Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Perang Hari Kedua


Malam berlalu dengan cepat. Pagi sudah datang. Jam lima pagi, Dara sudah bangun dsn minta minum susu. Tidak biasanya dia bangun sepagi itu.


Malam tadi setelah dibawa oleh Anita, Dara tidak bisa menahan kantuknya. Dia tidur dengan cepat.Jatah makan hari ini jelas belum ada, namun sisa ayam goreng kemaren dimasukkan ke dalam lemari es dan langsung dipanaskan oleh Anita sebelum Dara bangun tadi.


Melihat ibu dan bibinya masih tidur, Dara membiarkan saja mereka. Dara tahu ibu dan bibinya capek. Jadi dia tidak mau mengganggunya.


"Bibi Nita, teh ibu sama bibi." Kata Dara.


"Iya, Sayang. Bibi masak air dulu, ya." Jawab Anita. Dara mengangguk sambil tersenyum.


Dara berencana membuatkan teh untuk ibu dan bibinya. Namun dia tidak bisa, jadi dia menyuruh Anita.


Anita sudah membuatkan teh untuk Karmen dan Diana. Dara minta mandi. Anita terharu melihat Dara yang tidak manja di saat seperti ini.


Sepuluh menit kemudian, Karmen dan Diana sudah bangun. Mereka langsung melihat Dara yang sedang berdandan dengan pakaian perangnya.


"Wah, anak ibu sudah mandi. Bilang apa sama Bibi Anita?" Tanya Diana.


"Makasih!" Jawab Dara.


"Teh!" Kata Dara sambil menunjuk ke meja. Lalu Dara tersenyum sambil menutup mukanya dengan tangan. Namun karena tangannya terbuka lebar, matanya kelihatan.


Entah apa maksudnya dengan tindakannya itu. Namun itu sangat menggemaskan.


Jam enam pagi kurang, Diana dan Karmen sudah siap untuk berangkat ke medan perang. Mereka berdua terlihat gagah dengan pakaian perang mereka.


Tiba-tiba di luar seorang penjaga, "Nona Diana, Seseorang bernama Rangga dan Tuan Anton ingin bertemu! Ada bebrapa orang lagi bersama mereka!"


Diana, Karmen, Anita dan Dara terkejut. Dara segera berlari keluar. Ketika itu, dilihatnya banyak orang, yang dia kenal hanya Rangga, Anton dan Nenek Diah.


Sementafa lainnya tidak dikenalnya, "Kakek!"


Anton yang pertama kali dipanggilnya. Penjaga yang sast itu di depan pintu tenda tertutup, tertegun. Rupanya itu adalah keluarga Nona Diana.


Tampak di sana ada Anton, David, Bibi Mei, Rangga, Er, Cintya serta Arumi. Di bagian tenda lain, ada beberapa jenderal yang ingin menemui Diana, dan mereka masih duduk-duduk menunggu Diana keluar.


"Oh cucu kakek! Sudah lama tidak bertemu, rupanya sekarang sudah jadi prajurit?" Tanya Anton. Dara mengangguk. Lalu mencabut pedangnya. Pedang kecil dari kayu itu terlihat seperti asli. Namun, itu semua adalah cat yang mirip besi.


"Paman! Maaf tidak bisa menyambut kalian! Kami akan segera berangkat ke medan perang! Nenek, Bibi Mey, Bibi Arumi dan Paman David, silahkan istirahat di sini!" Diana keluar dengan pakaian perangnya yang sama persis dengan yang dipakai Dara. Sementara Karmen mengekor di belakangnya.


"Diana, kami tidak apa-apa. Kamu harus jaga diri baik-baik. Oh ya, Galang masih di Kota S bersama Guru Galuh, Josh dan Kakek Li. Mereka akan berangkat kemari besok pagi. Mungkin siang mereka baru sampai. Kami begitu sampai langsung kemari naik pesawat." Yang menjawab adalah Bibi Mei.


"Diana, aku Cintya dan ini Er." Cintya tidak lupa mengenalkan diri. Diana tersenyum dan mengangguk. Namun dia memang akan sangat sibuk, jadi fokusnya sekarang oada perang.


"Cintya dan Er, kalian di sini dulu. Kami kan segera berangkat. Jenderal-jenderal perang di itu sudah menungguku." Kata Diana pada Er dan Cintya. Dia menunjuk kepada empat pria berpakaian prajurit di sudut lainnya. Keempat jenderal berdiri dan menunduk hormat.


Mereka adalah Joshua, Herman, Alfonso dan Timothy.


"Kalian kan baru datang, sebaiknya istirahat saja." Jawab Diana.


"Tidak perlu, kami adalah prajurit. Negara dalam bahaya, maka kami akan ikut berperang." Kata David.


"Baiklah, Paman. Pakaian kalian akan segera diurus." Kata Diana lalu menoleh ke arah Karmen. Karmen mengerti maksud Diana dan segera pergi dari sana.


"Jenderal Alfonso? Apakah kamu sudah bertemu delapan orang yang aku maksud?" Tanya Diana pada Alfonso yang saat itu masih duduk.


"Sudah, Nona, dan mereka ada di luar tenda, mereka akan bergabung dengan kita di samping Anda." Jawab Alfonso.


"Baiklah, Tuan-Tuan! Mari kita kalahkan musuh kita!" Kata Diana memberi semangat.


"Kalahkan musuh! Kalahkan musuh!" Keempat jenderal menirukan perkataan Diana dengan mengepalkan tangan.


Diana memeluk Dara, lalu menciumnya dan kemudian pergi keluar diikuti empat jenderal.


Cintya sangat kagum dengan Diana. Dia benar-benar gadis yang super. Semuda itu, memiki kekuatan yang hebat, enerjik dan sangat cantik.


"Paman, pergilah bersama Karmen, aku menunggu kalian di sana." Kata Diana sebelum sempat keluar dari tenda.


Karmen masuk bersama dua orang prajurit pembantu. Kedua orang itu membawa baju besi untuk Anton, Rangg, David dan Nenek Diah. Namun Nenek Diah menolak memakainya. Dia mungkin tidak nyaman.


Sementara Bibi Mei dan Bibi Arumi sedang membujuk Dara dan mengajaknya mengobrol. Namun Dara masih malu-malu. Dia memegang celana Anita.


"Ini nenek, sayang!" Kata Mei. Dara melihat ke arah Mei, lalu melihat ke arah Arumi. Dia memang tiak mengenal mereka. Dara belum berani dekat-dekat orang yang tidak dikenal.


"Nona, masih belum kenal Anda berdua. Jadi dia akan bersikap seperti ini." Kata Anita.


*******


Karmen, Rangga, Nenek Diah, David serta Anton sudah sampai di medan perang. Diana berdiri dengan gagah paling depan.


Sementara di kiri kanan dsn belakangnya adalah para petarung kuat seperti Karmen, Rangga, Anton, Nenek Diah, David, empat jenderal dan delapan anak buah David dari Pulau Bintang.


Semuanya adalah petarung yang gagah perkasa dan pantang mundur. Mereka telah teruji dengan berbagai pertarungan, terutama Anton, David, Rangga dan Karmen.


Jadi Diana dikelilingi oleh para pahlawan yang gagah. Juga di sana masih ada pemuda berambut panjang yang sangat kuat. Dia pernah mengalahkan Robby yang sebenarnya adalah atasan dari Rocky yang sudah dihabisj oleh Diana.


Kedua pasukan kini sudah saling berhadapan. Belum ada yang berinisiatif untuk menyerang. Kalau kemaren, makhluk-makhluk siluman yang memulai serangan dan berakhir tanpa perang secara langsung. Hari ini, kedua pasukan adalah sama-sama manusia. Di sisi timur adalah pasukan Diana, di sisi barat adalah pasukan sekutu makhluk siluman.


Diana memang tidak ingin prajuritnya maju sendiri, semntara para pemimpin hanya menonton. Jadi, dia akan menjadi yang pertama maju sebelum akhirnya diikuti oleh para prajurit.


Terdengar suara derap kaki ribuan orang. Dari pihak musuh, yang maju pertama kali adalah pasukan tombak, sementara terlihat pasukan pedang masih berada di lapis kedua menunggu perintah. Sementara, pasukan Diana akan terlihat hanya sedikit.


Strategi dari Jenderal Joshua sedang dijalankan.