Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Rangga Dan Karmen


Listi semakin tenang sekarang. Apalagi banyak-murid-murid yang datang bersama Guru Lala. Kebanyakan dari mereka adalah muridaki-laki. Jumlahnya sekitar dua puluhan. Dan itu bagi Listi memang belum cukup untuk melawan pria-pria kekar yang bersama.Evan. Tapi, di tambah Guru Rangga, sepertinya lumayan.


Dari tadi Listi sudah menghitung-hitung kekuatan di kelompoknya.


"Erina! Ayo kita mundur!" Kata Listi sambil.menarik lengan Erina dan saat itu berada di belakang Guru Rangga.


Namun Erina bukannya mundur, malah maju. Meminta bola dari Guru Rangga.


"Guru Rangga! Aku mita jika kamu mau memukul mereka semua, tunggulah Kakakku! Dia pasti senang juga memukuli mereka sampai babak belur. Aku sih inginnya mereka semua dipatahkan kaki dan tangannya sampai mereka tidak bisa apa-apa. Khusus Evan, aku ingin tahu reaksi ayahnya ketika kaki dan tangannya patah. Hahahaha!" Erina sesumbar.


"Baiklah, Erina! Aku akan menunggu kakakmu!" Jawab Guru Rangga.


Erina kemudian meludahi bola basket yang sudah ada di tangannya. Dia melihat ke arah Evan. Dia mengelindingkan bola itu ke arah Evan.


Melihat itu Evan semakin geram. Tangannya dikepal dan wajahnya sudah seperti besi.


"Tunggu saja, mereka akan membunuhmu!" Teriak Evan. Lalu ria menendang bola yang hampir sampai kepadanya.


Namun, belum sempat kakinya mengenai bola, bola itu sudah meledak, dan pecahan bola mengenai wajahnya termasuk ludah Erina.


Evan semakin marah dan tidak bisa menahan diri lagi. " Serang gadis itu! Aku ingin membuatnya menyesal seumur hidup!" Teriaknya.


"Wah! Ada yang marah!" Terdengar suara dari atap..semua orang menatap ke atas. Karmen melompat turun. Dan dengan ringan, dia mendarat di.lantai lapangan.


Erina bertepuk tangan. Karmen tersenyum.padanya. Erina sangat perfect ketika menyamar. Dia bisa mengatasi egonya. Biasanya dia tidak secentil ini. Tapi ketika menjadi Erina, dia benar-benar seperti gadis belasan tahjn yang centil.


Karmen tersenyum.membayangkan bagaimana Diana sangat lugu dan serius. Dia adalah gadis yang baik. Umur Diana lebih muda dari Karmen. Tapi dia adalah gadis yang sangat dewasa. Tapi menjadi Erina? Karmen kembali tersenyum.


Apalagi ketika dia melirik Rangga, Rangga juga tersenyum melihat tingkah Erina. Mereka berdua justru lebih senang menjadi kakak Erina.


Mungkin saja Diana benar menganggap merrka sebagai kakak sama seperti Diana menganggap Galang sebagai kakak.


"Erina! Apa kamu mau bertaruh?" Tanya Guru Rangga.


"Eh! Bertaruh apa?" Erina malah bertanya.


"Apa saja untukkudan akakkmu." Jawab Rangga.


Guru Lala, Listi dan murid lainnya terkejut. Apakah Erina sedang bercanda?


"Baik! Aku setuju! Kata Rangga.


"Aku juga setuju!" Sahut Karmen.


"Serang!" Teriak Evan.


Pria-pria besar dan kekar segera bergerak maju. Guru Lala, Listi dan murid lainnya justru ketakutan. Mereka heran, Guru Rangga, Erina dan kakaknya seperti menganggap enteng lawan. Itu mengejutkan.


Taruhan Erina sebenarnya hanya basa-basi. Walaupun Erina pasti akan memberikan uang itu, namun Karmen dan Rangga tentu saja tidak membutuhkannya.


Mereka berdua adalah keluaraga Diana dan Galang. Jadi uang segitu tidak menjadi masalah yang serius. Namun bagi Guru Lala dan lainnya, itu adalah hal yang cukup luar biasa.


"Hajar!" Triak Erina.


Karmen dan Rangga maju bersama. Hanya dengan sekali pukulan, satu orang langsung robong. Dua kali, tiga kali dan seterusnya. Lawan yabg bangun tidak diberi kesempatan menyerang.


Orang-orang kekar itu bukan lawan Karmen dan Rangga. Karrna dapat dikalahkan dengan mudah. Eruna bertepuk tangan, memberi semangat.


"Ayo patahkan kaki mereka!" Teriak Erina.


Rangga dan Karmen mendengar apa yang diucapkan Erina. Mereka tidak segan lagi. Satu per datu orang-orang kekar itu dipatahkan kaki sebelahnya. Terdengar raungan pilu ketika terdengar tulang yang patah.


Rangga dan Karmen mundur. Orang-orang itu sudah tergeletak di lantai dengan kaki patah sebelah.


"Erina! Apakah harus dipatahkan kedua kakinya?" Tanya Guru Rangga.


"Kalau Guru mau repot silahkan saja. Yang penting mau menggendong mereka ke rumah sakit. Haha!" Jawab Erina.


Rangga tersenyum masam. Benar juga. Dengannoatah sebelah kaki, mereka masih bisa jalan melompat. Kalau dua kaki, bisa merepotkan.


"Aku rasa kalian imbang. Sama-sama. Sekarang giliranku mematahkan kaki pecundang Evan!" Kata Erina.


Di sebelah sana, Evan dan teman-trmannya terlihat sangat ketakutan.