Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Teman SMP


Diana sudah keluar dari kantor polisi. Dia sedang duduk di bangku trotoar di pinggir jalan menunggu taksi yang tadi sudah di pesan untuk menjemputnya.


Diana mengambil ponsel, membuka kontak lalu mencari nama.


"Halo, Nona!" Sapa Farel di seberang telepon.


"Farel, bisakah kamu datang kemari? Bawa tim Cyber Tekno bersamamu! Hari ini juga kalian berangkat!" Kata Diana.


"Baik, Nona. Kami akan bersiap. Sore nanti kami sudah sampai." Jawab Farel.


"Baiklah, aku akan meminta Kapten Herry menjemput kalian di bandara sore nanti." kata Diana lalu menutup panggilan.


Sebuah mobil melaju dengan pelan dan akhirnya berhenti di depan Diana duduk. Seorang gadis cantik turun dari mobil dan dengan penasaran menuju ke arahnya.


"Hei, bukankah kamu Diana? Kamu teman SMP ku, bukan?" Tanya gadis itu.


Diana terkejut dan segera melihat ke arah suara itu. Diana mengamati orang itu. Dia memang agak lupa. Karena itu sudah lama sekali.


"Kamu Jenny?" Kata Diana. Dia belum yakin dengan ucapannya.


"Iya, aku Jenny, aku teman satu angkatan. Kita di kelas yang berbeda." Jawab Jenny.


"Oh, Jenny, kamu semakin cantik. Apakah kamu tinggal di kota ini?" tanya Diana.


"Tidak, aku tinggal di ibukota sekarang. Ayahku pindah tugas ke sana, jadi aku mengikutinya." Jawab Jenny.


"Aku kemari karena pacarku. Dia ingin mengenalkan aku pada orang tuanya. Kebetulan sepupunya juga seorang polisi. Jadi kami akan menjemputnya dan pulang bersama." Lanjut Jenny.


"Jadi kamu sudah akan menikah?" Tanya Diana.


"Itu masih lama, aku belum tunangan. Pacarku adalah perwira polisi. Pangkatnya tinggi. Dia berkerja di sini juga. Hari ini dia libur." Jawab Jenny.


"Diana, kamu sedang apa di sini? Apa kamu tinggal di kota ini sekarang?" Tanya Jenny penasaran.


"Tidak, aku tinggal di Kota S. Kebetulan aku ada urusan di kantor polisi yang harus aku selesaikan. Tapi sudah selesai." Jawab Diana.


"Diana, apa kamu mencuri?" Tamya Jenny setengah berbisik. Diana hanya tersenyum masam. Dia tidak menyangka Jenny akan bertanya seperti itu.


"Diana, terus teranglah. Apa kamu mencuri?" Tanya Jenny lagi.


"Tidak!" Jawab Diana. Jenny tidak percaya dengan jawaban Diana.


"Diana, sesulit apapun hidupmu, janganlah sampai mencuri, itu sangat memalukan. Apalagi kita berteman, dan pacarku adalah seorang polisi. Bagaimana mungkin pencuri bisa berteman dengan polisi?" Tanya Jenny lagi-lagi membuat Diana tersenyum masam.


Pacar Jenny keluar dari mobil karena menunggu Jenny terlalu lama.


"Sayang, apakah masih lama?" Tanya Pacar Jenny. Dia bernama Manan. Dia merupakan anak buah Kaptwn Herry..


"Sayang, jangan begitu, dia adalah temanmu. Hargailah. " Manan menasehati Jenny.


"Kamu belum tahu, ya? Dia itu dulu sangat miskin. Dia siswa paling miskin di sekolah kami di Kota S." Jenny mengeraskan suaranya hang membuat beberapa orang yang lewat menoleh ke arahnya. Diana tetap saja hanya tersenyum masam melihat kelakuan Jenny.


"Jenny, apakah orang yang ke kantor polisi selalu urusannya soal kejahatan?" Tanya Diana.


"Diana, sudahlah, aku tidak percaya padamu. Kalau memang kamu butuh uang, kamu bisa menghubungiku, aku bisa membantumu. Bukan begitu, sayang?" Jenny benar-benar tidak menghargai pertemanannya dengan Diana.


"Diana, Kamu tahu, kami besok akan pergi ke proyek, pacarku diajak oleh gubernur ikut bersamanya. Kebetulan aku katanya bisa ikut. Jadi aku akan pergi bersama calon mertua bersama rombongan gubernur." Kata Jenny. Manan terlihat tidak enak hati melihat Jenny yang suka pamer.


"Oh, syukurlah. Kamu memang hebat, Jenny." Jawab Diana. Diana tidak memberitahu, bahwa besok rombongan gubernur akan menjemputnya di hotel. Kalaupun dia bicara, Jenny tentu tidak akan percaya. Jadi dia diam saja.


"Kalau kamu, mana mungkin bisa satu rombongan dengan gubernur? Haha." Jenny merasa menang.


"Aku tidak perlu seperti itu. Aku cukup berada di dunia lainnya. Lagian, aku juga tidak terlalu berminat jika Gubernur mengajakku jalan-jalan sekalipun. Aku lebih suka pergi sendiri bersama teman-temanku. Kecuali urusan bisnis." Kata Diana.


"Haha! Diana, Diana. Lagian gubernur mana yang mau mengajakmu?" Jenny terus meremehkan Diana.


"Ya, itu tidak mungkin, kan? Lalu kenapa kamu terus mengejekku? Bukankah sebaiknya kamu tinggalkan saja aku sendirian di sini? Katanya kamu akan menemui sepupu pacarmu. Sebaiknya kamu segera pergi. Mungkin dia sekarang sedang menunggumu." Kata-kata Diana mulai terasa pedas di telinga Jenny, itu membuatnya marah.


Saat itu, sebuah taksi berhenti di belakang mobil Manan.


"Jenny, maaf, jemputanku sudah datang. Sampai bertemu besok." Kata Diana. Tanpa mempedulikan Jenny dan Manan, Diana langsung menuju taksi, membuka pintu dan masuk. Taksi langsung pergi meninggalkan tampat itu dan menghilang di tikungan.


*******


Di bandara Kota S


"Apakah semua sudah lengkap?" Tanya Farel.


"Semua lengkap, semua yang diminta oleh Nona sudah dibawa semua. Kita siap berangkat." Jawab salah satu anggota Tim Cyber Tekno.


Tim ini adalah bentukan dibuat Diana beberapa hari lalu dan dikepalai oleh Farel. Tugas mereka adalah mencari titik lokasi tindak kejahatan dengan memanfaatkan logam yang menempel pada tubuh manusia.


Diana meminta mereka datang siapa tahu bisa mendeteksi logam.yang ditanam dalam tubuh delapan orang tahanan. Farel masih belum tahu tugas apa yang akan diberikan Diana pada timnya. Namun dia tidak perlu bertanya.


Dengan mencarter pesawat, mereka akan tiba sore ini di Kota M. Hamya dalam.waktu kurang dari dua hari, Farel berhasil mengumpulkan dua puluh orang yang ahli di bidang yang sama dengannya. Farel juga merekrut dokter ahli bedah.


Diana membayar mahal.gaji mereka tiap bulan. Dan itu sudah menjadi kesepakatan, bahwa mereka yang bekerja pada Diana harus loyal dan tidak kenal waktu. Dan mereka pun meyetujuinya.


Farel memimpin langsung dua pulung orang itu. Saat itu pesawat carter sudah siap di landasan. Namun menunggu jadwal untuk take off. Karena masih ada beberapa antrian pesawat lain yang hendak take off.


Saat itu, seorang pramugari memberitahu bahwa mereka sudah bisa naik ke pesawat. Farel dan lainnya pun satu per satu menaiki pesawat. Sementara barang-barang mereka suda berada di kargo.


Farel menghitung semua anak buahnya dan kemudian dia duduk. Dia memberitahu Diana melalui pesan singkat bahwa dia dan tim sudah berada dalam pesawat dan siap untuk terbang. Sesudah itu, Farel.mematikan ponsel dan segera memasang sabuk keamanan. Dan yang lain pun melakukan hal yang sama seperri yang dilakukan Farel.