Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pulau Konflik


Sepuluh hari telah berlalu, kapal Galang masih berhenti di sebuah pulau kecil demi menghindari badai dan gelombang besar. Perkiraan Kapten, badai dan gelombang akan terjadi sskitar satu hari ke depan. Jadi mereka memilih berhenti dulu.


Saat sampai di pulau, mereka menemukan perkampungan. Namun, sepertinya itu sangat sepi. Padahal terlihat rumah-rumah cukup layak untuk didiami. Tidak terlihat satupun orang berada di luar rumah.


Perkampungan itu dekat dengan pantai di mana Kapten Thomas menyandarkan kapal.


"Ini pulau apa, Kapten?" Tanya Galang.


"Aku juga tidak tahu, Tuan Muda. Sepertinya orang-orangnya ada di dalam.rumah dan tidak berani keluar." Jawab Kapten Thomas.


"Baiklah, aku akan memeriksa bersama Rangga dan Josh." Kata Galang kemudian. Lalu Galang mengajak Josh dan Rangga untuk turun dari kapal.


"Galang! Aku ikut!" Teriak Cintya. Galang melihat ke arah Anton, Anton mengangguk setuju. Galang membiarkan Cintya ikut bersamanya.


"Hati-hati!" Teriak Anton. Keempat orang muda itu pun akhirnya turun dari kapal dan menuju perkampungan. Mereka berjalan kaki ke sana karena tidak terlalu jauh.


"Ada orang!" Kata Josh sambil menunjuk ke samping kanan.


Keempat orang itu lalu dengan cepat menuju ke arah orang yang ditunjuk oleh Josh. Seorang laki-laki berumur empat puluh tahun terlihat sedang berjalan membawa sesuatu dalam kantong plastik. Melihat keempat orang muda itu, laki-laki empat puluh tahun itu berjalan lebih cepat.


Namun, Galang dan lainnya lebih cepat darinya dan akhirnya sampailah mereka ke orang itu.


"Ampun! Ampuni aku! Jangan bunuh aku!" Teriak laki-laki itu sambil berlutut.


"Paman! Kami tidak akan membunuhmu! Kami hanya ingin bertanya saja." Galang mencoba menenangkan laki-laki itu.


Pria empat puluh tahun itu terlihat lega ketika mendengar ucapan Galang.


"Siapa kalian? Kenapa bisa sampai di pulau ini?" Tanya pria itu.


"Kami hanya lewat, Paman. Kebetulan kami sedang menghindari badai. Dan kami ingin menginap di pulau ini untuk beberapa hari." Jawab Galang.


"Sebaiknya jangan. Pulau ini tidak aman untuk kaliaan!" Pria itu terlihat sangat ketakutan.


"Paman, tenanglah. Sebenarnya ada apa? Apakah kami tidak boleh tahu? Siapa tahu kamk bisa membantumu.


"Beberapa minggu lalu..." Pria iru mulai bercerita.


******


"Pulau ini harus kalian serahkan pada Tuan Liun! Kalau tidak maka kalian tidak dibiarkan hidup! Kalian punya waktu satu bulan untuk pergi dari pulau ini. Dan kalian sudah tidak boleh menambang emas yang ada di pulau ini." Seorang laki-lski berwajah sangar memberi pengumuman.


"Mengenai pembeli yang biasa datang kemari, tidak akan ada lagi. Dan kalian, jika tidak seceoatnya pergi, maka kalian akan mati kelaparan." Laki-laki sangar itu mengakhiri ucapannya.


Penduduk desa bingung dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki sangar itu. Mereka pun saling pandang.


"Tuan! Maksudnya apa? Aku adalah kepala suku di sini. Jika ada masalah, sebaiknya bicarakan baik-baik." kata pria paruh baya yang maju minta penjelasan.


Dia adalah kepala suku Ro. Suku Ro sudah mendiami pulau itu sejak ribuan tahun lalu. Penghasilan mereka adalah dari tambang emas yang tidak pernah habis. Pulau Ro cukup besar dan jauh dari pulau lain. Mereka sudah punya langganan pembeli sejak lama.


Sedangkan mengapa Suku Ro hanya sekitar seribu orang saja dan mendiami satu desa? Kebanyakan dari mereka telah pindah ke kota dan pulau lain, menikah, merantau, sekolah dan tidak kembali lagi.


Suku itu sudah menyebar di berbagai belahan dunia. Mereka sudah menyatu dengan masyarakat modern di luar sana. Hanya sedikit yang memilih menjalani hidup secara tradisional.


"Kalau kamu kepala suku, memangnya mau apa? Pulau ini sudah ada pemilik baru. Jadi kalian tidak berhak lagi tinggal di sini!" Kata pria bertampang kasar.


"Pulau ini adalah milik Suku Ro sejak ribuan tahun. Tentu saja ini adalah milik kami. Bagaimana mungkin kamu mengaku sebagai pemilik baru?" Kata kepala suku.


"Tidak ada yang peduli. Kalian kalau membantah, maka tanggung sendiri akibatnya. Kalaian hanya punya waktu satu bulan harus segera pergi dan kosongkan pulau!" Teriak pria sangar.


"Tidak bisa! Kami akan mempertahankan pulau dan tidak akan pergi!" Kepala suku ingin melawan.


Saat itu, sejumlah orang sudah sampai dan dengan ganas, mereka memukuli orang-orang yang berkumpul hingga babak belur. Mereka tidak bisa melawan dan hanya pasrah saat dipukuli. Sementara kepala suku terlihat sudah pingsan.


Sesudah itu, orang-orang itu pergi ke kapal dan kapal segera pergi. Penduduk pulau datang dan menolong mereka yang terluka. Mereka memang bukan suku petarung dan tidak pernah diajari cara bertarung.


*******


"Dan hari besok adalah hari terakhir mereka memberi ultimatum. Kami tidak bisa pergi kemanapun karena memang kami tidak punya tujuan. Para pembeli emas sama sekali tidak pernah datang selama sebulan ini. Dan biasanya kalau mereka datang, mereka akan membawa kebutuhan pokok makan kami dan ditukar dengan emas." Pria itu menghela nafas berat.


"Jafi, selama hampir sebulan mereka tidak datang, kami sudah kehabisan makanan. Banyak dari penduduk yang sekarang kelaparan." Pria itu mengakhiri ceritanya.


"Jadi mereka akan datang besok? Menurut Kapten Thomas, beberapa hari ini akan ada badai di lautan, apakah mereka tidak tahu?" Gslang penasaran.


"Memang benar, tapi itu akan terjadi besok malam. Mungkin mereka sudah sampai di sini." Jawab pria empat puluh tahunan.


"Namaku Galang, Ini Josh, Rangga dan Cintya. Paman tenang saja, jika memang mereka datang, kami akan membantu penduduk di sini untuk menghadapi mereka. Apakah kami bisa bertemu kepala suku kalian?" Tanya Galang. Mendengar kejadian yang menimpa suku Ro, Galang ingin membantu mereka.


"Bisa, mari aku antar ke rumah kepala suku." Kata pria itu. Lalu berjalan menuju sebuah rumah yang cukup besar.


Pria empat puluh tahun itu mengetuk pintu. Hanya selang satu menit, keluar seorang gadis cantik dari dalam rumah.


"Nona Er, apakah Tuan ada?" Tanya pria itu.


"Ada, Pan Su. Silahkan masuk." Jawab gadis itu, lalu mempersilahkan mereka semua masuk.


Gadis itu masuk. Hanya selang beberapa detik, seorang pria paruh baya keluar dan menuju ruang tamu. Pria itu pun duduk. Galang dan lainnya memberi salam.


"Su, siapa mereka?" Tanya kepala suku.


"Mereka ingin bertemu Anda, Tuan. Silahkan bertanya langsung pada mereka." Jawab Su.


"Siapa kalian?" Tanya kepala suku.


"Kami pelancong, namaku Galang, dia Josh, Rangga dan Sintya." Jawab Galang, lalu memperkenalkan diri dan lainnya.


"Kami kebetulan lewat. Karena akan ada badai, maka kami ingin menginap di pulau ini beberapa hari."


"Su tentu sudah menceritakan apa yang terjadi di pulau ini. Dan kami sebenarnya tidak keberatan. Tapi, tentu saja kalian harus bertanggung jawab atas keselamatan kalian sendiri." Kata Kepala Suku.


"Tentu saja. Kami malah akan membantu kalian menghadapi orang-orangbyang akan mengusir kalian. Jangan kuatir soal keselamatan kami." Kata Galang.


Kepala suku memandangi mereka berempat. Melihat mereka masih muda, sebenarnya Kepala Suku menganggap Galang sedang membual.