Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pertemuan Mengharukan


"Kamu bukan orang sini, ya?" Tanya Cintya.


"Eh..." Galang terkejut.


"Kenapa kamu suka sekali terkejut? Kamu darimana? Kamu terlihat asing di sini." Tanya Cintya lagi.


"Aku dari Kota S." Jawab Galang asal-asalan.


"Aku pernah mendengar Kota S. Dulu aku ingin kuliah di sana, tapi paman dan bibi melarangku. Andai saja ayahku ada, pasti aku bisa kemanapun bersamanya." Wajah Cintya berubah sedih.


"Maaf, ayahmu memangnya kemana?" Tanya Galang berempati.


"Kata pamanku, ayah sedang diberi tugas melindungi Tuan Muda keluarga kaya. Jadi sejak kecil, aku dan ibuku ikut paman di pulau ini." Cintya makin sedih.


Galang juga merasakan kesedihan Cintya. Dia juga malah lebih dari Cintya, sejak kecil dia sudah tidak tahu wajah ayah dan ibunya, Galang antara ingat dan tidak. waktu itu dia masih berumur sekitar empat tahunan.


"Kamu mau tidak mengantarku jalan-jalan keliling pulau? Kebetulan aku membawa mobil." Galang mengubah topik pembicaraan. Cintya pun tampak senang mendengar ajakan Galang.


"Baik, aku akan mengantarmu kemanapun kamu pergi. Nanti kamu juga harus antar aku pulang, ya." Cintya tentu saja setuju. Sejak bertemu Galang, dia sudah menyukainya. Dia senang melihat seorang pemuda yang biasa saja. Dan bisa bebas. Dia ingin seperti Galang, pergi kemanapun. Namun jelas bahwa ibu, bibi dan paman tidak akan menyetujuinya.


Setelah galang membayar makanannya, mereka pun keluar dari restoran.


"Ini mobilku, ayo naik" Ajak Galang.


"Wah, mobilmu keren sekali. Kapan aku bisa punya mobil sekeren ini? Pasti sangat menyenangkan." Cintya malah mengelilingi mobil dan tidak segera naik.


Setelah naik, merekapun akhirnya berangkat.


"Apa kamu menyukai mobil ini?" Tanya Galang.


Cintya malu-malu, namun dia tidak bisa menyembunyikan bahwa dia sangat menyukai mobil ini.


"Kalau kamu menyukainya, aku akan memberikannya padamu. Tapi kamu harus mengantarkan aku jalan mengelilingi pulau ini dulu." Kata Galang.


Cintya yang tidak percaya, lalu berkata, "Jangan bercanda, ah. Kamu suka sekali bercanda." Kata Cintya sambil cemberut.


"Aku tidak bercanda. Surat-surat mobil ini ada di belakang." Kata Galang dengan wajah serius.


Cintya tidak bisa menahan kegembiraannya. Tiba-tiba dia mencium pipi Galang. Galang terkejut lalu dia oleng, tapi bisa dikendalikan. Wajah Cintya berubah merah. Dia malu sekali.


"Maaf!" Lalu Cintya menunduk. Galang memperhatikan wajah Cintya yang memerah karena malu. Dia pun menggelengkan kepala dan tersenyum masam.


"Ada apa?" Tanya Galang dengan tersenyum.


Cintya masih menunduk dan menyesali yang dia lakuikan. "Kamu pastri menganggapku murahan."


"Tidak, kamu jangan kuatir." Kata Galang meyakinkan.


"Singguh?" Tanya Cintya belum yakin.


"Iya!" Sekali lagi Galang meyakinkan Cintya. Cintya memandang Galang dan btersenyum.


"Sebaiknya kita mampir di kuil. Kita berdoa di sana." kata Cintya. Galang pun mengangguk.


Mereka pun ke kuil, berdoa, lalu kembali melanjutkan mengelilingi pulau sampai sore hari dan Galang mengantarkan Cintya pulang.


Mereka sudah sampai di sebuah rumah yang besar dan megah, Bangunan ala barat itu dindingnya dilapisi batu marmer berwarna putih dengan kombinasi biru tua di bagian pilarnya. Bangunan dua lantai itu selain ukurannya yang sangat besar juga dilengkapi dengan taman yang luas. Danau buatan, jurang buatam dan berbagai hiasan di halaman yang membuat rumah itu semakin indah.


Setelah memasuki halaman dan memarkir mobil, mereka berdua akhirnya masuk. Cintya tanpa malu-malu menggandeng tangan Galang. Dia merasa sangat akrab dengan Galang.


"Paman, Kakek, Nenek?" Galang terkejut saat melihat Anton, Kakek Li dan nenek Diah berada di sana.


"Kenapa kalian di sini?" Tanya Galang.


Di sana juga ada Dion yang memang menunggu kedatangan Cintya. "Bibi, itu gembel yang aku ceritakan tadi." kata Dion sambil menunjuk Galang.


Anton, Diah dan Li Hao menoleh ke arah Dion. Mereka heran dengan pemuda itu. Bagaimana mungkin seorang terpelajar bisa mengucapkan kaliamat begitu?


"Bibi, dia adalah Galang. Tadi aku diajaknya mengelilingi pulau dan aku minta dia mengantarku pulang." Ujar Cintya membela diri.


"Duduklah, Cintya!" Kata Bibi Mei yang membuat wajah Cintya cemberut.


"Kamu juga duduklah!" Bibi Mei juga menyuruh Galang duduk. Galang lalu mengambil tempat duduk di samping Cintya yang kebetulan kosong. Sementara di samping Cintya yang lain adalah seorang pemuda yang cukup tampan. Cintya berbisik-bisik padanya. Terlihat pemuda itu terkejut setengah tidak percaya. Mereka berdua saling berbisik.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Bibi Mei. Keduanya lalu diam dan kembali duduk dengan tenang. Galang hanya melirik mereka berdua dan tersenyum masam.


"Cintya, ada yang ingin ibu bicarakan padamu. Kamu tahu, kamu masih memiliki seorang ayah. Ayahmu adalah pelindung Tuan Muda keluarga Bintang." Kata Wanita paruh baya yang terlihat cantik.


"Apa maksud ibu?" Tanya Cintya penasaran. Wanita itu adalah ibunya Cintya. Wanita itu terlihat menitikkan air mata. Cintya tidak beranio memandangnya. Jantungnya berdegub kencang. Dia tidak ingin mendengarnya. Jangan ada kabar buruk, tolonglah. Gumamnya dalam hati.


"Cintya, Dia adalah ayahmu, Nak." Kata wanita itu sambil menunjuk ke arah Anton.


Di antara mereka, yang sangat terkejut adalah Cintya dan Galang. Cintya lalu memandang Anton, Bibirnya bergerak-gerak menahan gejolak hatinya. Benarkah dia ayahku? Katanya dalam hari. kemudian diapun berdiri, berlari ke arah Anton yang sudah berdiri sejak tadi. Lalu Cintya menghambur ke pelukan Anton.


Cintya menangis sekeras-kerasnya. Antara bahagia, sedih dan juga penasaran. Namun, dia memang sangat merindukan ayahnya. Dia sudah menanyakannya sejak kecil. Dan selalu mendapat jawaban yang sama sampai hari ini, dia benar-benar bisa memeluk ayah yang sangat dirindukannya.


"Ayah!" Panggil Cintya masih memeluk dengan kuat ayahnya.


"Ini ayah, Nak. kamu sudah besar sekarang dan menjadi gadis yang sangat cantik. Maafkan ayah yang tidak bisa selalu menemanimu." Anton ikut menngis, tangisan bahagia. Anak yang dirindukannya kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga berbakti.


Galang yang sedari tadi terbengong, kini malah ikut bahagia, Anton yang selama ini selalu ada bersamanya, ternyata memiliki keluarga. Betapa jahatnya ayahnya menyuruh Anton meninggalkan keluarganya demi dirinya.


"Paman!" Galang yang masih penasaran mencoba mendapat jawaban cerita masa lalunya. Anton melambaikan tangannya. Galang pun mengerti.


Setelah sekitar setengah jam, akhirnya mereka pun kembali disibukkan dengan berbagai obrolan. Galang memberikan kunci mobil pada Cintya sesuai janjinya.


"Ayah, Galang memberikan mobilnya padaku." Kata Cintya saat menerima kunci mobil dari Galang.


Anton tersenyum, "Cintya, Josh, Galang adalah kakak kalian. Beri salam padanya!"


Baik Cintya dan Josh sangat terkejut. Mereka berdua baru tahu kalau mereka memiliki seorang kakak.


"Galang adalah Tuan Muda yang ayah lindungi sampai hari ini. Jika tanpa ayah, mungkin Galang sudah tidak ada di dunia ini." Kata Anton lagi.


Sebelumnya, Anton sudah menceritakan perihal Galang pada David, Mei istri David dan ibunya Cintya. Jadi ketika Galang masuk rumah dan melihat wajah galang yang mirip dengan Bintang, mereka tahu bahwa itulah Galang yang selama ini dilindungi oleh Anton.


"Josh, Cintya, beri salam pada kakak kalian!" Yang biocara adalah Bibi Mei.


"Salam kakak." Cintya dan Josh memberi salam pada Galang. Galang tersenyum.


"Salam Bibi berdua, salam Paman!" Kali ini Galang memberi salam pada kedua bibinya dan paman David.


"Galang, kamu sudah dewasa, Nak." Ujar Bibi Mei lalu memeluk Galang.


"Galang, Bibi Mei adalah adik kandung ayahmu." kata David.