Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Hukuman Dari Diana


"Ayah memang hebat. Walaupun si sialan Niken sudah membawa pergi anak itu, ternyata ibunya masih percaya. Haha!" Kata Jacky lalu meneguk minumannya.


"Trnang saja, nanti malam setelah kita mendapatkan uangnya, kita langsung ke kapal yang kita sewa. Kita akan pergi ke Malaka dan dari sana kita akan ke Tiongkok. Sebentar lagi kita akan kaya raya. Nanti kita sembunyi di bawah, setelah wanita itu naik, kita langsung pergi. Haha!" Wang merasa percaya diri. Di pikiran mereka berdua yang saat ini sudah mabuk, hanya ada uang saja.


"Apakah kita selamanya akan tinggal di sana, Ayah?" Tanya Jacky.


"Kenapa? Bukankah dengan uang itu kita bisa membuat usaha baru dan minta suaka? Tenang saja. Ayah yang akan mengatur semuanya." Wang meyakinkan Jacky.


"Baiklah, aku percayakan semua pada ayah.", Jacky akhirnya penuh keyakinan pada ayahnya.


Keduanya pun meneruskan minum anggur dan tidak peduli lagi dengan lainnya.


"Ayah, sudah jam sembilan malam, ayo kita turun, kitq segera sembunyi." Kata Jacky yang saat itu baru bangun dan melihat ayahnya juga sedang tertidur.


"Mau turun kemana?" Terdengar suara seorang wanita yang saat itu sudah berdiri tak jauh dari mereka.


Jacky terkejut. Saat itu Diana berjalan ke arah mereka berdua. Sementara Wang pun mulai sadar dan seketika terkejut. Diana ternyata sudah ada di sana.


"Kalian bukannya mau uang? Aku mengantarkan lebih cepat dari yang kalian mau. Tapi sayang, uang itu tidak bisa kalian bawa. Dan kalian tidak bisa kemana-mana. Kalian akan mati di sini!" Diana marah, kini dia sudah berada dekat dengan mereka.


"Bagaimana kamu bisa menemukan kami?" Tanya Jacky.


"Itu bukan urusanmu! Kalian telah menculik anakku dan artinya kalian sudah bosan hidup!" Jawab Diana yang hampir tidak dapat menahan emosi.


Saat itu, Faren dan lainmya masuk. Ketika melihat Niken, Wang dan Jacky sangat marah.


"Dasar wanita sialan! Kamu telah menggagallan rencana kami!" Teriak Jacky, lalu dia berdiri dan hendak menyerang Niken. Namun saat itu Diana yang berdiri tak jauh darinya langsung menendang dada Jacky.


"Bukh!"


"Ah!"


Jacky terpental hingga menabrak meja. Dari mulutnya dia menyemburkan darah segar. Melihat itu Wang sangat marah. Dia lalu menyerang Diana dengan botol anggur. Memecahkannya, lalu segera menusukkan ke dada Diana.


Dengan gerakan cepat, Diana pun melakukan hal yang sama. Dia menendang dada Wang dan Wang pun terpental dan menabrak Jacky yang ingin bangkit berdiri. Keduanya akhirnya jatuh. Wang memuntahkan seteguk darah.


Niken dan suaminya sangat ketakutan menyaksikan kejadian itu. Terutama Niken. Dia mulai berpikir, apakah yang akan dilakukan oleh Nona Diana padanya? Niken dan suaminya saling padang, lalu menunduk takut.


"Farel, bawa kemari!" Kata Diana.


Farel buru-buru menuju ke Diana. Dia menyerahkan sebuah pedang bermata dua yang sangat tajam.


"A-apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Wang dengan tubuh gemetaran.


",Bukankah kamu ingin pergi jauh? Aku akan mengabulkan keinginanmu!" Jawab Diana. Lalu dengan gerakan yang cepat, tangan yang memegang pedang digerakkan. Pedang diayunkan dan menebas leher Wang. Darah muncrat dari leher Wang. Hanya hitungan detik, Wang sudah kehilangan nyawa.


Hal yang sama juga dilakukam pada Jacky. Diana tidak ingin membiarkan orang sejahat itu berkeliaran dan membahayakan anak orang kaya lainnya. Kedua orang itu akhirnya mati.


Niken sangat ketakutan, dengan tubuh gemetar dia berjalan menuju Diana. Lalu dia berlutut dan bersujut. Pun suaminya ikut berlari dan sujud di hadapan Diana.


"Ampuni istriku, Nona. Jika harus dihukum, biarkan aku saja yang dihukum. Dia masih harus mengasuh anakku yang masih berumur dua tahun." Kata suami Niken memohon.


Diana memandang suami Niken yang dengan tulus membela istrinya.


"Aku akan memberinya waktu selama satu bulan untuk bertobat, dan jika dalam.wakru itu dia melakukan satu saja kesalahan, maka aku akan menghukumnya." Kata Diana.


"Terimakasih, Nona!" Teriak suami Niken.


"Farel, awasi dia!" Kata Diana pada Farel.


Farel lalu maju memghampiri Niken, menanamkan sesuatu pada tubuhnya.


"Alat ini akan memberitahuku jika kamu melakukan kenahatan. Dan Nona Diana akan segera menghukummu. Alat itu akan lepas dan mati sendiri setelah tiga bulan. Jadi, kamu janhan macam-macam." Kata Farel memberitahu.


"Istri saya oasti akan mematuhi Nona. Aku juga akan mengawasinya, Nona." Kata suami Niken masih dengan bersujud.


"Paman!" Panggil Diana pada Pambudi.


"Ya, Nona!" Jawab Pambudi lalu menuju Diana.


"Pekerjakan dia dan jadikan sebagai tukang kebersihan. Ingat selalu awasi dia!" Kata Diana.


"Perintah Nona Diana akan saya laksanakan!" Kata Pambudi sambil membungkuk.


"Ayo kita pergi!" Ajak Diana lalu berjalan keluar dari gedung.


Tampak sekitar sepuluh orang berpakaian hitam membawa kantong jenazah datang. Memasukkan mayat Wang dan Jacky ke kantong, membersihkan ruangan itu dan membawa mayat keduanya oergi. Ruang tampak bersih dan tidak ada tanda-tanda terjadi sesuatu. Meja pun sudah diperbaiki.


Niken dan suaminya jelas sangat ketakutan. Jika Niken tidak membawa pergi Dara, jika ditemukan bisa jadi Niken sudah bersama Wang dan Jacky. Mati di tangan Diana.


"Suamiku, aku berjanji tidak akan berbuat salah lagi. Aku akan mengabdi padamu. Aku berjanji tidak akan pernah membenci orang lagi. Apalagi orang yang tidak aku kenal." Kata Niken setelah sampai di rumah.


"Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu repot-repot mendidikmu. Kamu sendiri yang harus mengubah perilakumu yang serakah. Jika bukan karena aku, mungkin saja Nona Diana tidak akan memaafkanmu. Kamu lihat kedua orang tadi? Mereka ingin minta ampunan, tapi Nona Diana sudah tidak bisa mengampuni mereka." Kata suami Niken dengan nada yang mulai tenang.


Sedari tadi dia sendiri sangat tegang. Apalagi menyaksikan bagaimana Diana menghabisi kedua orang tadi. Itu membuatnya sangat ketakutan Bagaiaman jika istrinya juga dihukum? Dia tidak bisa membayangkannya.


"Sebaiknya kamu bekerjalah dengan baik. Ingat! Hukumanmu itu tidak seberapa dibandinv dengan apa yangvtelah kamu lakukan. Untung saja Nona Diana masih punya kesabaran. Jika aku sendiri anakku diculik maka aku akan lakukan hal yang sama.


Soal Diana mengampuni Niken, itu jelas sudah menjadi pertimbangannya. Niken dan suaminya melihat langsungi pembunuhan Wang dan Jacky. Selain karena suaminya dan anak Niken, Diana juga punya pertimbangan lain, Niken yang menyelamatkan Dara sebelum penebusan. Jadi itu yang meruoakan pertimbangan terbesarnya.


"Ibu!" Teriak Dara dan berlari ke Diana saat Diana sudah sampai di rumah.


Diana pun tersenyum, menyambut Dara dalam.pelulannya, lalu menggendongnya. Kinu Dara sudah bisa tersenyum kembali. Karmen sudah tahu apa yang harus dilakukan pada Dara agar anak itu tidak trauma. Apalagi Diana juga melihat Dara bermain dengan Jatmiko dan Anita saat dia tiba di rumah.