Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pulau Bintang


Paman Li, berapa lama lagi kita akan sampai di tujuan? Aku lihat Galang semakin hari semakin sehat saja. APakah itu pengaruh dari ramuan yang Paman berikan?" Tanya ANton pada Li Hao.


"Aku kurang tahu, tapi kamu bisa tanyakan ke Kapten Tomas." Jawab Li Hao dengan nada datar.


"Tuan-Tuan dan Nyonya, kapal akan singgah di Pulau Bintang untuk membeli bahan makanan dan bahan bakar!" terdengar pemberitahuan dari ruan operator.


Anton mengernyitkan dahi, "Pulau Bintang?" Lalu segera berjalan ke bagian depan kapal. Dia melihat sebuah pulau yang masih jauh. Anton seperti mengingat sesuatu. Namun dia belum benar mengingatnya.


"Ah, mungkin aku pernah ke Pulau itu. Tapi kapan? Kenapa aku bisa lupa?" Gumamnya. Lalu berjalan ke ruangan Kapten.


"Tuan Anton?" Tomas agak terkejut ketika melihat Anton berdiri di depan pintu. Lalu dia membuka pintu dan mempersilahkan ANton masuk.


"Tuan, ada keperluan apa? Bukankah Tuan bisa memanggilku?" Tanya Tomas.


"Tadi aku mendengar pengumuman bahwa kapal akan singgah di Pulau Bintang. Ini adalah pulau milik Keluarga Bintang." Kata Tomas menjelaskan.


"Apa? Maksudmu Keluarga Bintang yang diibukota?" Tanya Anton.


"Iya, Tuan. Sebelum Tuan Bintang meninggal karena dibunuh, pulau ini sering dikunjunginya. Ada semacam istana yang megah. Saya kurang tahu siapa yang mengelolanya saat ini. Tapi dengar-dengar, Pulau ini dikelola oleh seorang veteran tentara berpangkat jenderal yang dulu menjadi orang Tuan BIntang. Pernah beberapa kali ada seorang bernama Robby ingin menguasai pulau ini. Namun karena kehebatan veteran itu, Robby tidak berhasil merebutnya." Tomas bercerita tentang Pulau Bintang yang dia tahu.


Anton menghela nafas. Dia pun baru ingat, dulu pernah datang kemari. Jadi, yang dimaksud veteran tentara oleh Tomas adalajh kakaknya Anton. Dia suadah lama tidak tahu kabar kakaknya itu.


"Kapten, Tuan Bintang adalah ayahnya Galang." Kata ANton.


"Apa? Ja.. Jadi.. Tuan Muda Galang?" Tomas tergagap saat mendengar ucapan Anton.


"Ceritanya sangat panjang, Kapten. Tapi lain kali aku akan menceritakan padamu. Mengenai veteran tentara yang kamu maksud, dia adalah kakakku. Namanya David. Kami adalah veteran perang. kakakku memang orang yang hebat dan kemampuan beladirinya tidak terkalahkan. Itulah kenapa Tuan Bintang mengangkat kami berdua sebagai adiknya dan menjadi orang kepercayaannya." Anton menghela nafas lega.


"Aku sudsah sangat lama tidak mendengar kabar kakakku setelah kejadian dua puluh tahun lalu. Tuan Bintang tahu bahwa ada rencana jahat dari saudara-saudara dari istrinya, makanya dia mengamankan setiap aset dan diberikan kepada setiap orang kepercayaannya untuk dikelola sampai Galang menjadi dewasa." Anton kembali menghela nafas.


"Aku belum tahu pasti di mana saja harta kekayaan Tuan Bintang diamankan. Ketika Galang dewasa, tentu saja itu akan ketahuan, karena ada catatan yang sampai sekarang masih disimpan oleh orang tua angkat Galang. Dan itu hanya boleh dibuka saat Galang sudah berumur tiga puluh tahun."


Pada akhirnya, semua juga akan terbuka dengan jelas. Dan Galang mau tidak mau harus berhadapan dengan keluarganya sendiri. Entahlah, apakah Galang benar-benar akan membalaskan dendam orang tuanya atau malah akan berhenti.


"Maafkan saya, Tuan." Tomas tampak menyesali ucapannya. Anton melambaikan tangan.


"Tidak apa-apa, Kapten. Semuanya juga pasti akan tahu di kemudian hari. Ke depannya, kita tentu akan menghadapi masalah yang sangat serius jika semua tentang galang sudah terbuka. Namun, kita harus tetap menyembunyikannya. Makanya aku menyerahkan semua perusahaan Galang pada Diana. Kemampuan Diana soal beladiri melebihi Galang. Dan dia adalah gadis yang cerdas dan tegas. Aku mengenalnya karena dia adalah saudara kembar istri Galang." Kata Anton.


"Oh ya, kapten. Malam ini kita akan menginap di Pulau Bintang. Beritahu semuanya!" Perintah Anton kemudian.


"Baik, Tuan!. Perintah dilaksanakan!" Jawab Tomas tegas. lalu Anton keluar dari ruangan Tomas dan berjalan menuju kamar Galang.


Saat itu, Galang sedang duduk bersila dan bersemedi. Anton melihat Galang semakinĀ  sehat dan wajahnya tidak lagi pucat. ANton heran, kenapa bisa seperti itu? Namun dia jelas masih khawatir mengingat dalam darah Galang masih tercampur dengan racun.


Anton lalu pergi meninggalkan kamar Galang. Ada perasaan bersalah selalu menyelimuti hatinya. Dia ditugaskan melindungi Galang oleh Kakak angkatnya. Namun dia tidak bisa melindunginya. Bahkan, saat Kakak angkatnya harus dibunuh, dia sendiri harus pergi dan melindungi Galang saat dibawa pergi oleh ayah dan ibu angkatnya.


Kapal sudah bersandar di dermaga Pulau Bintang. Banyak pasang mata yang memandangi kapal tersebut yang sangat mewah dan pastinya sangat nyaman. Dan mereka bertanya-tanya, kapal siapakah itu?


Setelah diberitahu bahwa kapal benar-benar sudah menurunkan jangkar, Galang tidak langsung beranjak, namun menunggu sekitar setengah jam. Dia membaca pesan dari Anton dan mengabaikannya. Dia ingin pergi sendirian membawa mobil. Dia merasa sehat tidak seperti sebelumnya.


Anton yang sudah pergi terlebih dahulu bersama Diah dan Li hao, menitip pesan agar Galang jangan meninggalkan kapal. Namun Galang sudah pergi.


Galang akhirnya tiba di sebuah restoran dan berbelok. Beberapa hari dia hanya makan beberapa kali dan selalu meminum ramuan yang diberikan oleh Kakek Li.


Setelah memarkirkan mobilnya, Galang pun masuk restoran. Orang-orang yang ada di sana memandanginya dengan heran. Bagaimana mungkin seseorang yang akan makan berpakaian lusuh dan seperti tidak pernah ganti pakaian. Galang yang dipandangi lalu memeriksa dirinya kalau-kalau ada yang salah. Dia lalu teringat, bahwa pakaian yang dikenakannya sudah dua hari dan belum ganti.


Galang tersenyum masam. namun dia cuek saja. Tidak peduli dengan penilaian orang. Dia pun mencari tempat duduk yang kosong dan mulai melihat menu yang ada. Dia yakin, di sini pasti harga makanan sangat mahal. Karena ini di pulau. Apalagi restoran ini sangat mewah dan berkelas.


Seorang gadis yang sedang bersama seorang pemuda sedang memandangi Galang. Dia terkesima dengan ketampanan Galang. Dia tersenyum saat melihat cara berpakaian galang. Sedangkan pemudan di depannya memandanginya, lalu bergantian memandangi Galang.


"Cintya, apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau aku laporkan pada bibimu?" Pemuda di depan gadis yang dipanggil Cintya segera menegur.


"Cintya!" Pemuda itu mengeraskan suaranya yang membuat Cintya kaget.


"Ada apa?" Cintya malah bertanya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu terus saja memandangi gembel itu!" Pemuda itu terlihat marah.


"Memangnya kenapa kalau dia gembel? Dia juga manusia." Jawab Cintya ketus.


"Aku akan memberitahu Bibi Mei!" Ancam pemuda itu.


"Dion, yang menjodohkan kita kan Bibi Mei, sedangkan aku tidak setuju. Kenapa kamu memaksaku?" Cintya mendengus. Dia terlihat tidak senang dengan ancaman Dion.


"Kalau kamu mau menikah, menikah saja dengan BIbi Mei." Cintya membuang muka. Dia kembali memandangi Galang yang tidak tahu sedang dipandangi oleh seorang gadis cantik.


Dion lalu berdiri, menarik tangan Cintya, "Ayo kita pulang!" Dion yang marang lalu segera menarik tangan Cintya. namun Cintya meronta dan berhasil melepaskan tangan Dion yang memeganginya.


"baik! Aku akan pulang dan jangan menyesal nantinya. Kamu itu gadis tidak tahu diuntung. Kamu tahu kan ayahku sangat kaya. Dan tentu saja hanya aku yang bisa membahagiakanmu." Kata Dion. lalu dia segera pergi dari restoran itu dengan sangat kesal.


Cintya tidak menyesal sama sekali dengan kepergian Dion yang memang tidak disukainya. Dia lalu berjalan ke meja galang.


"Boleh aku duduk?" Tanyanya setelah berada di hadapan galang. Galang pun mengangguk. Dia agak terkejut ketika melihat seorang gadis cantik meminta duduk di dekatnya. Akhirnya Galang tersenyum. Cintya juga tersenyum.


"Namaku Cintya." Kata Cintya, lalu mengulurkan tangannya ke Galang. galang yang terkejut juga mengulurkan tangan. Namun ndia tidak menyebutkan nama.


"Iya." Jawab galang.


Cintya hanya tersenyum melihat kelakuan galang. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menanyakan pesanan yang sudah mereka pilih.


"Biar aku saja." Kata Cintya, lalu merebut buku menu dari tangan Galang. Galang pun melongo.


Cintya lalu memilih beberapa makanan dan dua gelas minuman dan pelayan menulis pesanan Cintya.


"Pemuda tadi?" Tanya Galang. Cintya tersenyum.


"Dia teman." Jawab Cintya.


"Oh..." Galang tidak berkomentar.


Mereka pun tidak saling berbicara dan hanya sesekali saling pandang, tersenyum lalu memandang ke arah lain. Begitu seterusnya sampai pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan.