
Pagi itu sekitar Galang diajak Liano dan Naomi ke rumah gurunya. Tempatnya agak jauh dari kota. Untuk ke sana mereka menumpang kereta api dan memakan waktu sekitar lima jam. Rangga ikut menemani Galang.
Di dalam kereta, empat orang duduk saling berhadapan. Ada dua seat kiri dan kanan. Di samping mereka, duduk saling berhadapan dua gadis cantik kembar dan dua pemuda yang cukup tampan.
Dua gadis itu selalu melihat ke arah keempat orang yaitu Galang, Rangga, Liano dan Naomi dengan pandangan penasaran. Galang dan Rangga pun hanya cuek saja ketika ditatap oleh mereka.
"Tiara, Intan, apa yang kalian lakukan? Kalian memandangi orang terus menerus. Memvuat tidak nyaman. Jangan aeperti itu." Seorang pemuda di depan dua gadis itu menegur mereka berdua.
Dua gadis itu tersipu malu. "Maa... Maaf!" Intan dan Tiara tergagap. Galang hanya melirik mereka.
"Kakak, boleh kenalan tidak? Namaku Tiara." Terlihat si Kembar sudah berdiri di samping Naomi dan di hadapan Galang.
Galang mendongak dan melihat wajah Tiara yang tulus dan tersenyum. Galang tidak tega membiarkan tangan Tiara diangkat ke arahnya.
Galang akhirnya menjabat tangan Tiara, "Galang."
Saat itu, Intan yang melihat Galang mau berkenalan, diapun menarik tangan Tiara dan menjabat tangan Galang, "Aku Intan!"
Pemuda yang menegur tadi berdiri dan memelototi mereka, "Maafkan kedua adikku, mereka pasti sangat mengganggumu."
Galang tersenyum, "Tidak apa-apa."
Sementara dua gadis tadi langsung duduk dan cemberut.
Terdengar suara ponael. Ternyata milik pemuda yang menyuruh duduk dua gadis tadi.
"Halo, Ayah!" Sapa pemuda itu.
"Mike, bagaimana dengan pengajuan proyek kita ke beberapa perusahaan di Malaka?" Tanya suara dari ujung telepon.
"Ayah, aku belum bisa membuat mereka yakin bahwa perusahaan akan mampu bangkit. Sepertinya mereka juga dalam tekanan Tuan Ken. Mereka ragu-ragu." Mike menghela nafas.
"Ayah jangan kuatir, tiga hari lagi aku akan kembali ke sana dan meyakinkan mereka, Ayah." Mike menghibur ayahnya.
"Ya sudahkah. Kamu tahu sendiri kakekmu, dia akan mengusir kita kalsu sampai perusahaan benar-tidak ada suntikan dana. Provokatornya ya pamanmu itu." Jawab ayahnya.
"Sudahlah, Ayah. Kalau memang diusir, aku dan Simon akan bekerja saja di manapun demi keluarga." Mike akhirnya pasrah.
Galang mendengarkan percakapan mereka dan melihat ke arah Mike. Ada rasa iba ketika melihatnya. Pemuda itu samgat sopan dan memperhatikan adik-adiknya. Galang menoleh ke Rangga. Rangga mengangkat bahu.
Dua jam perjalananan tanpa ada yang bicara lagi. Naomi sedari tadi juga mencuri pandang ke Galang. Gadis cantik itu diam-diam menyukai Galang. Apalagi Galang pernah menyelamatkannya dari tangan Bai Lang.
Akhirnya merekapun tertidur di kursi masing-masing. Mereka bangun saat makan siang, setelah itu mereka tidur lagi.
*****
Vila Keluarga Santaro
"Arken, apakah sudah sudah ada kabar dari Mike?" Tanya Juan Santaro. Juan Santaro adalah pemimpin sekaligus presiden direktur Grup Santaro.
Sementara anak pertama Juan adalah Loki Santaro, istrinya bernama Pamela, memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Anak pertama bernama Roby Santaro dan anak gadisnya bernama Lusi.
"Sudah, Ayah." Mendengar jawaban Arken, wajah tua Juan langsung sumringah.
"Bagus, lalu bagaimana hasilnya?" Tanya Juan penasaran.
"Mereka belum bisa mendapatkan proyek apapun, Ayah. Tapi merekan akan terus berusaha." Jawab Arken dengan hati kecut. Dia tahu apa yang akan dilakukan.
"Sudak kuduga, kalian memang tidak berguna. Kalian hanya ingin hidup enak dengan menumpang saja." Yang menanggapi adalah Loki.
"Benar, kalian itu tidak ada gunanya. Lihat itu Roby, calon istrinya dari keluarga Kanama, keluarga yang sangat kaya di Kota Kal. Mana mumgkin anak-anakmu bisa seperti Roby dan Lusi. Tuan Muda dari Keluarga Moris juga tertarik pada Lusi." Istri Loki menimpali.
"Kakak, walaupun begitu, kami semua juga bekerja mati-matian di perusahaan dan tidak pernah merugikan perusahaan" Arken sangat kesal dengan Kakak dan Kakak iparnya yang selalu menghina keluarganya.
"Kalau begitu buktikan kalau kalian memang bisa membangkitkan perusahaan. Lihat betapa murah hatinya ayah memberi kalian kesempatan agar kalian tidak diusir dan dikeluarkan dqri daftar keluarga." Loki masih saja tidak mau diam.
"Arken, aku memberimu waktu satu minggu, jika dalam waktu satu minggu kamu belum mendapatkan satupun proyek, maka, aku sebagai kepala keluarga tidak bisa lagi mempertahankanmu." Ancam Juan. Dia sepertinya tidak punya pilihan lain lagi.
Arken yang sangat kesal akhirnya menyetujui, dia bahkan belum memiliki pandangan apapun soal proyek yang akan di dapatkannya.
"Sebaiknya Paman dan Bibi siap-siap angkat kaki saja dari sini. Karena pasti aku akan dapat proyek dari keluarga Kanama, calon istriku pasti membantuku. Haha!" Roby pun ikut bicara.
Arken hanya bisa diam dengan perlakuan mereka. Dia tidak ingin berdebat lagi yang akan menambah rasa sakit hati. Dia melirik iatrinya yang sedari tadi hanya diam dan menunduk.
"Istriku, ayo kita pulang saja." Akhirnya Arken mengajak istrinya pulang.
Tanpa mempedulikan mereka lagi, Arken dan Maria keluar dari vila. Sebenarnya, awalnya mereka tinggal di vila milik keluarga, namun karena provokasi dari Loki dan istrinya, Arken dan keluarganya disuruh mengontrak rumah dan tinggal di sana dengan alasan vila semakin sempit.
Karena enggan ribut, akhirnya Arken mengalah. Tentu saja soal kemunduran perusahaan sebenarnya disebabkan oleh Loki dan Roby yang sama sekali tidak bisa mengelola perusahaan. Tapi malah Arken dan Mike serta Simon yang selalu jadi sasaran.
Sampai di rumah, Mike, Simon dan si kembar sudah ada di rumah.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Arken.
"Ya, Ayah. Ada kabar baik, seorang Tuan Muda dari negeri seberang akan berinveatasi. Kita bisa membangkitkan lagi Santaro Grup." Jawab Mike.
"Apa? Benarkan yang kamu katakan, Mike?" Tanya Arken setengah tidak percaya.
"Benar, Ayah. Namanya Galang, dia dari Negara Garuda. Dia sekarang ada di rumah Tuan Hawata di bukit Gunar. Kita disuruhnya ke sana bersama Presdir besok pagi. Tuan itu ingin tahu kejelasan soal rencana perusahaan dengan proposal yang dia baca." Yang menjawab adalah Simon. Dia sangat bersemangat. Itu artinya keluarganya tidak akan diusir dari keluarga Santaro.
"Baik, aku akan memberitahu kakekmu. Ayo Mike kita beritahu kakekmu." Ajak Arken.
Keduanya lalu buru-buru ke vila lagi. Jaralnya memang tidak terlalu jauh, hanya lima menit saja berjalan kaki dan mereka sudah sampai di sana.
Keduanya lalu masuk dan menjelaskan soal Tuan Muda dari Negara Garuda. Mereka pun menjelaskan soal perusahan yang dimiliki oleh Galang. Nantinya, setelah bertemu Galang, mereka akan dikirim ke Negara Garuda untuk bertemu langsung dengan Diana di Kota S.
Terlihat mata Juan berbinar, dia memang berharap akan ada inveator masuk dan perusahaannya benar-benar akan tertolong.