
Setiba di rumah Kepala Desa, mereka sudah disambut oleh kepala desa dan istrinya. Mereka sudah diberitahu soal pembunuhan di jalanan desa. Kepala Desa dan istrinya lalu sangat berharap agar mereka bisa menyelamatkan desa ini dari penindasan Suro Kampak.
"Selamat datang Tuan Pendekar. Kami tidak bisa menyambut dengan layak. Kami akan menjamu kalian di tempat kami." Kata Kepala Desa.
Rangga turun dari kuda diikuti oleh Diana dan lainnya. Saat itu Dara bangun. Dia kebingungan karena terasa panas dan gerah.
"Ibu!" Teriaknya. Dilihatnya ibunya. Dara terkejut juga ketika melihat banyak kuda. Diapun mempererat pelukan di Diana.
"Jangan takut. Itu kuda. Mereka teman kita, sayang." Kata Diana dengan lembut. Dara melihat ke arah ibunya. Lalu melihat ke arah kuda. Apa benar mereka teman?
Anita sudah menyiapkan susu untuk Dara. Ada termos panas yang dibawa dari Kota M. Dan airnya masih panas. Jadi, dia segera membuat susu untuk Dara. Karena jika bangun, Dara pasti akan minta susu.
"Mik Cucu!" Teriak Dara. Anita segera menyodorkan botol susu pada Dara. Dara melihat Anita dsn tersenyum.
"Acih!" Katanya. Anita tersenyum dan mengangguk. Kini, dalam pelukan Diana, Dara sedang meminum susu.
"Mati masuk!" Kata kepala desa. Dan mereka semua masuk ke rumah kepala desa.. Sementara beberapa orang diminta menurunkan barang dan diawasi oleh Rangga.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan desa ini, Paman?" Tanya Diana.
Kepala Desa menatap Diana. Dia lalu mulai bercerita.
"Dulu desa ini sangat makmur. Sawah menjadi tempat yang sangat menguntungkan bagi penduduk desa. Mereka menanam padi dan hasilnya sangat melimpah. Apalagi, desa ini merupakan pinggiran sungai."
"Selama musim panen padi, maka akan ada pihak kerajaan yang datang untuk membeli hasil panen penduduk desa. Mulai dari beras, rempah dan sayuran."
"Sungai juga menjadi tempat tranportasi air yang maju. Penduduk desa, selain bertani, juga pandai membuat oerahu dari kayu. Hasilnya mereka jual ke desa lain atau para nelayan."
"Naman desa ini juga pemberiam dari pihak kersjaan. Desa ini terletak di hulu sungai, makanya diberi nama desa Hulu Sungai. Dan desa satunya berada di hilir, maka dinamakan Hilir Sungai. Memang terlihat aneh, namun desa ini sangat terkenal dan dulu sangat ramai dikunjungi dari kerajaan dan desa-desa lainnya."
"Di antara desa hulu dan hilir, dibangun pasar tradisional yang menjadi pusat perdagangan desa. Mereka berjual beli di pasar. Dan juga, di sana ada tempat makan yang lumayan besar dan terkenal karena masakannya yang enak."
"Namun, karena kerajaan sedang berperang, permpok pimpinan Suro Kampak memanfaatkan untuk mengambil alih pasar. Semua orang diperbolehkan berdagang, namun, hasil dari penjualan diambil eh mereka. Tentu saja penjual di pasar keberatan. Akhirnya mereka yang melawan dibunuhi dan kini pasar secara penuh dikuasai oleh Suro Kampak. Mereka mewajibkan tiga perempat hasil pertanian, perkebunan dan hasil nelayan harus diserahkan pada mereka."
"Anak-anak gadis di desa ini juga mereka ambil, mereka memaksa para gadis menjadi pemuas nafsu pria hidung belang. Dan kami sama sekali tidak bisa berbuay apa-apa. Untuk meminta bantuan dari kerajaan, jelas kami tidak bisa. Kami diawasi oleh anak buah Suro kampak. Dan setiap ada yang berangkat ke kerajaan, pasti dibunuh oleh anak buah Suro kampak."
"Kami sudah pasrah atas nasib kami sambil menunggu siapa tahu ada pendekar hebat bisa menolong kami desa ini dan desa di hilir." Kepala Desa mengakhiri ceritanya.
Diana mengangguk-angguk. Dia ikut prihatin dengan malapetaka yang meninpa penduduk desa ini dan desa lainnya.
"Kami akan mrmbantu penduduk desa, Paman. Kalian tenang saja. Aku sendiri sanggup untuk menghancurkan mereka semua. Apalagi ditambah dengan kakak-kakakku." Kata Diana tiba-tiba.
"Tuan Pendekar!" Mereka sangat kuat, dan kalian hanya berempat.
Dara mendongak ketika kepala Desa bicara soal berempat. Dara mulai menghitung. Akhirnya dia sadar, orang itu salah, harusnya lima. Tangan Dara menarik-narik baju Diana. Dia menoleh dan melihat Dara menunjukkan lima jari tangannya.
"Kami berlima, Paman." Kata Diana sambil melirik ke arah Dara.
"Oh ya, maaf. Aku lupa ada pendekar kecil di sini." Ujar kepala desa sambil tersenyum.
Dara pun senang karena ikut dihitung dan dipanggil pendekar kecil. Walaupun dia tidak tahu apa itu pendekar, tapi dia tetap senang.