Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Restoran Kota Pulau


Galang memerintahkan agar mobil berhenti di sebuah restoran. Mobil berbelok ke sebuah restoran dan suasana reatoran sedang ramai sekali.


Mereka pun memasuki restoran dan mendapati hanya ada satu meja yang kosong. Namun cukup untuk mereka.


Sementara mereka duduk, obrolan dari orang-orang itu adalah seputar penangkapan perompak dan anak buahnya.


"Orang yang menangkap raja perompak itu pasyi sangat hebat." Kata salah satu pengunjung restoran.


"Tentu saja. Raja perompak itu sangat hebat, bahkan Raja Kota Pulau saja dibuat tak berdaya. Tapii orang itu bisa mengalahkannya." Jawab salah seorang lagi.


"Oh, ya, dengar-dengar, Raja Kota Pulau akan mengadakan pesta malam ini untuk menyambut tamu penting." Kata yang lain.


"Iya, kata sepupuku, pesta diafakan di alun-alun kota. Rakyat juga diundang untuk mrnyaksikan. Aku pasti datang ke sana untk melihat para pahlawan itu." Yang lain menanggapi dengan antusias.


"Benar, sekarang dengan ditangkapnya raja mafia dan raja perompak itu, laut kita menjadi aman. Dan kita bisa bebas pergi ke kota lain tanpa gangguan para perompak." Ujar yang lain lagi.


Semua obrolan hanya terkait dengan penangkapan raja perompak dan pesta penyambutan tamu penting.


Galang dan lainnya hanya saling pandang. Mereka tidak peduli dan hanya mau makan saja.


"Ayam goleng!" Seru Dara membuat Galang dan lainnya hampir lupa soal pesanan Dara. Tentu saja Dara akan memesan ayam goreng dan sayur sop kesukaannya. Selain ayam goreng, Dara juga menyukai sayuran hijau. Itulah yang membuatnya sehat dan badannya walaupun gemuk, namun sangat kencang.


Dara mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum lucu. Obrolan orang dewasa tentu saja dia tidak akan memahami. Sayangnya tidak ada anak-anak seusiannya yang bisa diajaknya bermain. Selalu saja dia bermain dengan orang dewasa.


Selama di kapal, dia hanya bermain bersama Karmen dan Diana dan beberapa waktu pernah ditemani pelayan. Terakhir kali, dia bermain bersama Kapten Tomas.


Saat itu, sebuah rombongan masukl. Terlihat ada sekitar lima orang memasuki restoran dan langsung memanggil pelayan.


"Maaf, Tuan-Tuan, tapi semua meja telah penuh. Harap bersabar dan mengantri." Kata pelayan setelah berhadapan dengan mereka.


"Aku memanggilmu bukan untuk mengantri, tapi agar bisa dapat meja. kami akan pergi memenuhi undangan dari Raja Kota Pulau!" Kata salah seorang pemuda yang terlihat seperti Tuan Muda.


Mendengar pemuda itu mengucapkan diundang oleh Raja Kota Pulau, semua orang terkejut. Mereka menduga-duga bahwa pemuda dan orang-oranya yang mungkin telah menangkap raja perompak. lalu mereka semua berdiri dan memberikan meja mereka pada pemuda itu. Hampir semua meja dikosongkan dalam waktu singkat dan mereka masing-masing memberikan meja untuk orang muda itu.


Pelayan itu juga ketakutan saat pemuda itu mengataklan kalau diundang oleh Raja Kota Pulau. Dia lalu mengajak teman-temannya untuk membersihkan salah satu meja agar mereka segera duduk.


Mata semua orang memandang pemuda itu dan rombongannya. Mereka berbisik-bisik, bahwa mungkin saja pemuda dan orangnya yang menangkap para perompak. Sementara Galang dan lainnya hanya tersenyum masam.


Saat itu, manajer restoran juga datang, membungkuk dan mengucapkan selamat datang untuk pemuda itu dan lainnya. Dengan nada hormat, manajer memberikan beberapa minuman secara gratis kepada mereka.


Kelompok Galang semakin tersenyum dengan sangat masam, bahkan lebih asam dari asam sesungguhnya. Mereka yang menangkap penjahat, orang lain yang dihormati.


"Untuk makanannya, Tuan-Tuan tidak perlu membayarnya. Saya mentraktir kalian berlima." Suara manajer terlihat menjilat. Dia begitu yakin bahwa mereka berlima adalah tamu terhormat Raja Kota Pulau. Jadi manajer bisa mendapat keuntungan darinya kelak jika bernasib baik.


"kalian kenapa?" Tanya Galang.


"Tidak apa-apa, hanya ingin ke kamar kecil saja." Jawab Karmen, lalu mengajak Diana segera pergi.


Di kamar tioilet wanita, mereka pun tertawa cekikikan ketika mengingat kejadian di dalam tadi. Bahkan mereka tertawa cukup keras. Beberapa orang melihat mereka dengan heran.


"Hei, kenapa berisik sekali?" Tanya seorang perempuan paruh baya. Karmen dan Diana pun menoleh ke arahnya.


Mereka melihat seorang gadis dan seorang perempuan paruh baya sedang mencuci tangan mereka.


"Oh, rupanya kamu, Diana?" Kata Melisa dengan nada nada tidak senang. Diana hanya ddiam saja dan tidak mempedulikannya.


"Hei, aku bicara denganmu!" Bentak Melisa setelah tahu diacuhkan. Diana masih saja tidak peduli.


Setelah selesai, Karmen dan Diana kemudian pergi. "Kamu kenal dengan orang tadi?" Tanya Karmen.


"Ya, dia teman sekolahku, dan yang tua itu ibunya. Katanya, ayah Melisa adalah kepala keluarga Raja Kota Pulau.


"Oh, begitu. Diana, kenapa teman-teman sekolahmu tidak menyukaimu?" Karmen bertanya dengan nada menyelidik. Diana memandang Karmen dan dia menunduk.


"Karena aku miskin." Jawab Diana dengan sedih sekali. Dia mengingat dulu dia sering diejek dan dihina. Banyak siswa laki-laki yang mengejarnya, namun tak satupun yang berhasil membuat Diana jatuh ke tangan mereka.


"Maafkan aku, Diana. Ini semua salahku." Karmen menyesal dengan pertanyaannya.


"Tidak apa-apa, Karmen. kamu tidak salah. Ayo kita kembali. Mungkin makanan sudah siap. Kita makan dulu." ajak Diana dengan tersenyum. Karmen melihat Diana sangat cantik seperti Riana.


Karmen mengenal Riana hanya beberapa tahun ketika sama-sama kuliah di Kota M. Saat Dara lahir, Itulah saat terakhir Karmen menemani Diana setahun lamanya. Riana sudah seperti saudaranya sendiri. Karmen berinisiatif merawat Dara sejak Riana sakkit walaupun dia sebenarnya seorang sarjana.


Karmen menitikkan air mata. Dia mengingat saat terakhir Riana. Riana berpesan agar merawat Dara dengan baik dan Riana menitipkan Dara dan Galang padanya dan Rangga. Namun semua itu tidak diketahui oleh Galang. Saat itu, Riana berpesan untuk merawat mereka sampai dia kembali lagi.


Ketika melihat Diana, Klarmen berpikir bahwa itulah Riana yang sudah kembali, maka dia sangat berharap Diana benar-benar Riana, walaupun memang dia adalah saudaRA KEMBARNYA.


"Diana! Tunggu!" Karmen lalu berjalan cepat menyusul Diana yang lebih dulu pergi. Sesampai di meja makan, mereka langsung menikmati hidangan yang sudah ada. Terlihat Dara sedang lahap dengan ayam gorengnya. Sesekali Galang menyuapkan sup sayuran ke mulut Dara, dan Dara pun memakannya.


Diana dan karmen memandangi Dara yang saat itu baik tangan, wajah dan bajunya berwarna coklat. Dipandangi begitu, Dara meras tersipu dan meliihat ke atas seolah tidak melihat mereka berdua. Karmen dan Diana saling pandang dan merasa Dara sangat lucu dan menggemaskan.


Di meja lainnya, pemuda dan orang-orangnya justri sedang minum-minuman keras dilayani langsung oleh manajer. Diana dan Karmen pun tersenyum masam, namun mereka kini sama sekali tidak peduli. Terkadang peduli itu memuakkan dan bikin mual, tetapi bisa jadi, peduli juga bisa membantu orang lain meraih cita-citanya.


Saat makan sudah selesai, Mereka pun pergi dari restoran, saat itu terlihat Rangga membisikkan sesuatu pada manajer. Manajer terkejut dan langsung marah-marah. lalu dia pun pergi meninggalkan pemudan dan orang-orangnya dan mengejar rombongan Galang. Galang yang sudah masuk ke dalam mobil tidak peduli dengan teriakan manajer itu.


Rangga tampak tersenyum saat itu. Dia menyingkirkan manajer itu agar tidak menghalangi pintu masuk.