
Diana masih di panggung, Rangga masih menunggu Diana untuk turun, dia akan membantunya agar tergindar dari desakan pengunjunga yang ada di dekat tangga.
Sementara Sanjaya yang saat itu sudah berdiri, memegang mikrofon dan berjalan ke tengah panggung. Walau dia terluka, namun dia kini tersenyum. Wajahnya pun secerah matahari.
"Hari ini kita bersyukur ada Nona Diana yang sangat hebat! Tanpa Nona Diana, acara ini akan sangat kacau. kalian sudah lihat spanduk yang terpasang, Nona Diana ini adalah ibu dari Nona Dara. Saat ini, Tuan Muda Galang tidak bisa bersama kita karena ada urusan sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Jadi, mewakili Tuan Muda Galang adalah Nona Diana dan Nona Dara!" Suara Sanjaya terhenti dan tepuk tangan dari pengunjung sangat meriah sambil meneriakkan Nona Diana dan Nona Dara.
Beberrapa menit kemudian, Sanjaya mengangkat tangan, dan teriakan-teriakan serta tepuk tangan pengunjung pesta berhenti, "Tuan Muda Galang, Nona Diana dan Nona Dara adalah penguasa sebenarnya di Kota Pulau, kalian semua harus berteimakasih pada mereka karena saat ini, kalian bekerja di perusahaan mereka dan kalian digaji oleh mereka!" Sanjaya mengentikan ucapannya, pengunjung saling pandang dan akhirnya tepuk tangan kembali bergemuruh, teriakan-teriakan sukacita memenuhi seantero alun-alun.
"Baiklah, pesta akan segera dimulai, kalian semua boleh makan apa saja di tempat yang sudah disediakan nantinya. Dan acara ini akan dibuka oleh Gubernur Wilayah Kepulauan!" Sanjaya menyudahi ceramahnya. Lalu dia turun bersama Diana dan Rangga. Teriakan-teriakan ke Diana seketika bergemuruh lagi..
Pesta berjalan sangat meriah dan lancar tanpa ada halangan lagi. Semua pengunjung sangat menikmati panggung hiburan. Apalagi mereka juga dihibur oleh beberapa artis penyanyi dari ibukota yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara.
Acara itu juga disiarkan langsung oleh televisi lokal. Jadi bagi rakyat yang tidak bisa datang, mereka bisa menontonnya di rumah melalui saluran televisi lokal. Di akhir acara, MC mengumumkan bahwa Nona Diana, Nona Dara, Nona Karmen dan Tuan Rangga akan kembali ke Kota S pada esok hari.
******
Pagi itu di rumah Sanjaya sangat ramai rakyat berkerumun, mereka ingin mengantar para pahlawan mereka meninggalkan Kota Pulau. Sebenarnya Sanjaya menyarankan mereka agar diantar dengan jet pribadi, namun Diana menolak. Dia ingin naik kapal saja dan menumpang sebuah kapal barang milik perusahaan Galang.
Kapal itu kebetulan sudah ada di pelabuhan dan siap berangkat. Sanjaya sendiri yang menghubungi kapten kapal agar mereka menunggu pelabuhan setelah mengangkut muatan dari Pulau lain yang akan dibawa ke Kota S.
Mengetahui akan naik kapal, Dara meminta pada Diana agar memakai pakaian yang semalam dia kenakan. Dia akan menjadi kapten. Merekapun bersiap akan berangkat dan keluar dari pintu. Saat itu, Melisa dan Merry berlari dan tiba-tiba berlutut di depan Diana. Semua orang terkejut dengan yang mereka lakukan.
"Nona Diana, kami mohon maafkan kami atas kelancangan kami!" Yang bicara adalah Merry, wajahnya dan wajah Melisa pucat. Mereka berdua sangat kletakutan.
Kepala keluarga yang melihat kelakuan istri dan anaknya sangat terkejut dan mendatangi mereka. "Ada ap[a ini?" Tanyanya penasaran.
"Aku dan Melisa telah salah pada Nona Diana." Suara Merry menjadi sangat pelan. Dia tidak berani menegakkan kepala, apalagi memandang ke atas.
"Apa yang telah kalian lakukan pada Nona? Kesalahan apa yang telah kalian lakukan? Apa kalian mau menvcelakai keluarga kita?" Tanya Kepala keluarga lalu dia pun jatuh terduduk. Dia tahui, mereka pasti akan dihukum oleh Nona Diana. Kepala KLeluarga pun memandang mereka dengan amarah yang sangat besar.
"Paman, bangunlah!" Terdengar suara Diana yang lembut. "Paman tidak bersalah, biarkan mereka akan aku hukum. Sementara Paman tidak perlu ikut campur."
"Kalian berdua, mulai hari ini dan sampai tiga bulan penuh, kalian aku hukum menjadi petugas kebersihan di pelabuhan." Kata Diana.
"Paman Sanjaya!" Panggil Diana.
"Awasi mereka berdua dan jangan ada yang pernah memberi mereka waktu istirahat mulai dari pagi sampai sore. Mereka boleh beristirahat hanya saat makan siang saja." Perintah Diana. Diana memandang mereka berdua tanpa rasa ampun.
"Baik, Nona! Perintah Nona akan dilaksanakan. Siapapun yang membangkang akan dihukum berat!" Tambah Sanjaya.
"Kalian berdua, jika kaliam keberatan, maka kalian boleh pergi dari Kota Pulau dan jangan pernah kembali lagi. Tetapi kemanapun kalian pergi, kalian tidak akan mendapat tempat. Kalian pilih yang mana?" Tanya Diana kemudian.
"Kami memilih menjadi petugas kebersihan di pelabuhan, Nona Diana!" Melisa buru-buru menjawab.
"Paman, Anda orang baik, Jika kami datang lagi nanti, aku berharap mereka berdua telah menjadi orang baik, tidak mengandalkan kedudukan untuk menindas dan mengintimidasi orang lain." Kata Diana pada Kepala Keluarga.
Aku berjanji akan mendidik mereka dengan keras, Nona." Kepala keluarga lalu memberi kepuitusan. Dia sangat malu saat ini dengan apa yang telah dilakukan istri dan anaknya pada Diana. Untung saja Diana tahu membedakan kelakuan.
Diana berpikir, bahwa harus ada tindakan tegas agar tidak terjadi pada orang lain lagi.
"Umumkan di seluruh kota, bahwa siapapun dengan pangkat dan kedudukan menindas orang yang lemah, akan dihukum berat!" Diana mempertegas keputusannya.
Mendengar itu, semua yang hadir ketakutan sekaligus memujio tindakan Nona Diana. Mereka [pun berjanji pada diri sendiri akan bekerja dengan baik dan berbuat baik pada sesama.
"Perusahaan dibuat untuk mensejahterakan seluruh karyawan, bukan hanya atasan. Jadi tidak ada satupun yang boleh bertindak arogan menggunakan jabatan." Diana kembali bicara.
Sanjaya sangat takjub dengan ketegasan Diana. Dia lebih tegas dari yang Sanjaya bayangkan. Karmen dan Rangga juga memuji ketegasan Diana. Dia tidak menggunakan kekuasaan untuk membuat Melisa dan ibunya. Jika mau, maka sejak awal Diana bisa membuat mereka berdua hancur.
Memang di samping Galang harus ada yang berani bertindak tegas. galang sendiri sangat lemah soal tindakan. Dia lebih banyak mengalah. Namun jika ada yang berani menyentuh teman-temannya, maka Galang akan membelanya dengan nyawanya.
Berbeda dengan Diana, Dia bisa tegas dan sangat berwibawa. Diana bisa mewakili Galang dalam soal ketegasan.
Diana memang gadis yang cantik, terlihat tidak sekeras itu. Namun, tadi malam adalah bulti dari tanggung jawabnya. Mengambil tanggung jawab Galang dengan nyawanya. Jika Diana kalah, maka mungkin saja dia akan kehilangan nyawanya.
Namun tindakannya yang bertanggung jawab pada sahabat dan keluarganya menuai pujian dari banyak kalangan.
Secara pribadi, banyak direktur perusahaan Galang yang memuji kehebatan Diana dalam.mengambil tanggung jawab.
Apalagi rakyat jelas menanti seorang pemimpin yang bertanggung jawab, tegas, walau dia juga lemah lembut. Diana adalah orang yang tepat.