Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Dara Ingin Berperang


Inspektur Herman dan Jenderal Joshua datang ke tenda Diana. Diana masih duduk di luar tenda. Ada Karmen, Dara dan Anita juga. Pemuda berambut panjang sudah pergi. Dia mengatakan akan mengawasi pergerakan makhluk siluman.


Setelah memberi hormat, kedua petinggi kepolisian dan militer itu pun duduk. Mereka melihat Dara yang berpakaian perang jadi tertarik.


"Nona kecil, apa kamu mau ikut berperang?" Tanya Jenderal Joshua. Dara tersenyum dan mengangguk. Dara lalu mencabut pedangnya, menggerak-gerakkan pedang dari kayu yang tumpul itu.


Semua orang tidak berani tertawa walaupun lucu. Nanti Dara pasti marah. Mereka hanya memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Dara. Dara sangat senang diperhatikan.


Jenderal Joshua yang gemas melihat tingkah Dara, berpura-pura menjadi musuhnya. Dara.pun senang karena ada musuhnya.


Dara menyerang Jenderal Joshua dengan pedangnya. Jenderal Joshua pun menghindari semua serangan Dara.


Dara semakin semangat dan ingin menang dari Jenderal Joshua. Lalu berikutnya, Dara menebaskan pedangnya dan mengenai tubuh Jenderal Joshua. Jenderal Joshua pun jatuh ke tanah. Dia tergeletak dan meringis kesakitan.


Saat itu Dara mendatanginya. Dia memeriksa Jenderal Joshua. Lalu Jenderal Joshua pura-pura mati. Dara tampak kebingungan, menarik-narik tangan Jenderal Joshua agar bangun. Dara tidak sengaja membunuhnya. Dia tidak ingin Jenderal Joshua yang adalah teman ibunya mati.


Dalam.keadaan panik, tidak ada orang yang menolong Jenderal Joshua, Dara Masih berusaha agar Jenderal Joshua bangun. Tetapi tetap tidak bangun. Dara makin panik. Kakinya dihentak-hentakkan ke tanah, lalu, Dara pun menangis sekeras-kerasnya.


Dia sudah membunuh teman ibunya. Dia merasa bersalah. Diana datang lalu menggendongnya. Dara jengkel dan ingin memberontak. Namun memang Dara memerlukan pelukan Diana.


"Jenderal, bangunlah!" Teriak Diana.


Lalu Jenderal Joshua bangun berdiri tegap. Dara terkejut, ternyata ibunya sudah menolong Jenderal Joshua. Hanya ibu yang bisa menolongnya hanya dengan dipanggil. Seketika Dara mebghentikan tangisnya.


"Wah, Nona kecil sangat hebat sekali! Aku mengaku kalah!" Teriak Jenderal Joshua.


Dara benar-benar sudah berhenti menangis. Anita memegang botol susu lalu memberikan pada Dara. Dara menerimanya lalu segera meminumnya.


Diana melihat wajah Dara, Dara tersenyum.padanya.


"Jenderal kalah darimu, sayang?" Tanya Diana. Dara memandang Jenderal Joshua. Lalh memandang ibunya lagi. Lalu dia mengangguk. Di matanya masih ada sisa-sia air mata.


Momen itu direkam oleh Karmen. Lalu Karmen mengirimkannya ke Galang dan Rangga. Dara sudah tidak cemberut lagi. Pakaian yang dikenakan Dara sama persis dengan milik Diana. Namun, bahan yang digunakan untuk membuat pakaian Dara adalah dari kain dan plastik, jadi itu tidak berat.


"Apakah Nona Kecil benar-benar akam ikjt berperang bersama ibu besok?" Tanya Jenderal Joshua.


Dara melkhat ke arah Diana. Diana juga melihat Dara Dara tidak bisa menjawab sebelum mendqpat persetujuan ibunya. Diana pun menggeleng. Dara tahu itu jawaban ibu.


Lalu Dara menggeleng, "No!" Katanya.


Semua baru tertawa ketika mendengar jawaban Dara. Dara tersipu dan memeluk erat Diana.


*******


Rangga tertawa cekikikan ketika melihat video yang dikirimkan oleh Karmen. Dia merindukan keponakannya itu. Sudah lama dia tidak bercanda dengan Dara. Hari ini dia justru melihat Dara yang lucu sedang bertarung dengan seorang Jenderal. Sungguh lucu.


"Ada apa? Tertawa sendiri." Kata Galang sambil mencolek bahu Rangga.


"Apa Karmen tidak mengirim video untukmu?" Tanya Rangga.


Galang segera mengambil ponselnya, lalu membuka pesan video dari Karmen, setelah melihat video, Galang juga tertawa. Semua orang penasaran. Terutama Cintya, Josh dan Er. Mereka pun minta Galang memutar ulang video yang dikirim Karmen.


"Galang, mereka dalam bahaya, bukankah kita harus cepat ke sana?" Tanya Rangga.


"Iya, setelah sampai, kita langsubg ke sana." Jawab Galang.


"Aku ikut!" Kata Cintya dan Er bersamaan.


Galang tidak segera menjawab, tapi dia mengangguk. "Kita semua akan ke sana sambil mengantar Josh ke Gunung Mer."


"Galang, apa itu tidak berbahaya? Sebaiknya kita berdua saja yang ke sana." Rangga agak cemas.


"Nanti setelah keadaan membaik, baru mereka menyusul kita." Ucap Rangga.


Galang menatap Cintya dan Er, keduanya memelototi Galang. Galang tersenyum masam. "Apa boleh buat?" Katanya.


"Kita ke sana menggunakan mobil saja." Kata Galang.


"Apa maksudmu menggunakan mobil? Kita menunda berapa jam kalau menggunakan mobil?" Tanya Rangga.


"Tenanglah, Diana bisa mengatasi itu. Mereka hanya tidak takut pada Diana, tapi mereka tidak bisa mengalahkan Diana. Apalagi di sana ada Karmen, Jenderal tadi, lalu juga ada banyak petarung dan juga murid-murid Guru Galuh. Kamu seperti tidak tahu Diana." Jawab Galang.


"Baiklah, terserah kamu saja." Rangga akhirnya mengalah.


Kapten Thomas telah diperintah Galang agar mempercepat laju kapal. Thomas setuju, asal tidak ada ombak besar dan angin kencang. Jadi hari ini memang cuaca sangat baik, laut tenang dan angin tidak terlalu kencang. Jika cuqca begini terus, maka sore hari besok, kapal sudah bisa sandar di galangan.


*******


Di sebuah tenda perusahaan media televisi, tampak seorang pimpin redaksi sedang mem-briefing para reporter lapangan yang akan meliput medan perang.


"Kita harus profesional, tidak boleh menutupi apapun. Kita dilindungi negara untuk meliput apapun. Meliput perang, akan menakkkan rating perusahaan. Dan, kalian semua akan mendapat bonus." Kata pemimpin redaksi.


"Tapi, kita diawasi lleh tim cyber millik Nona Diana. Bagaimana ini?" Tanya seorang anggota redaksi.


"Mereka hanya minta kita tidak terlalu vulgar dalam pemberitaan. Jadi tidak masalah. Ya kita tahu ini situasi perang, ada yang tidak boleh divideokan, ada yang terlarang. Yang pentingbikuti aturan mereka." Jawab pemimpin redaksi.


"Kabarnya tim milik Nona Diana bisa mengambil alih siaran, jadi jangan sampai kita melanggar arturan, pada akhirnya kita yang rugi." Yang bicara adalah wakil pemimpin redaksi.


"Baik, semuanya! Besok kita siap bekerja! Ingat, jaga keselamatan kalian. Jaga jarak aman dan jangan masuk ke pertempuran, musuh kita itu siluman, jadi tidak ada kemanusiaan kepada siapapun. Juga, jangan mewawancarai siapapun, itu situasi panas. Jangan membuat marah prajurit!" Itu terakhir pesan dari pemimpin redaksi.


Semua mengangguk, dengan menghela nafas dalam, merekapun membubarkan diri dan pergi ke tempat tidur. Mereka memang tidur satu tenda besar yang juga berfungsi sebagai markas untuk siaran.


Walaupun itu tugas berat, namun mereka memang tugasnya meliput di lapangan. Jadi mereka harus melakukan itu. Hati berdebar, jantung berdetak lebih kencang daei biasanya. Mereka merasakan itu. Bagaimana dengan para prajurit?


"Kalau aku bisa mewancarai Nona Diana, itu sangat keren!" Kata salah seorang reporter bernama Anya.


"Jangan mimpi, Nona Diana tidak akan bisa ditemui siapapun kecuali oleh orang-orang penting. Jika kamu berhasil mewawancarainya, aku akan mentraktirmu makan di restoran Hotel Mer." Kata seorang temannya bernama Nia yang juga reporter.


"Benar, ya? Jangan sampai ingkar janji!" Tegas Anya.