
Rangga hanya diam saja melihat Diana sedang berkomunikasi dengan beberapa pendekar. Dia sedang mengamati kekuatan masing-masing pendekar. Mereka tidak lebih kuat darinya. Apalagi jika dibandingkan dengan Diana, mereka bukan lawan Diana.
"Aku pernah mendengar pendekar yang sangat kuat di sini. Namanya Suro Kampak. Apakah dia berada di tempat ini?" Tanya Diana.
"Hahahahaha! Buat apa kamu mencarinya? Ini adalah wilayahnya. Jadi tentu saja dia berada di sini. Tapi mungkin dia tidak ingin menampakkan batang hidungnya. Dia sedang sibuk bersenang-senang dengan oara gundiknya. Hahahaha!" Pendekar wanita menjawab.
Namun, saat itu sebuah bayangan berkelebat, tahu-tahu di ruang itu sudah ada seorang tinggi besar berkepala botak. Mata sebelah kiri juling, kumis tebal dan dia tidak mengenakkan baju. Hanya celana sebatas lutut berwarna hitam. Ada seperti ikat pinggang, namun terbuat dari kain berwarna putih.
Di tangannya, dia memegang sebuah kapak besar dengan dua tangkai. Kapak itu memiliki tangkai dan ujung kapak melengkung membentuk seperti bulan setengah. Gagang kapak trrbuat dari kayu besi berwarna hitam legam.
"Aku Suro Kampak! Ada apa mencariku?" Tanyanya. Suaranya besar dan menggelegar memenuhi ruangan. Membuat barang-barang di meja bergetar. Dia mengerahkan tenaga dalam saat bicara.
Diana tersenyum dengan kelakuan orang ini. Dia segera tahu kekuatan dari Suro Kampak. Mungkin saja selevel dengan Rangga atau bahkan di bawahnya. Namun, Diana juga harus waspada, orang seperti ini biasanya sangat licik.
"Oh, rupanya kamu. Kata mereka, kamu yang punya tempat ini. Perkenalkan, namaku Diana dan ini kakakku, namanya Rangga. Kami baru saja tiba di sini. Dan mohon para senior memberikan petunjuk." Jawab Diana.
"Benar, Gadis cantik! Bagaimana kalau malam ini kamu menginap di sini? Gratis untukmu." Kata Suro Kampak. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilat bibirnya. Suro Kampak terpesona dengan kecantikan Diana.
"Aku tidak tertarik. Aku hanya ingin makan, setelah itu aku melanjutkan perjalananku. Apakah itu bisa diterima?" Jawab Diana.
"Tidak ada yang bisa menolakku di sini! Siapapun! Dan jika menolak, maka akan tahu akibatnya!" Suro Kampak terlihat mulai marah. Dia sepertinya temperamental.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau aku tetap menolak?" Tanya Diana dengan sinis.
"Haha! Aku jelas akan memaksamu! Kamu belum gahu siapa aku?" Jawab Suro Kampak.
"Bukankah kamu sudah mengenalkan diri? Kenapa masih bertanya? Janganlah merasa paling hebat. Jika nanti ada yang lebih hebat darimu bagaimana?" Diana masih santai saja, duduk dengan tenang sambil memainkan kepingan emas di tangannya.
Orang-orang menjadi panik, sementara para pendekar pura-pura tidak melihat. Namun, Diana masigmh saja terlihat santai. Dia sama sekali tidak terkejut, dan dia juga tidak memandang siapa yang datang.
"Suro Kampak! Karena kamu menvari masalah denganku, maka ini adalah awal dari kehancuranmu. Aku kemari hanya ingin makan, tapi kamu membuat masalah. Jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak sopan!" Kata Diana masih dengan posisi duduk. Dia terus memainkan kepingan emas yang ada di meja.
Orang-orang dan para pendekar yang ada di sana terkejut dengan ketenangan Diana. Dia hanya seorang gadis muda, namun dia sangat tenang dan percaya diri.
"Haha! Aku Suro Kampak! Tidak ada yang bisa menahanku untuk berbuat sesuatu! Jika aku ingin sesuatu, maka orang harus menuruti semua keinginanku. Jika tidak, maka nyawanya akan aku ambil!" Kata Suro Kampak masih dengan percaya diri yang tinggi.
Walaupun beberapa pendekar tidak kalah hebat dengan Suro Kampak, namun pengaruh Suro Kampak yang mereka takuti. Dan kabarnya, Suro Kampak bekerjasama dengan orang dari kerajaan asing dan mendapat dukungan. Itu membuat para pendekar enggan berurusan dengannya.
"Benarkah? Bagaimana caramu memaksaku?" Tanya Diana.
"Serang!" Teriak Suro Kampak. Sekelompok orang menghunus pedang dan segera maju ke arah Diana.
"Tunggu!" Teriak Diana. Mereka seketika berhenti.
"Hei, orang tua jelak! Bagaimana kamu bisa meminta orang dengan kemampuan rendah untuk melawanku? Lihat!" Diana mengingatkan.
"Seraaaaaang!" Teriakan Suro Kampak makin keras. Belasan anak buahnya segera menerjang ke arah Diana. Namun Diana sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya.
Ketika penyerang makin dekat, tiba-tiba, "Brak!"
Tidak ada yang melihat gerakan Diana. Tiba-tiba sebuah meja menghantam belasan anak buah Suro Kampak. Meja itu hancur, sekitar enam anak buah Suro Kampak jatuh dan terluka parah. Sisanya yang berada di belakang segera mundur.