
Seorang berpakaian merah saat ini berdiri di panggung. Auranya sangat kuat menandakan dia seorang yang punya kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.
Dia adalah Rivandi, tangan kanan Suryanata. Semua orang tahu siapa dia. Bagaiamana sepak terjangnya di Kota Pulau membuat takut. Saat ini di tangannya memegang mikrofon.
"Aku adalah Rivandi! Aku menantang orang yang bernama Galang. Bertarung hidup dan mati. Aku ingin membalaskan dendam Tuanku. Ini di perbolehkan di hukum kota kita." Rivandi bicara dengan nada menantang.
Orang-orang yang hadir pun terkejut mendengar tantangan Rivandi.
Sanjaya yang melihat itu berdiri, memerintahkan anak buahnya untuk memgusir Rivandi dari panggung. Apalagi acara sebentar lagi akan dimulai dan dibuka oleh Gubernur Wilayah Kepulauan.
Anak buah Sanjaya pun naik ke panggung, berbicara pada Rivandi. Memintanya untuk turun dan tidak mengganggu acara.
Rivandi marah dengan pengusiran itu. Dia pun menyerang anak buah Sanjaya dengan cepat. Ada lima anak buah Sanjaya yang naik ke atas panggung. Semuanya dihajar oleh Rivandi dengan sekali serangan.
"Kurang ajar! Aku akan menghajarnya!" Rivandi berdiri lagi dan segera melompat ke panggung. Matanya merah karena marah. Apalagi dia ingat bagaimana Galang saat ini terkena racun dari Suryanata. Itu ,membuatnya semakinĀ dendam pada Rivandi.
Tangan Sanjaya terkepal. Saat itu juga, dia melabrak ke arah Rivandi dengan serangan yang cepat. Rivandi yang sudah siap siaga, memandang rendah serangan dari Sanjaya. Apalagi Rivandi tahu bahwa Sanjaya tidak akan menang melawannya.
Rivandi tersenyum mengejek dengan serangan Sanjaya. Saat tangan Sanjaya hampir mengenai tubuh Rivandi, Rivandi pun menggeser tubuhnya ke kiri, lalu dia melancarkan tendang dengan cepat ke perut Sanjaya. Sanjaya terkejut dan segera menghindar. Tendangan itupun lewat di sampingnya.
Namun, Rivandi tidak berhenti begitu saja, dia membuat gerakan memutar dan tendangannya kembali di arahkan ke dada Sanjaya. Sanjaya lebih waspada dan segera menghindari serangan. Saat itu Rivandi yang tahu serangannya akan gagal, kemudian menarik serangannya. Namun kali ini dia melepaskan tinjunya ke arah dada Sanjaya dengan cepat.
Serangan Rivandi sangat cepat membuat Sanjaya tidak sempat menghindar. Dia berusaha menangkis tinju Rivandi dengan tangan kanannya.
"Prak!"
Kedua tangan beradu, Sanjaya terpental beberapa meter, namun Rivandi tampak tidak bergeser sedikitpun. Pertempuran .pun kembali dilanjutkan, dan Sanjaya kembali menerima pukulan berkali-kali.
Sementara di bawah panggung, "Rangga, datangi tangga panggung dan jangan biarkan anak buah orang itu membuat onar. Karmen, buat Dara tidak melihat apa yang terjadi. Jika terjadi apa-apa padaku, kamu harus segera menyelamatkan Dara." Kata Diana.
Diana lalu melihat ke arah Dara. "Dara, duduklah bersama Bibi."
Dara mengangguk mengerti. Karmen lalu menggendong Dara dan membuatnya tidak bisa melihat apapun yang akan terjadi.
Dara paham, jika matanya ditutup, maka akan ada kejadian yang dia tidak boleh lihat. Lalu Diana segera berjalan ke panggung.
"Biar aku saja, Paman!" Kata Diana
Karmen dan Rangga tahu seberapa hebat Diana. Rangga lalu mengikuti Diana. Sementara Diana naik ke panggung, Rangga tetap berdiri di tangga seperti perintah Diana.
"Nona!" Teriak Sanjaya. Namun Diana melambaikan tangan pada Sanjaya agar tidak melarangnya.
Semua orang yang hadir menjadi tegang. Nona Diana yang cantik itu akan melawan Rivandi yang mengerikan?
Di bagian kursi lain, tampak Melisa dan ibunya terkejut melihat Diana berada di atas panggung memenuhi tantangan dari Rivandi.
"Nona!! Kami mendukungmu!" Sebuah teriakan dari pengunjung membuat pengunjung lainnya akhirnya ikut mendukung Diana. Mereka pun bertetiak mengatakan mendukung Diana. Akhirnya teriakan-teriakan pengunjung yang mendukuing Diana semakin ramai.
"Apa ini? Apakah Galang sudah jadi pengecut? Mengapa seorang gadia cantik yang mendatangiku?" Rivandi terlihat tidak senang. Dia menantang Galang berduel hidup mati, tapi yang datang seorang gadis.
Saat ini, layar monitor dan di televisi menampilkan panggung di mana Diana akan melawan Rivandi berduel hidup mati.
"Memangnya kenapa? Apakah kamu takut padaku?" Tanya Diana meremehkan Rivandi.
"Hahahahaha... Tidak ada kata takut pada seorang Rivandi! Aku sudah membunuh ribuan musuh baik di darat maupun di laut. Tudak ada yang aku takuti di dunia ini kecuali tuanku!" Jawab Rivandi.
"Baguslah, jadi kamu tidak perlu kuatir siapa yang akan melawanmu. Baik Galang maupun aku sama saja." kata Diana.
"Tapi, aku minta sebuah perjanjian denganmu!" Seru Diana pada Rivandi.
"Hahaha.!!! Apa itu?" Tanya Rivandi meremehkan.
"Untuk itu aku setuju, tapi, yang akan mati itu kamu, dan untuk selanjutnya tentu saja terserah padaku." Kata Rivandi dengan yakin.
Saat itu, Rangga sedang menata Diana, Diana pun mengangguk ke Rangga, jika mereka membuat onar, maka Rangga harus bertindak dan membunuh mereka semua.
"Kalau begitu baiklah. Karena kamu tidak memberi kepastian, kalian semua akan mati di sini!" Teriak Diana. Suaranya yang kecil melengking terdengan sampai ke bawah panggung. Apalagi saat itu mikrofon yang tadi dipegang Rivandi tidak dimatikan dan tentu saja isuara percakapan antara Rivandi dan Diana masuk ke sound system.
"Haha..! Kamu jangan mimpi, Tuanku kalah dari Galang akrena tidak ada aku. Sebaiknya kamu bersiap untuk tunduk padaku!" Rivandi terdengar sangat meremehkan Diana. Diana tetap waspada dengan lawannya kali ini. Walaupun dia bisa menang karena kekuatannya lebih dari Galang, namun dia tetap harus waspada. Apalagi dia tidak tahu jika tiba-tiba ada senjata rahasia dari anak buah Rivandi, mungkin saja itu bisa terjadi.
Diana langsung bergerak menyerang ke arah Rivandi dengan sangat cepat. Tubuhnya seperti bayangan dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Rivandi. Rivandi terkejut dan membelalakkan mata.
Namuin sesaat kemudian, Rivandi tersenyum lagi. Dia memang sudah menyiapkan segalanya. Dengan senyum Rivandi, Diana lebih waspada. Dia melirik ke arah panggung dan mendapati Rangga sedang mengawasi anak buah Rivandi. Tidak akan dibiarkannya mereka menyerang tiba-tiba.
Ketika Diana agak lengah, Rivandi langsung menyerangnya dengan tendangannya yang dia arahkan ke perut. Diana yang sangat peka dengan sekelilingnya, melompat dan berputar. Tubuhnya miring ke kiri dan kaki kanan dia gunakan untuk menyerang kepala Rivandi.
Rivandi terkejut lagi, Diana ternyata lebih hebat dari yang dia bayangkan. Kedua tangnya disilangkan untuk menangkis kaki diana, namun Diana segera mengubah serangan. Tubuhnya meliuk ke bawah. Kali ini dia gunakan kakinya menendang kaki Rivandi. Rivandi tidak sempat menghindar dan hanya melompat ke udara.
Serangan Diana lewat begitu saja dan Rivandi menggunakan kesempatan untuk mundur. Wajah Rivandi kali ini mulai menegang. Dia tidak menyangka kalau Diana sehebat itu.
"kenapa mundur?" Tanya Diana.
"Aku mundur bukan mau menyerah! Aku masih terus akan melawanmu!" Rivandi kali ini tampak marah.
Diana lalu bergerak cepat, dia gunakan tinjunya menyerang dada Rivandi, bagai bayangan, Diana meluncur ke arah Rivandi. Rivandi yang agak lengah akhirnya menggunakan tangan kirinya untuk mengadu kekuatan.
"Prak!"
"Ahhhh!"
Rivandi terpental beberapa meter dan jatuh terduduk. Tangan kirinya hancur dan tulang-tulang mencuat keluar. Sementara Diana berdiri sambil tersenyum.
Semua orang yang melihat itu sontak terkejut.
Para pengunjung yang menyaksikan itu pun berteriak, "Hidup Nona Diana! Hidup Nona Diana!"
Dara yang digendong oleh karmen juga mengangkat tangan mendengar teriakan itu.
Wajah Rivandi pucat. Dia tidak menyangka jika Diana punya kekuatan begitu hebat. Bahkan, Tuannya saja mungkin tidak bisa mengalahkannya.
"Rivandi, aku memberimu satu kesempatan untuk menyerah dan tinggalkan Kota Pulau dan jadilah orang baik. Jika kamu memenuhi permintaanku, aku akan melepaskanmu dan anak buahmu." Diana masih meminta Rivandi untuk bertobat.
"Kamu jelas bukan lawanku. Aku tidak menggunakan seluruh kekuatanku dan baru menggunakan setengahnya saja kamu sudah tidak mampu melawanku. Tapi kamu begitu sombongnya."
"Serang!" Teriak Rivandi.
Puluhan orang berpakaian merah merangksek nsik ke panggung, sebagian dihadang oleh Rangga, sebagian lagi sudah berada di panggung dan kini sedang mengepung Diana. Diana tidak menunda lagi. Dengan gerakan cepat, Dia langsung menghajar orang-orang itu dan semuanya tersungkur di tanah dan memuntahkan darah segar.
Sementara Rangga yang berada di bawah juga berhasil membuat anak buah Rivandi terkapar di tanah.
"Tangkap mereka semua dan penjarakan!" Teriak Diana.
Sekelompok polisi lalu segera menangkap dan memborgol mereka semua. Rivandi yang masih duduk tak berdaya juga mulai melemah karena darah terus mengucur dari pergelangan tangannya. Akhirnya dia pun ditangkap polisi. Dan tentu saja, dia akan mendapatkan hukuman mati atas rekomendasi dari Sanjaya.
"Hidup Nona Diana! Hidup Nona Diana! Hidup Nona Diana!" Teriak pengunjung yang merasa lega karena Rivandi dan kelompoknya sudah berhasil dikalahkan dan ditangkap.
Dara yang masih ditutup matanya oleh Karmen, mengangkat tangan yang dikepalkan ketika mendengar teriakan para pengunjung. Kepalanya bergerak-gerak ingin tahu apa yang terjadi. Karmen pun akhirnya melepaskan kepala Dara. Dara tersenyum dan melihat ke arah Panggung. Dia melihat ibunya berdiri dengan anggun. Sangat cantik sekali.
Dana melambaikan tangan ke arah Dara. Dara pun meminta turun dan melambaikan tangan ke arah Diana.