Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pertolongan


"Halo! Bagaimana dengan kondisi anakku?" Tanya Diana saat Wang meneleponnya.


"Anakmu baik-baik saja. Aku akan memberimu alamat, aku minta tebusan seratus miliar. Ingat! Uang tunai dan taruh uang di dalam tas besar. Kamu mungkin butuh banyak tas. Letakkan di sebuah rumah di alamat yang aku kirim. Kamu harus oergi sendiri. Letakkan uangnya di teras, anakmu ada di lantai tiga. Kamu bisa langsung naik." Panggilan dimatikan.


Ponsel di tangan Diana langsung berbunyi. Sebuah pesan masuk. Diana membujanya dan itu adalah alamat yang dikirim Wang padanya. Di sana juga tertulis agar Diana mengantarkan uang itu jam dua belas malam nanti.


Diana mencoba memanggil Wang, namun ponselmya sudah tidak aktif. Diana sangat cemas. Dia ingin mendengar Dara, namun Wang sepertinya tidak ingin Diana tahu.


"Nona, sebaiknya kendalikan emosimu. Aku yakin ada yang salah. Wang tiba-tiba mempercepat permintaan uang tebusan. Ini sangat janggal mengingat dia memgerjai Nona tadi. Jadi Nona harap bersabar dulu. Jangan gegabah. Menurutku ada yang tidak beres, Nona." Kata Farel.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Diana.


"Sebaiknya Nona tunggu, aku dan ayah akan ke alamat yang dimaksud. Aku hanya ingin memantaunya saja. Dari ucapan Wang, jelas dia ada masalah. Nona tenang saja. aku akan segwra mengabari Nona Diana." Farel menjelaskan.


"Baiklah. Aku menunggu kabar dari kalian." Diana akhirnya memahami maksud Farel.


Jatmiko dan Farel mengangguk hormat, lalu keduanya segera pergi ke alamat yang diberikan oleh Wang pada Diana.


*******


"Suamiku, aku minta maaf, aku tergoda oleh tawaran banyaknya uang." Niken berlutut saat tiba di rumahnya.


"Kamu! Apakah kamu ingin membunuh keluarga kita? Kamu tahu siapa Nona Diana? Jika dia marah, maka habislah keluarga kita. Aku mengizinkanmu bekerja karena aku pikir agar kamu tidak stress. Tapi malah kamu berbuat hal konyol begini!" Laki-laki suami Niken terlihat marah.


Namun, kini dia berpikir bagaimana cara mengatasi masalah istrinya? Dia belum menemukan cara. Tentu saja istrinya akan dipenjara karena terlibat penculikan.


"Aku minta maaf, suamiku. Huhu!" Niken menangis. Dia jutru yang paling ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.


Tidak ada yang bisa dilakukannya. Dia menoleh ke samping, dilihatnya Dara hanya menunduk.


"Suamiku, bagaimana kalau kita minta tolong pada Tuan Pambudi, kita bicara padanya dengan sejujurnya. Mungkin dia bisa membantu kita." Sambil menyeka air mata, Niken tiba-tiba ada ide.


"Apakah kamu mengenalnya secara pribadi? aku ini kelasnya manajer di perusahaan kecil. Tentu saja Tuan Pambudi mungkin tidak akan menanggapi." Suami Niken masih belum yakin.


"Atau kamu hubungi manajer pemasaran. Minta dia mempertemukan kita dengan Tuan Pambudi." Kata Suami Niken selanjutnya.


"Ponselku tertinggal di kantor. Entah siapa yang mengurusnya." Jawab Niken.


"Hhhhh!" Suami Niken menghempaskan tubuhnya di sofa.


Terdengar pintu diketuk. Niken dan suaminya saling pandang. "Cepat bawa anak itu ke kamar!" Perintah sang suami. Niken segera menggendong Dara dan membawanya ke kamarnya lalu dia keluar dan mengunci pintu dari luar.


"Niken! Kamu di rumah? Kemana tadi kamu pergi?" Tanya manajer pemasaran. Dia datang bersama Pambudi dan Saras. Kebetulan Saras rumahnya tidak jauh dari rumah Niken dan dia memang tahu rumah Niken.


"Em, aku, aku tadi sakit perut, jadi aku pulang lebih cepat." Jawab Niken tergagap.


"Oh, begitu. Aku menemukan ponselmu. Ambilah!" Kata Manajer. Niken menerima tas kecilnya dengan tangan gemetar.


Suami Niken tidak tahan lagi. Dia langsung berlutut di depan Pambudi. Pambudi terkejut melihat adegan itu.


"Tuan, izinkan aku menjelaskan sesuatu!" Kata suami Niken. Niken juga langsungnikut berlutut bersama suaminya.


Lalu suami Niken menceritakan hal yang disampaikan Niken padanya, mulai dari menculik anak itu bersama Wang dan anaknya, kemudian karena tidak merasa bersalah, Niken akhirnya memutuskan membawa pergi Dara ke rumahnya. Suami Niken juga menyebut bahwa, dia menyuruh Niken segera menghubungi Tuan Pambudi untuk minta tolong.


Suami Niken mengakhiri ceritanya. Pambudi, Saras dan manajer tampak saling pandang.


Pambudi mengambil ponsel, menekan beberapa kali lalu terdengar nada memanggil.


"Halo, Nona Diana. Aku akan mengirim lokasi, Nona silahkan kemari. Ada hal penting berkaitan dengan Nona Dara." Pambufi menutup panggilan, lalu dia mengirim peta lokasi.


Hanya limabelas menit, dua mobil sudah ada di depan rumah Niken. Keluar dari mobil, ada Diana, Karmen, Farel dan Jatmiko. Pambudi, manajer dan Sqras sudah menyambut mereka di depan pintu, sementara Niken dan suaminya masih berlutut.


"Silahkan masuk, Nona!" Pambudi mempersilahkan Diana dan lainnya masuk.


Diana melihat Niken dan suaminya sedang berlutut. Kedua orang itu kini sangat ketakutan. Wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur deras.


"Nona Diana, Nona Dara ada di sini!" Kata Pambudi yang membuat Diana, Karmen, Jatmiko dan Farel terkejut.


"Apa maksud, Paman?" Tanya Diana lalu memandang kedua orang yang sedang berlutut.


"Cepat bawa keluar Nona Dara!" Teriak Pambudi. Suami Niken langsung berlari menuju kamar, membuka pintu, menggendong Dara dan membawanya keluar.


"Ibuuuu!" Teriak Dara lalu dia minta turun, berlari ke arah Diana. Diana berjongkok, membuka kedua tangan untuk mendapatkan Dara.


"Sayang!" Teriak Diana sambil matanya berkaca-kaca.


Dara berlari langsung ke Diana. Dia tidak peduli lagi akan orang-orang di sekitarnya. Diana segera memeriksa aeluruh tubuh Dara. Dara baik-baik saja.


"Maafkan Ibu, sayang." Lalu Diana memeluk Dara dengan erat. Semua orang terdiam. Tidak ada satupun yang berani bicara.


Diana seperti tidak peduli bahwa Dara baru saja diculik. Dia audah menemukan Dara. Dan itu sangat membuatnya bahagia. Jika tidak, bagaimana bisa dia mempertanggungjawabkannya oada Riana?


Selang sekitar sepuluh menit, Diana menoleh ke arah Pambudi. Pambudi paham maksudnya. Nona Diana minta penjelasan.


Pambudi menceritakan awal mula dia ke rumah Niken, ingin memastikan bahwa Niken berada di rumah. Lalu, apa yang telah diceritakan oleh suami Niken juga diceritakannya.


"Begitulah yang terjadi, Nona." Kata Pambudi mengakhiri ceritanya.


Diana menatap Niken dan suaminya yang saat itu sedang berlutut dan sangat ketakutan."Nona, jika ingin menghukum, hukumlah aku saja. Aku adalah suaminya, aku yang sangat bersalah karena tidak bisa mendidiknya." Kata suami Niken.


"Kamu, antarkan aku ke tempat kedua orang itu sekarang!" Kata Diana pada Niken.


"Ba-baik, Nona!" Jawab Niken.


"Karmen! Bawa Dara pulang!" Lalu menyerahkan Dara pada Karmen.


Lalu Diana menoleh ke arah Jatmiko, "Paman Jatmiko, bisakah antar Karmen pulang? Aku akan mengajak Farel bersamaku."


"Baik, Nona. Nona hati-hati!" Jawab Jatmiko.


Pambudi, Saras dan manajer memutuskan untuk ikut mendampingi Diana dengan mobil yang lain. Sementara suami Niken juga ikut. Anak-anak mereka di ruma bersama pekerja rumah tangga.


Mereka langsung menuju ke arah yang ditunjukkan Niken. Sementara mobil Pambudi berada di belakang mobil Diana.