
Kapal yang ditumpangi Diana dan lainnya sudah mulai meninggalkan pelabuhan diiringi lambaian tangan penduduk Kota Pulau yang berbondong-bondong datang. Banyak penduduk Kota Pulau yang pergi mengantarkan mereka di pelabuhan. Mereka terlihat sedih dengan kepergian para pahlawan mereka.
Namun di mata penduduk, kepergian mereka adalah harapan baru bagi masa depan mereka. Mereka akan kembali bekerja tanpa harus membayar uupeti lagi kepada mafia. Dulu mereka harus merelakan separuh penghasilan mereka untuk diserahkan kepada Raja Mafia.
Sekarang mereka tidak perlu melakukan itu lagi. Mereka lega sekarang, itu berkat Galang dan lainnya. Awalanya para pendudukl Kota Pulau harus mengganji para mafia dan perompak dengan gaji yang sangat besar. Belum lagi jika penduduk ingin pergi ke kota lain, mereka sama sekali tidak bisa karena pasti akan dibunuh di tengah laun. Jika tidak dibunuh, mereka akan ditinggalkan di lautan tanpa bantuan apapun atau lebih kasarnya di buang dari kapal.
Sementara di Kapal, Diana, Dara, Karmen dan Rangga adalah penumpang istimewa. Mereka diberikan keistimewaan karena memang merekalah pemilik kapal yang sebenarnya.
Kapten Kapal Yang bernama Johnson secara khusus memberikan kepada mereka tempat paling istimewa yaitu ruangan VVIP. Ruangan ini adalah ruangan yang besar dengan beberapa kamar yang mewah dilengkapi dengan dapur umum dengan koki yang juga tersendiri dari koki kru kapal.
Kapten mengajak mereka melihat-lihat ruangan itu dengan fasilitasnya yang sangat mewah. Di ruangan itu juga ada bar, ruang karaoke, restoran dan juga kolam renang.
Untuk berada di ruangan itu, orang harus mebayar puluhan juga hanya untuk satu kamar selama perjalanan. Namun kali ini, Diana dan lainnya jelas gratis dan mendapatkan empat kamar walaupun hanya tiga yang digunakan.
Apakah ada yang tahu apa yang sedang dilakukan Dara? Ya, dia sedang berjalan di samping kapten, menirukan cara berjalan Kapten dan sesekalia melihat Kapten untuk menirukannya supaya sama persis.
"Kaptem punay wakil rupanya." kata Diana dengan bercanda. Mendengar kata wakil, Dara cemberut. Dia adalah Kapten, bukan wakil, pikirnya.
"Oh, saya wakilnya, dan Nona Dara adalah Kaptennya. Benar begitu bukan, Nona Dara?" Kata Kapten menanggapi Diana ketia dia tahu kalau Dara cemberut saat disebut wakil/.
Kali ini Dara tersenyum senang karena dia adalah kapten dan Johnson adalah wakil kapten.
Saat mereka sedang menggoda Dara, seorang dari bagian informasi masuk. Dengan hormat laki-laki itu membungkuk.
"Ada apa?" Tanya Kapten Johnson. Orang dari bagian informasi itu melihat kapten yang saat itu memberi kode agar melapor ke Nona dara.
"Dengan membungkuk pada Dara,, laki-laki itu pun melapor, "Kapten, kita mendapat perintah dari pimpinan agar singgah di Pulau Dom. Ada barang perusahaan yang harus di muat dari sana. Kita akan berhenti selama tiga hari,"
Dara nyengir saat menerima laporan itu, lalu melirik ke Kapten Johnson. "Baiklah, Kapten Dara memberi perintah agar kita segera ke Pulau Dom. Beritahau jurumudi untuk mengarahkan kapal ke sana!" Perintah kapten Johnson.
Si pelapor membungkuk pada Dara, "Baik Kapten, perintah segera dilaksanakan!" Dara justru memberi hormat pada si pelapor yang membuat semua orang tertawa. Namun mereka juuga ikut memberi hormat. Justru si pelapor yang jadi salah tingkah. Namun si pelapor segera mengundurkan diri.
"Nona Diana, apakah Anda tidak keberatan jika kita menginap selama tiga hari di Pulau Dom?" Tanya Johnson.
"Tidak apa-apa, Kapten, kami tridak keberatan." Jawab Diana.
Lalu mereka duduk di restoran untuk makan siang.
******
Kapal Galang sudah sampai di pelabuhan Kota S. Kapten memerintahkan kru kapal untuk segera mengeluarkan mobil untuk membawa Tuan Muda Galang, Tuan Li dan Tuan Anton.
Dengan perintah dari Li Hao, para sopir langsung membawa mereka ke jalan yang ditunjukkan oleh Tuan Li. Galang saat ini memang masih terlihat tidak punya kekuatan. Obat yang diberikan oleh Kakek Li membuatnya bertahan selama dua hari.
Setelah perjalanan sekita setengah jam, mobil sampai di perkampungan kumuh. Galang seperti mengenali sesuatu. Namun belum jelas. Dia mungkin pernah ke tempat ini.
Sopir akhirnya membawa mereka sampai ke sebuah rumah yang cukup besar di tengah perkampungan itu. Kakek Li ingat dia pernah kemari dan tinggal di rumah itu selama beberapa hari sebelum akhirnya kembali ke Kota Pulau.
Kakek Li segera turun dan langsung menuju rumah itu. Dia mengetuk pintu dan memanggil-manggil.
"Teman lama, apakah kamu di dalam? Teman lama, ini aku datang!" Teriak Kakek Li.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Dia kaget ketika melihat seorang tua berdiri di depan pintu rumahnya dan mengetuk serta memanggil-manggil.
"Tuan cari siapa?" Tanya wanita itu.
"Bukankah ini rumah Kakek Hanafi?" Tanya kakek Li.
"Tuan, Kakek Hanafi sudah meninggal, dan rumah ini sudah dijual. Dan aku pemilik yang baru." Jawab wanita itu.
"Apa?" Kakek Li terkejut dan langsung lemas. Dia tidak menyangka jika teman lamanya kini sudah tiada.
"Tapi, istri dan cucunya tinggal di sekita sini." Wanita itu memberitahu.
"Anto, antar Tuan ini ke rumah Nenek Diah!" Teriak wanita itu pada seorang tukang kebun yang saat itu sedang menyiram rumput.
"Baik, Nyonya!" Lalu leki-laki itu pun segera berjalan ke arah mobil, naik di mobil paling depan dan akhirnya rombongan itu berangkat lagi.
Hanya beberapa menit, mereka sampai di depan sebuah pondok kecil yang beratapkan seng. Galang baru ingat bahwa itu adalah rumah Nenek Diah di mana Nenek dan Diana tinggal di tempat itu.
"Itu rumahnya." Kata laki-laki tukang kebun lalu turun dari mobil dan segera kembali ke rumah majikannya.
Saat itu di luar pondok, ada banyak laki-laki yang sedang duduk-duduk. Mereka pun terkejut melihat kedatangan Galang dan lainnya. Mereka lalu berdiri dengan waspada.
Seorang laki-laki kemudia mengetuk pintu pondok. "Suruh mereka masuk!" Terdengar suara wanita tua dari dalam pondok. Lalu pintu pondok terbuka.
Kakek Li, Galang dan Anton masuk. Di ranjang tanpa kasur, seorang wanita tua sedang duduk seperti sedang bersemedi. Matanya terpejam.
"Li Hao, rupanya kamu yang datang!" Kata Nenek Diah. "Hanafi sudah meninggal, bagaimana kabarmu? aku kira kamu sudah mati juga."
"Perangaimu tidak berubah, bercandamu masih seperti dulu. Aku baik-baik saja. Di mana cucumu?" Kakek Li tentu saja menanyakan Diana.
"Tanya saja pada Galang, kenapa tanya padaku?" Jawab Nenek Diah tetap dengan nada tinggi. Kakek Li memang tidak tahu kalau cucu Diah bersama Galang. namun dia tidak peduli. Saat ini yang dia pedulikan adalah Galang.
"Galang, tempat ini terlalu sempit. Perintahkan anak buahmu untuk mencari tempat yang luas agar aku bisa memisahkan racun dari darahmu. Tapi kamu juga harus membawa enam manusia tidak berguna di luar sana. Orang-orang itu sedang menunggu pertolongan darimu." Pinta Nenek Diah.
"Baik, Nenek!" Galang lalu menoleh ke arah Anton. Anton segera keluar dan memberitahu sopir agar membawa mobil lebih banyak untuk membawa banyak orang.
"Baik, Tuan!' Jawab salah satu sopir. lalu dia menelepon ke perusahaan agar membawa lima mobil ke alamat yang mereka berikan.