Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Reuni


Sepulang dari bank, Galang dan Naomi tidak langsung pulang. BNaomi mengajak Galang pergi ke restoran yang tak jauh dari bank tadi.


"Kakak, aku akan mentraktirmu makan." Kata Naomi.


"Baiklah, makan gratis siapa takut?" Jawab Galang.


Lalu mjereka berdua pun menuju ke restoran, ketika mobil mereka akan parkir, mereka berdua melihat seorang wanita berusia empat puluhan sedang dikejar oleh beberapa pria besar. Wanita itu memasuki sebuah mobil mewah dan buru-buru meninggalkan restoran. Saat berpapasan dengan Galang, wanita itu sempat melihat ke arah Galang karena kaca jendela mobil terbuka.


Wanita itu seperti sedang diintimidasi dan meminta pertolongan. Galang menoleh ke arah Naomi. Naomi pun mengangguk. Saat itu, dua mobil tampak sedang mengejar mobil wanita tadi. Galang pun segera memutar mobilnya dan mengejar wanita itu.


"Naomi, apakah kamu mengenal wanita itu?" Tanya Galang.


"Aku tidak mengenalnya, Kakak." Jawab naomi.


"Lalu kenapa kamu tadi mengangguk?" Tanya Galang lagi.


"Aku pikir Kakak minta persetujuanku untuk menolong wanita tadi." Jawab Naomi yang juga tidak tahu maksud dari Galang.


"Hmmmm.... Baiklah, kita akan menolongnya. Sepertinya wanita itu memang butuh pertolongan." Kata Galang kemudian. Galang pun mempercepat laju mobilnya agar tidak tertinggal.


"Kakak, lihat! Sepertinya mobil wanita itu akan masuk tol." Naomi menunjuk ke arah mobil wanita itu, dua mobil pengejarnya pun terus mengiklutinya.


"Bahan bakar mobil kita tidak akan cukup kalau tidak isi dulu." Kata Galang sambil menunjuk ke arah monitor bahan bakar yang terlihat berkedip.


"Tenang saja, Kak. Tak jauh dari pintu tol, ada pengisian bahan bakar. Kita bisa isi di sana nanti." Jawab Naomi.


"Baik, jangan sampai kehilangan jejak." Galang pun kini fokus pada dua mobil pengejar. Setidaknya dia tidak akan kegilangan jejak dua mobil yang mengejar.


Setelah memasuki tol, Galang pun terus melaju. Dia ingin segera mengisi bahan bakar agar tidak sampai kehabisan di tengah jalan.


******


Siang itu Diana sedang mengendarai sepeda listriknya menuju reuni teman sekelas. Undangan diberikan oleh ketua kelas yaitu Jimmy. Kebetulan hati itu adalah hari minggu dan Jimmy libur kerja.


Diana berpesan agar Jimmy bersikap biasa saja dan tidak perlu membelanya jika teman sekelas yang biasa membullynya akan kembali membullynya.


Ratih dan Evi tidak ikut karena memang mereka bukan teman sekelas. Tapi jangan lupa, duduk di jok belakang, ada Dara yang sangat antusias ikut bersama Diana.


Awalnya Karmen membujuk agar Dara tidak ikut. Namun Dara sedang senang naik sepeda listrik. Dia sangat penasaran, itu adalah kendaraan, tapi tidak ada bunyi mesin seperti kendaraan lain. Sementara jika sepeda, maka akan ada pedal untuk mengayuh seperti milik kakeknya di Kota B.


Dara sebenarnya ingin sekali mencobanya, tapi pasti ibu dan bibi Karmen tidak akan mengizinkannya. Tapi, dia sudah bertekad, jika dia audah setinggi ibu, pasti dia akan membelinya sendiri.


Diana mengendarai sepeda listrik dengan santai dan.pelan. Kareana dia membawa Dara.


Setelah perjalanan sepuluh menit, akhirnya Diana dan Dara sampai di sebuah restoran Jepang. ini adalah kompleks restoran Dara Shinta Food.


Diana pun memarkirkan sepeda listriknya. Lalu menurunkan Dara dan mengajaknya masuk restoran. Dara merasa sangat senang, karena tiap kali ke restoran, selalu naik sepeda listrik. Dan dia akan sering-sering pergi sama ibunya menggunakan sepeda listrik.


Mereka pun akhirnya masuk ke ruangan khusus yang sudah dipesan sebelumnya. Sebenarnya Diana merasa tidak enak karena Dara ikut, tapi Karmen sudah membujuknya dan Dara benar-benar ingin ikut.


Saat itu di ruangan, sudah ada banyak teman sekelas Diana yang hadir. Diana tidak melihat Melisa hadir. Dia tersenyum, bukankah Melisa sedang menjalani hukuman darinya? Melisa memang sedang dihukum oleh Diana untuk menjadi perugas kebersihan di Pelabuhan Kota Pulau.


Memikirkan hal itu, Diana jadi tidak enak hati. Tapi memang Melisa harus diberi pelajaran agar tidak melakukan kesalahan lagi.


"Teman-teman, apakah Melisa kalian undang? Aku tidak melihatnya?" Tanya Tiwi, seorang gadis dengan tubuh yang seksi. Pakaian yang dikenakannya sangat ketat dan membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.


"Aku sudah menghubungi Melisa, dia tidak bisa datang. Dia tidak diizinkan oleh ayahnya." Jawab Jimmy.


"Diana, apa kamu sudah punya anak?" Tiwi mengalihkan pembicaraan.


"Reuni kok bawa anak, apa kamu tidak malu?" Tanya Tiwi lagi.


"Tiwi, apa maksudmu bertanya begitu?" Yang bicara adalah Jimmy.


"Ketua kelas, aku tidak bertanya padamu kenapa kamu yang menjawab?" Tiwi kesal.


"Iya, ini anakku. Kenapa aku harus malu? Lihatlah anakku sangat cantik." Jawab Diana.


"Hei, Diana, di mana Suamimu?" Kali ini yang bertanya adalah Susi. Susi ini dari gengnya Tiwi. Dulu di kelas, mereka memang sering bergerombol, kalau ada Tiwi pasti ada Susi dan Melisa..


Ketiganya selalu membully Diana. Diana saat sekolah memang miskin, apalagi Kakeknya memang bukan orang kaya. Jadi wajar saja jika Diana miskin. Tapi, walaupun begitu, prestasi akademik Diana adalah nomor satu. Dan di bidang olahraga, Diana pernah beberapa kali menjadi juara atletik wanita.


"Ayahnya sedang ke Malaka, ada urusan." Jawab Diana santai.


"Gaya amat ke luar negeri. Memangnya ada urusan apa?" Tanya Tiwi mulai menunjukkan kekuatan.


"Bukan urusanmu." ajwab Diana.


"Wah, kamu mulai berani, ya?" Tanya Tiwi menahan kekesalannya. "Kamu dulu sangat miskin, sampai-sampai untuk biaya sekolah mengajukan beasiswa prestasi. Haha!"


Diana hanya diam saja. Dia memang sudah hafal dengan Tiwi, Susi dan Melisa. Dan dia benar-benar sudah kebal dengan itu.


"Diana, kamu tahu tidak? Tiwi ini, pacarnya adalah keponakan Tuan Herman, Dirut Dara Shinta Food. Restoran ini di bawah kekuasaan Tuan Herman." Susi mencoba memamerkan sesuatu.


"Tuan Herman sepertinya aku mengenalnya dengan baik." Jawab Diana.


"Kamu apa pantas mengenal Tuan Herman yang sangat kaya itu? Hahaha." Susi kembali mengolok Diana.


Saat itu pintu ruangan terbuka, masuk seorang pemuda dengan dandanan yang mencolok pakaian lengkap semua berwarna biru tua. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan rambut seperti bekas tertumpah minyak. Sangat kelimis. Tubuhnya tinggi dan memakai kacamata berwarna hitam kemerahan.


"Syang, kamu sudah datang?" Terdengar suara Tiwi, lalu Tiwi pun menyambut orang muda itu.


"Apakah aku terlambat?" Tanya pemuda itu. Matanya tertuju oada Diana yang sangat cantik. Dia menjilati bibirnya. Tapi Diana sama sekali tidak melihat ke arahnya.


"Tidak, tidak! Acara juga belum dimulai." Jawab Tiwi.


"Ayo, aku kenalkan pada teman-temanku." Ajak Tiwi, lalu dia memperkenalkan satu per satu teman-teman sekelasnya. Namun, Diana dia lewatkan.


"Kenapa dia tidak kamu kenalkan padaku?" Tanya pemuda itu.


"Dia tidak penting, hanya orang miskin yang numpang makan saja." Jawab Tiwi.


Diana pun hanya tersenyum masam.


"Teman-teman, dia adalah pacarku, namanya Toni, dia adalah keponakan Tuan Herman, Bos di Dara Shinta Food." Kata Tiwi.


Toni tampak menyilangkan tangan di dada dengan sombong.


"Teman Tiwi adalah temanku juga. Kebetulan restoran ini akan menjadi milikku, pamanku yang memberikannya padakau." Kata Toni membual.


Saat mendengar bualan Toni, Diana pun tersenyum masam. Memangnya dirut adalah pemilik restoran?