Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Tidak Ada Ampun


Galang dan Rangga merasa aneh dengan ketiga orang yang baru saja datang. Ketiga orang itu memang orang-orang yang disuruh datang untuk mengusir penduduk pulau Ro. Tingkah aneh ketiganya tentu saja membuat orang-orang di sana jadi tersenyum-senyum.


"Hanta, apakah urusanmu dengan kami? Bukankah kita semua tahu kita memang diutus Tuan Baron. Tapi soal urusanku dan Tin, kamu tidak perlunikut campur." Yoga memberi ultimatum. Sementara Hanta tidak memggubrisnya.


"Sudah! Aku juga tidak memyukimu. Kamu itu laki-laki tidak tahu diri. Seharusnya kamu pergi mencari pelacur saja. Itu sangat cocok. Kalau qku jelas tidak mau sama kamu!" Tin akhirnya memberi keputusan.


"Alah, karena kamu sudah melihat pemuda itu, maka kamu sekarang menolakku untuk yang keswkian kalinya. Tapi, pemuda itu akan tewan di sini. Maka kamu jug tidak akan memilikinya!" Yoga cemberut.


"Sudah diam kalian! Kita tidak usah bahas hal-hal sepele lagi! Kita habisi mereka semua!" Teriak Hanta.


"Maaf, Paman-paman dan Bibi. Bukan ku mengganggu percakapan kalian. Tapi, hal aneh yang kalian lakukan itu, apakah karema kalian segera akan mati di tanganku?" Tanya Galang.


Bukannya marah, ketiga orang itu malah tertawa.


"He anak muda! Kamu bilang kami akan mati di tanganmu? Hahaha!" Kata Hanta, menoleh ke arah Tin dan Yoga. Lalu ketiganya tertawa terbahak.


Galang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, "Bukankah kalian datang ingin bertarung? Kalau memang itu, maka aku akan nenuruti keinginan kalian mati jauh dari keluarga. Hahahaha" Galang ikut tertawa walaupun dibuat-buat. Dia pun kemudian terbatuk karena memaksa tertawa dibuat-buat.


Giliran orang-orang itu yang kini saling berpandangan. Namun, di saat bersamaan, mereka semua tertawa dengan aksi Galang. Bahkan, Rangga juga tertawa yang dibuat-buat.


"Kalian berdua lawan pemuda satunya. Aku akan melawan pemuda ini" Kata Tin.


"Tunggu!" Galang segera menyahut. "Aku hanya berdua, mana mungkin kami harus bertarung secara terpisah. Begini saja. Aku sendirian melawan kalian semua! Jika ada yang masih di dalam kapal, segera suruh turun untuk melawanku bersama-sama." Kata Galang.


"He, anak muda! Sombong sekali kamu! Lawan aku saja kamu belum tentu menang, mau lawan kami semua?" Teriak Res marah.


"Ah, seorang penghianat seperti kamu seharusnya diam saja. Bukankah harusnya kamu malu karena menghianati squdaramu sendiri?" Jawab Galang dengan nada menghina.


"Diam kamu! Kamu tidak tahu urusanku, tapi berbicara seolah-olqh kamu mengerti!" Res tampak sangat marah. Dia sudah tak sabar lagi, memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Galang.


Semua anak buah Res maju, menyerang Galang dengan sangat brutal. Galang dan Rangga sudah siap, mereka pun akhirnya maju menyerang mereka. Sementara ketiga orang tadi akhirnya minggir menjadi penonton.


Galang dan Rangga sedang sibuk membantai anak buah Res. Satu persatu mereka tumbang. Ada yang kepalanya pecah, ada yang dadanya melesak masuk dan berbagai macam luka yang membuat anak buah Res mati sangat mengenaskan.


Res yang melihat itu menjadi melongo. Dia tidak menyangka anak buahnya akan dihabisi satu oer satu. Hanya tersisa beberapa orang dan akhirnya mereka mundur.


Melihat hal ini, semua orang terkejut. Res yang paling terkejut. Karena dia tidak menyangka, Galang dan Rangga begitu hebat.


"Bagaimana? Sebaiknya kamu sekalian maju. Walaupun kamu munfur, kamu tidak akan aku ampuni. Bagiku, penghianat harus mati!" Kata Galang pada Res.


Lalu, dia pun terbang ke arah Res dan anak buahnya, dengan sekali pukulan, Res tewas dan anak buahnya yang lain pun dibunuhnya dengan tangan kosong.


"Serang!" Teriak Yoga yang sudah marah karena diremehkan. Ketiganya pun maju menyerang Galang.


"Aku sudah memperingatkan kalian semua. Jika aku bertindak kurang ajar pada orang tua, jangan salahkan aku!" Teriak Galang. Lalu diapun menyambut serangan ketiga orang.


Tiga orang itu memang bukan orang-orang biasa. Tin yang memakai kipas besi mengibaskan kipasnya dan timbulah sebuah gelombang angin besar menerpa ke arah Galang. Sementara pedang Yoga yang disabetkan ke arah Galang kini terlihat makin besar. Dan tombak Hanta pun demikian, menderu menyerang ke arah Galang.


Galang masih tenang saja saat itu. Dia sama sekali tidak bereaksi. Tiga gelombang serangan musuh hanya tinggal beberapa jengkal, saat itu tiba-tiba tubuh Galang mengeluarkan sinar berwarna emas, membentuk sebuah perisai besqr yang menghalangi serangan musuh. Ketika tiga gelombang serangan menyentuh perisai,


"Boom!"


Bunyi ledakan keras terdengar. Percikan api memenuhi area itu. Ketiga orang yang mengerahkan seluruh tenaga dalam terpental mundur beberapa langkah. Tubuh mereka seperti tercabik-cabik. Mereka memuntahkan darah segar.


Kini, ketiga orang itu sama sekali tidak berbentuk. darah ada di sekujur tubuh mereka. Wajah mereka seputihbkapas dan tubuh mereka bergetar hebat.


Galang sama sekali tidak bisa mengampuni mereka bertiga, dia mencabut pedangnya, lalu terbang ke arah tiga orang itu. Dengan sekali tebas, mereka bertiga tewas.


Suasana saat ini sangat tenang. Tidak ada suara lain selain suara Galang yang sedang memasukkan pedang ke dalam rangkanya.


Lalu Galang pergi ke arah Kepala Suku diikuti Rangga.


"Kepala Suku, aku menyerahkan mereka padamu. Sebaiknya biarkan mereka pulang. Mereka adalah pekerja yang direkrut oleh orang-orang itu. Namun, hiarkan mereka menginap di sini malam ini. Dan besok bru lepaskan mereka." Kata Galang pada kepala suku.


Kepala suku yang sedang ternganga tidak langsung merespon Galang. Dia justru melihat Galang dengan tatapan yang lain. Dia sudah berujar, bahwa siapapun yang bisa melawan, membunuh atau mengusir muauh, akan dinikahkan dengan anak gadisnya. Hal itu pun berlaku pada Galang.


"Anak Muda, aku menyerahkan anakku untuk mrnjadi istrimu." Kata Kepala Suku.


Galang yang hendak pergi akhirnya berhenti dan menoleh ke arah Kepala Suku.


"Apa maksudmu?" Tanya Galang. Saat itu Josh dan Cintya sudah berada di dekat Galang dan Rangga.


"Aku bersama tetua suku kami, berujar bahwa jika ada orang yang bisa mengusir, melawan dan membunuh muauh kami, maka anakku akan aku serahkan padanya sebagai istrinya. Jika aku melanggar sumpahku, maka aku akan mendapat hukuman dari dewa kami. Jadi aku menyerah anakku untuk menjadi istrimu." Kata kepala suku. Dan para tetua di sana juga mengiyakan.


Galang terkejut saat itu. Tidak menyangka itu. Dia justru kebingungan. Sementara Er saat itu tertunduk dan tidak berani menatap siapapun. Er memang sangat cantik, bahkan dia mungkin secantik Diana dan Karmen. Tapi, Galang memang belum siap untuk menikah. Masih banyak hal yang harus diurusnya kelak. Maka dia sangat kebingungan.


"Kepala Suku dan kalian semua, aku menghargai niat kalian. Bukan aku mrnolak. Tapi, aku masih harus melakukan banyak hal besar di kemudian hari. Aku menerima anakmu, tapi aku minta waktu beberapa tahun agar urusanku selesai. Namun aku tidak janji. Jika aku masih hidup, aku akan datang kemari memutuskan. Tapi jika aku mati, maka sumpah kalian semua batal demi dewa kalian." Kata Galang.


"Iru benar!" Nenek Fiah tiba-tib menyahut.


"Galang masih harus melakukan pekerjaan besar. Ini antara hidup dan mati. Kalian tahu! Orang-orang yang baru saja dibunuh oleh Galang, mereka memiliki tuan. Tuan mereka bukan orang sembarangan. Dan pasti akan mencari Galang, sementara mereka sudah tidak peduli dengan tambang emas kalian. Tapi mereka pasti akan mencari Galang dan mereka akan diarahkan ke Kota S." Kata Nenek Diah.