
Satu minggu perjalanan, kapal Galang sudah sampai di Pulau Bintang. Pulau milik ayah Galang ini memang memiliki keunikan tersendiri. Semua penduduknya adalah orang-orang yang duku dibawa Bintang untuk tinggal di sini puluhan tahun yang lalu.
Saat menjelang kematiannya, Bintang menyuruh David untuk pergi ke Pulau Bintang dan mempertahankan pulau juga asetnya.
Sejak itu, David tidak pernah pergi kemanapun. Dalam wasiat Bintang, David hanya disuruh menunggu Galang. Saat Galang kemari, maka David hanya tinggal menunggu perintah Galang sebagai pewaris dari Bintang.
"Paman, bersiaplah berangkat ke Kota S." Kata Galang saat berkumpul di meja makan.
Malam itu, David menjamu Galang dengan makanan laut yang lezat. Ada banyak makanan terhidang di meja, semuanya terasa lezat dan menumbuhkan rasa lapar.
"Baiklah. Kapan kita berangkat?"David bertanya.
"Kita akan berangkat secepatnya, Paman. Tapi tidak oerlu terburu-buru. Aku akan mengatur semuanya. Diana akan menyiapkan rumah untuk kalian di Kota S dan semuanya akan baik-baik saja." Kata Galang.
"Josh!" Panggil Galang.
"Ya, ada apa Galang?" Jawab Josh.
"Akan ada beberapa kejadian luar biasa ke depan, aku ingin kamu ikut Guru Galuh untuk berlatih beladiri." Kata Galang.
"Aku tentu saja mau." Jawab Josh.
"Guru Galuh!" Panggil Galang.
"Tuanku!" Jawab Guru Galuh.
"Bagaimana denganmu? Apakah kamu bisa melatihnya?" Tanya Galang.
"Tentu saja, apalagai Tuan Josh sudah ada bekal, bukankah saya tinggal meneruskan saja?" Jawab Guru Galuh.
"Bibi Mei, Paman David, apakah boleh?" Tanya Galang.
"Tentu saja, Galang. Yang kamu lakukan tentu saja yang terbaik untuk Josh." Jawab Bibi Mei.
"Aku ingin kita semua baik-baik saja ke depannya. Aku ingin kalian semua pindah ke Kota S dan menetap di sana." Kata Galang.
"Bagaimana dengan Pulau Bintang?" Tanya David.
"Paman tenang saja, aku akan memerintahkan orang-orang dari Klan Harimau untuk menjaga Pulau Bintang. Aku juga akan melindungi Pulau Bintang dengan kekuatanku." Jawab Galang.
Mereka pun makan dan tidak bicara lagi. Di antara mereka, Cintya adalah orang yang paling bersemangat. Dia sudah lama ingin pergi dari pulau dan menikmati luasnya dunia.
"Galang, apakah aku bisa bekerja di sana?" Tanya Cintya.
"Kenapa harus bekerja?" Tanya Galang.
"Aku ingin seperti Diana yang diceritakan Ayah. Dia sangat hebat kata ayah." Jawab Cintya.
"Oh, nanti kamu bisa bicara pada Diana. Pasti ada pekerjaan yang cocok untukmu di beberapa perusahaannya." Kata Galang lagi.
Mata Cintya berbinar. Dia menjadi penasaran tentang Diana. Dia sebenarnya gadis seperti apa?
*******
Pulau itu tidak terlalu besar, namun, di tengah pulau ada bangunan mirip istana yang megah. Istana itu dicat berwarna merah darah dikombinasi dengan warna hitam. Ada benteng di sekeliling istana itu dengan gerbang yang sangat kuat.
Di luar istana tampak banyak sekali penjaga yang bersenjatakan tombak dan pedang. Pakaian mereka semuanya berwarna merah dan mereka mengenakan sejenis baju besi. Di gerbang utama di bagian atas, ada gambar tiga tengkorak manusia yang sejajar. Di bagian mata hidung dan mulut tengkorak-tengkorak itu dicat warna merah.
Sementara di dalam istana, seorang wanita berumur tujuh puluh tahunan tampak duduk di sebuah kursi dari emas. Di samping kiri dan kanan wanita itu sekitar sepuluhan orang duduk di kursi dari kayu ukir.
Sementara puluhan prajurit berdiri sejajar di kiri dan kanan ke arah pintu masuk. Mirip dengan sebuah aula raja tempat pertemuan raja dan para bawahannya.
Di tengah antara prajurit, tampak empat orang sexang berlutut dengan kepala menunduk.
"Jadi, anak itu berhasil mengalahkan Bai Lang? Namanya Galang, kan? Bukankan itu nama yang sama dengan anaknya Bintang?" Wanita tua itu bertanya-tanya setelah mendapat laporan soal dikalahkannya Bai Lang.
"Benar, Guru! Namanya Galang, dia sangat kuat dan dia memiliki jurus Tujuh Bayangan Naga." Jawab seseorang yang sesang berlutut.
"Kalau memurut yang aku dengar, Galang itu orang dari negara kita. Dia tinggal di Kota S." Lanjut pria lain yang sedang berlutut.
"Rao, apakah ada orang kita di Kota S? Suruh mereka menyelidiki orang yang bernama Galang!" Kata wanita itu pada aeorang pria yang dipanggilnya dengan nama Rao.
"Tidak ada, Guru. Tapi aku akan mengutus beberapa orang untuk penyelidikan. Secepatnya akan memberi kabar." Jawab pria dipanggil Rao.
Ini adalah markas Kelompok Hantu Merah. Berada di pulau yang tak terlalu besar dan tak jauh dari ibukota. Namun punya kekuatan di Ibukota. Pemimpinnya adalah seorang wanita dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.
Nama perempuan itu adalah Rara Siani. Dia adalah mahaguru dari kelompok Hantu Merah yang saat ini sudah merajalela di ibukota setelah hampir dua puluh tahun membangun kekuatan.
Seperti diketahui, Kamar Dagang sudah dipegangnoleh orang-orang dari Kelompok Hantu Merah.
"Baiklah, Kamu yang bertanggung jawab untuk membunuh anak itu! Aku tidak ingin ke dwpan ada masalah!" Kata Rara Siami dengan keras.
******
Tiga Hari Kemudian Di Pulau Bintang.
"Tuan Muda, semua barang sudah masuk ke kapal. Kita sudah siap berangkat." Kata Kapten Thomas di seberangbtelepon memberi laporan.
"Baik, Kapten! Kita akan berangkat malam ini juga. Beritahu seluruh kru." Jawab Galang. Lalu mematikan panggilan.
"Paman, David! Apakah masih ada barang yang akan dibawa?" Tanya Galang.
"Tidak ada, Galang. Semua sudah dibawa ke kapal." Jawab David.
"Paman, Bibj. Apakah kalian berat meninggalkan Pulau Bintang? Aku minta maaf." Galang terlihat bersedih. Mengingat David, Mei dan lainnya sudah lama di pulau ini. Mungkin saja mereka berat untuk pergi.
"Apa yang kamu katakan! Kami justru senang karena bisa ikut denganmu ke Kota S." Jawab David.
"Iya Galang, aku juga ingin melihat cucuku." Bibi Mei menambahkan.
"Syukurlah, Paman, Bibi. Aku merasa tidak enak. Tapi ini harus aku lakukan mengingat banyak hal akan terjadi di masa depan. Aku yang akan melondungi kalian semua." Ucap Galang sambil memegang tangan Bibi Mei.
"Tapi Paman dan Bibi nanti akan berpisah dengan Josh yang akan berlatih bersama Guru Galuh. " Galang mengibgatkan lagi.
"Ah, Galang, itu bukan sesuatu yang besar. Kamu jangan kuatir. Josh juga sudah dewasa. Bukankah dia juga seumuranmu? Biarkan dia menjadi kuat sepertimu." Bibi Mei berkata dengan bijaksana.
"Kita akan berangkat malam ini. Seminggu lagi baru sampai di Kota S." Kata Galang memberitahu mereka.
Sebelum pergi, Galang sudah melindungi pulau dengan formasi naga. Pulau tidak akan bisa dimasuki oleh orang yang berniat jahat. Jika terjadi, maka formasi akan bereaksi dan bisa membunuh orang yang berniat jahat.
Sementara David sudah menyerahkan properti milik Galang kepada para bawahannya. Untuk perusahaan, dia juga sudah menyerahkan pada orang-orangnkepercayaannya.
Siang berlalu, malam mulai menapak, mereka pun akhirnya berangkat ke Kota S memggunakan kapal. Ada sekita limapuluhan orang yangbikut pergi bersama dengan David, ada pekerja rumah tangga dan asisten David. Keluarga mereka juga turut serta bersama mereka.