kata Diana.


"Baik, Nona!" Jawab Anita.


Diana menoleh ke arah dua orang yang dia curigai. Saat itu, dua orang pria sudsh siap menembak.


"Dor! Dor!"


Terdengar suara tembakan. Dua peluru menuju. Dengan sigap, Diana segera menggerakan tangannya, dua peluru terkena senjata rahasianya dan jatuh di lantai.


Suanana berubah menjadi kacau. Tampak beberapa orang berpakaian serba hitam dengan topeng kain berwarna hitam sudah berada di sana. Mereka menembaki aparat keamanan.


"Selamatkan Gubernur!" Teriak Diana.


Ajudan dan beberpa polisi segera membawa gubernur memasuki rumah dinas. Sementara para pejabat bersembunyi di bawah kursi. Beberapa orang aparat sudah tewas terkena tembakan.


Anita sudah membawa Dara bersama Gubernur. Sementara Diana dan Karmen segera melompat ke arah orang-orang yang bersenjata itu. Diana melepaskan senjata rahasianya. Namun, orang-orang itu juga gesit, mereka bersembunyi di balik-balik dindiing dan meja yang dirobohkan.


Pihak kemanan dan para penyerah terlibat baku tembak. Dari gayanya, para penyerang ini memang sangat profesional. Mereka sudah terlatih untuk membunuh. Kemungkinan besar mereka adalah prajurit elit yang membelot dan menjadi oembunuh bayaran.


"Karmen! Awas!" Teriak Diana yang saatnitu melihat sebuah peluru melesat ke arah Karmen. Karmen segera menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali di lantai untuk selanjutnya beesembunyi di balik tiang penyangga aula. Saat berguling, Karmen berhasil mengambil senapan dari seorang prajurit yang tewas.


Saat itu Diana yang gesit sedang menghindari beberapa peluru yang mengarah padanya. Dia melompat ke arah datangnya peluru. Sedetik kemudian, dia sudah berhasil merampas senapan dari seorang pria bertato.


Tak menunggu sampai orang itu bereaksi, Diana langsung melumpuhkannya. Pria bertato itu pingsan dan segera diikat oleh Diana.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Diana melakukannya kepada lainnya. Dan akhirnya semua sudah dibuatnya pingsan. Semua tembakan sudah dihentikan. Ada banyak korban dari pihak keamanan. Saat itu suara ambulan dan mobil polisi terdengar.


Petugas medis segera membawa korban ke rumah sakit, sementara para penyerang segera diborgol. Menunggu mereka sadar, kapten polisi menemui Diana.


"Kapten Herry?" Panggil Karmen.


Ya, dia adalah Kapten Herry kawan lama Karmen di Kota PS. Saat itu, keduanya terlibat dalam aksi menyelamatkan sandera yang disekap di hotel milik Herlambang.


"Karmen?" Kapten Herry terkejut. Karmen lalu menyerahkan senapan pada anak buah Herry yang beesamanya.


"Kamu di sini?" Tanya Herry.


"Ini, Diana. Dia diundang Gubernur." Jawab Karmen mengenalkan Diana pada Herry.


"Oh namaku Herry." Kata Herry memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan pada Diana.


Diana mengulurkan tangannya, "Diana."


Saat itu Gubernur sudah keluar ketika dikabari bahwa semua oenjahat berhasil dilumpuhkan oleh Diana. Anita juga keluar bersama Dara.


Dara minta turun dari gendongan Anita dan segera berlari ke arah ibunya. Melihat di sana ada Kapten Herry yang dikenalnya dan seorang polisi, dara berdiri tegap ala bocil, lalu menghormat pada Herry. Herry yang melihat Dara menjadi senang. Diapun berdiri tegap dan memberi hormat.


"Hormat, Komandan!" Teriak Herry diikuti oleh anak buahnya. Setelah itu, Herry menggendong Dara. Dara tidak menolaknya.


"Terimakasih Nona Diana sudah menyelamatkan aku!" Kata Gubernur sambil membungkuk hormat.


"Tidak masalah." Jawab Diana sambil melambaikan tangan.


Para oejabat yang tadi bersembunyi juga sekarang sudah berdiri kembali. Mereka sangat kagum dengan yang dilakukan oleh Diana. Gadis yang masih muda dan cantik, kaya raya juga seorang yang sangat hebat.


Banyak wartawan yang sedari tadi meliput segera merangsek masuk dan ingin mewawancarai Diana. Namun Diana menolaknya. Dengan kecewa, akhirnya mereka hanya memotret saja.


Dara yang ada dalam.gendongan Herry minta turun dan menuju Diana. "Ibu, ayam goleng!" Katanya.


Dia mungkin saja lapar. Di saat suasana kacau, dia masih mengingat ayam goreng yang dipesan ibunya. Dara justru mencairkan suasana. Orang-orang di sana tersenyum geli melihat tingkah Dara


"Jadi....?" Kapten Herry yang mendengar Dara memanggil ibu pada Diana penasaran.


"Ceritanya panjang, Kapten. Lain waktu akan aku ceritakan." Jawab Karmen.


"Baiklah, kami berterimakasih atas bantuan kalian menangkap para penjahat itu." Kata Kapten Herry.


"Tidak masalah." Jawab Karmen.


"Bawa mereka semua!" Teriak Kapten Herry dan beberapa polisi segera membawa para penjahat ke dalam mobil tahanan.


Herry menoleh ke arah Dara, berdiri tegao dan menghormat, "Kami pergi dulu, Komandan!" Teriak Herry.


Dara berdiri tegap lalu menghormat. Tingkahnya ini membuat semua orang tertawa. Lucu sekali. Dan di balik kekacauan ini, ada orang yang menginginkan kematian gubernur. Entah apa tunuannya, semua akan terjawab jika Kapten Herry berhasil mendapatkan informasi dari para tahanan.