
Pasukan kuda musuh sudah makin dekat, para komandan pasukan sudah memberi aba-aba kepada pasukan pemanah untuk melepaskan anak panah. Ribuan anak panah kini datang memyerang musuh. Dan pasukan altileri musuh pun banyak yang mati.
Namun, jumlah pasukan juga masih banyak dan akhirnya makin dekat. Diana mencabut pedangnya. Pasukan altileri dengan senjata tombak dan pedang sudah bergeser ke depan.
Diana menoleh ke arah Rangga dan Karmen. Keduanya juga mencabut pedang.
"Kakek! Apakah kamu bersamaku?" Tanya Diana.
"Tentu saja!" Lalu kakek pun sudah diberi kuda. Senjatanya hanya sebuah tongkat kayu usang. Orang mungkin melihatnya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tombak dan pedang. Namun, di tangan Pertapa sakti, tongkat itu lebih dari senjata apapun di dunia.
Lalu Diana pun berteriak, "Serang!" Teriakannya diikuti oleh teriakan ribuan prajurit altileri yang bersamanya. Derap kaki kuda pun terdengar menggemuruh, membuat jantung berdebar dengan kencang.
Kini kedua pasukan sudan semakin dekat dan akhirnya perang fisikpun pecah. Diana, Karmen, Rangga, Pertapa Sakti, komandan pasukan yang berada di barisan depan sudah merangsek masuk ke dalam barisan musuh. Hempasan tongkat pertapa sakti sanggup melempar puluhan kuda dan prajuritnya.
Ketika pedang Diana ditebaskan, puluhan kudan dan prajurit juga langsung tumbang tak bernyawa. Karmen dan Rangga memilih langsung sasaran prajurit. Kuda-kuda yang kebingungan karena ditinggal mati penunggangnya akhirnya lari kesana kemari.
Pasukan berkuda Diana terus maju dan membantai musuh. Ada banyak korban prajurit di kedua belah pihak. Namun, korban prajurit musuh lebih banyak.
Diana dan Pertapa Sakti sangat kuat. Keduanya adalah prajurit tingkat dewa yang bisa membunuh tanpa menyentuh lawan.
Sementara perang pasukan artileri sedang berlangsung, Panglima Jung Saka memerintahkan pasukan pedang dsn tombak untuk maju. Teriakan-teriakan menggema memenuhi medsn perang. Diana sudah memerintahkan apabila pasukan musuh maju, maka pasukan panah dan tombak yang bersembunyi segera merangsek dari samping kiri dan kanan.
Tampak dari barisan pasukan musuh dua puluh orang sedang terbang menuju Diana. Kakek Pertapa Sakti menyadari bahwa Diana dalam bahaya. Dua puluh orang itu adalah penyihir.
"Diana! Biar aku yang menghadapi mereka! Panggil Ratu Peri untuk membantuku!" Teriak Pertapa Sakti. Ia pun kemudian menghadang kedua puluh penyihir itu.
Menurut Pertapa Sakti, penyihir selalu menggunaka muslihat untuk menjebak lawannya agar lebih mudah dikalahkan. Jadi, hanya penyihir juga yang bisa mrlawan mereka.
Bahkan, jika mau, patung-patung bisa dihidupkan dan bisa menjadi prajurit tanpa rasa sakit.
"Kakek! Hati-hati!" Teriak Diana.
Saat itu Ratu Keabadian sudah berada di sana bersama sepuluh pemgawalnya yang cantik-cantik, berlutut pada Diana dan meminta perintah.
"Bantu Kakekku menghadapi para penyihir!" Perintah Diana.
"Baik, Yang Mulia!" Jawab Ratu dan para pengawal cantik.
Di sisi lain, Raja, menteri dan para pangeran yang sedang memantau pertempuran sangat terkejut dengan datangnya Raru Peri dan pengawalnya.
"Siapa para wanita ini?" Tanya Raja.
"Yang Mulia! Itu adalah Ratu Peri dan Hutan Siluman. Mereka berhasil ditaklukkan oleh Panglima Diana dan mereka menganggap Panglima Diana sebagai raja mereka. Sementara Pertapa Sakti memanggil Pamglima Diana sebagai cucu. Panglima Diana memang sangat hrbat." Jawab pengawal yang ditugaskan sebagai mata-mata istana.
"Sungguh luar biasa! Anak-anakku harus banyak belajar dari Panglima Diana." Begitulah tanggapan Raja yang membuat hati para Pangeran panas. Namun Ludira tidak demikian. Dia memang sudah terlamjur memgagumi Diana sejak dia mengujinya dulu.
Apalagi Diana sangat cantik dan menawan. Diana sebagai Panglima termuda dalam sejarah Kerajaan Nusantara. Tentu saja Diana memiliki daya tarik yang tidak biasa.
Saat mereka sedang berbincang, ada puluhan orang lagi yang datang dan menuju ke arah Diana. Orang-orang itu memang ditugaskan untuk membunuh Diana. Jika Panglima Perang bisa dibunuh, maka akan mudah menaklukkan prajurit di bawahnya.
Jung Saka setidaknya berpikir demikian.
"Lihat! Ada lagi yang datang dan menuju Panglima Diana!" Teriak Ludira. Semua orang menatap ke arah sana dan mulai cemas.