
Hari ini adalah hari bahagia rakyat Kota Pulau. Hari di mana mereka merayakan kemenangan setelah Raja Mafia dan Raja perompak dikalahkan dan akan segera mendapatkan hukuman. Semua rakyat berbondong-bondong datang ke alun-alun kota untuk menyaksikan kemeriahan pesta.
Sanjaya memberitahu Diana dan lainnya bahwa Galng dan ANton pergi lebih dulu karena ada urusan yang sangat penting. Jadi Sanjaya tidak memberitahu hal sebenarnya. Walau Sanjaya merasa bersalah, namun itulah pesan Anton padanya saat hendak menaiki kapal.
Saat ini masih jam emapt sore, namun para pengunjung sudah memadati alun-alun. Bagi yang tidak bisa hadir, mereka bisa menyaksikan di televisi yang disiarkan secara langsung. Saat pengunjung melihat sepanduk yang terpasang, mereka pun mengabadikannya dengan kamera ponsel mereka.
Mereka sangat berterimakasih kepada Galang dan lainnya karena berhasil menyelamatkan mereka dari penindasan Raja Mafia yang sulit dikalahkan.
"Wah, ini sangat meriah sekali. Lihat! Itu foto para pahlawan kita!" Seru seorang pengunjung lalu memotret.
"Aku kemaren melihat mereka di sini, tapi tidfak bisa mendekat karena dihalangi oleh polisi. Tapi aku berhasil memotret mereka, lihat ini!" Seru pengunjung lainnya lalu menunjukkan sebuah foto Diana, Dara, rangga dan Karmen. Melihat itu, pengunjung lainnya pun sangat iri dan iminta dikirim melalui pesan online.
"Itu, Tuan Muda Galang! Dia sangat tampan sekali. Andai aku jadi istrinya, walau dia duda dan punya anak aku tidak keberatan. Apalagi kabarnya dia sangat kaya raya." Ujar pengunjung lain yang merupakan seorang gadis.
"Mimpi, kamu! Tentu saja Tuan Muda sudah punya pacar lagi, dan mungkin sangat banyak!" Gadis lainnya menyahut dan membuat gadis tadi sangat tidak suka.
*****
"Nona Diana, sudah waktunya berangkat." Seru istri Sanjaya dari luar kamar.
"Sebentar, Bibi!" Sahut Diana yang saat itu sedang sibuk mendandani Dara. Dara minta dibelikan pakaian seperti Kapten Tomas. Dan hari ini dia akan jadi Kapten di pesta.
Diana membuka pintu dan menyuruh istri Sanjaya, Selena masuk. Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat Dara yang memakai pakaian serba putih. Atasan berlengan pendek, dan bawahan adalah rok pendek dengan sepatu juga berwarna putih.
"Nona Dara cantik sekali!" Puji Selena sambil memandang Dara dan tersenyum. Dara yang dipuji cantik tersenyum malu-malu. Tapi dia juga sangat senang.
Kali ini pasti ingin jalan dan tidak mau digendong. Seperti ketika dia menjadi seorang polisi di pesta Herlambang.
Saat itu karena ingin jalan sendiri, akhirnya dia kecapekan dan tidur dengan memeluk kaki Herlambang.
Entah kali ini apa yang akan dilakukan Dara.
Sementara Diana, yang juga mermakai gaun berwarna putih terlihat sangat cantik. Tubuhnya yang tinggi dan indah, membuat pesona yang tiada tara. Dara pun sampai memujinya, "Ibu vcantik."
Diana yang baru pertama kali memakai gaun wanita, juga merasa dirinya sangat cantik Dia teringat pada Riana. Mungkinkah dia secantik Riana?
Saat itu Karmen dan Rangga sudah di depan pintu dan hendak berangkat. Karmen dan Rangga sangat terpukau dengan kecantikan Diana. Tentu saja Diana sama seperti Riana yang juga sangat cantik.
"Karmen, apakah gaun ini cocok untukku?" Tanya Diana agak malu-malu.
"tentu saja, Diana. kamu sangat cantik dengan gaun itu. Lihatlah Dara selalu melihatmu. Tentu saja karena kamu sangat cantik dengan gaun itu." Jawab Karmen.
"Tapi aku tidak bisa memakai sepatu hak tinggi." Dengan malu-malu Diana mengungkapkan bahwa memang dia belum pernah memakai sepatu hak tinggi seperti Selena dan Karmen.
Karmen tahu hal itu, jadi dia membelikan sepatu biasa yang serasi dengan gaun yang dikenaklan Diana. Karmen sat ini juga memakai gaun. Warna gaun Karmen adalah biru tua. Karmen yang memang sangat cantik tentu saja akan cocok dengan gaun apa saja. Dibanding Diana, dia juga tidak kalah cantik
Dara pun terkagum-kagum dengan kecantikan Bibi dan Ibunya. Dia memandang bergantian Diana dan Karmen. Tapi, Dara tentu saja ingin terlihat sangat gagah seperti Paman Tomas. Dia memang senang meniru pakaian seragam.
Sementara Rangga juga terlihat sangat keren. Dia memakai setelan jas berwarna hitam dengan baju putih dan dasi juga berwarna hitam. Dia terlihat tampan dengan pakaian seperti itu. Dara juga terkagum dengan Rangga. Pamannya.
Dara merasa senang dikelilingi oleh orang-orang yang cantik dan keren.
******
Di Alun-Alun Kota
Sekelompok orang saat ini sedang berdiri bergerombol. Mereka memandang dengan kebencian foto di dalam sepanduk yang terpasang di alun-alun. Mereka membencinya karena orang-orang dalam foto telah menangkap bos mereka.
"Jika kita ada di sana, mungkin saja Tuan tidak akan kalah. Hari ini kita akan membalas dendam. Lakukan sesuai rencana!" Kata salah seorang yang memakai pakaian serba merah. Orang-orang di dekatnya yang jumlahnya puluhan mengangguk tanda mengerti.
Dengan pakaian seragam merah-merah, orang-orang di sekitar menyangka mereka adalah bagian dari pertunjukan. Apalagi mereka tidak jauh dari panggung pesta.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul; lima lebih. Jam enam pesta akan segera dimulai dan akan ada banyak pertunjukan seni dan juga ada penyanyi dari ibukota yang diundang untuk menghibur rakyat Kota Pulau.
Rombongan Sanjaya pun tiba. Para pengawal membuat jalan bagi rombongan itu dibantu oleh polisi. Sanjaya berpesan bahwa, tidak ada yang boleh membawa senjata apapun di pesta ini karena takut akan melukai rakyat.
Gubernur wilayah juga tampak sudah hadir dan duduk di kursi tamu terhormat. Sanjaya yang berjalan paling depan lalu mempersilahkan Diana, Rangga, Karmen dan Dara untuk duduk di kursi kehormatan. Ada enam kursi di sana, namun karena Galang dan Anton tidak ada, maka dua kursi dibiarkan kosong.
Rakyat yang menyaksikan keempat tamu itu melalui layar yang besar merasa kagum. Terutama ketika melihat Diana dan Karmen yang sangat cantik dan anggun. Ditambah lagi ada Rangga yang tampan dan tingkah lucu Dara. Semua orang begitu antusias.
Dara yang memakai pakaian seorang kapten, tidak bisa tenang. Sebentar dia berdiri, berjalan kesana kemari. Sorot kamera tertuju padanya dan Dara tampil di layar monitor yang sangat besar dan juga tampil di televisi. Rakyat yang menyaksikan kelucuan dara tersenyum gemas. Justru Dara yang banyak disorot kamera dan tampil di layar monitor. Membuat sebagian besar rakyat terhibur.
Di tempat lain di alun-alun, sekelompok orang berbaju merah mulai bergerak. Lima orang mendekati panggung dan mendekati tangga. Sementara puluhan lainnya juga berusaha mendekati tangga panggung untuk mengamankan keliama orang itu. Rencana mereka adalah naik ke panggung dan menantang orang yang bernama Galang untuk bertarung hidup dan mati.
Jadi dengan begitu, tidak akan ada keributan di tengah pesta. Merekia hanya akan mem,balas dendam saja. Dan itu sudah biasa dilakukan di tengah rakyat Kota Pulau sejak dulu, dan itu sah secara hukum. mereka tentu saja takut jika mereka berbuat onar, maka kemarahan rakyat justru akan menghabisi mereka. Walaupun mereka sangat kuat, tapi melawan begitu banyak rakyat, tentu saja akan membuat mereka mati konyol.
Apakah mereka akan berhasil? Siapa yang akan melawan mereka saat mereka menantang galang yang memang tidak ada di sana?
Bersambung.....