
Diana masih tidak bergerak dari tempatnya..Dia tahu Guru Seho hanya melepaskan pukulan ringan saja. Jadi dia bisa segera menghindarinya saat pukulan itu sampai kepadanya. Benar saja, tangan Guru Seho yang terkepal ketika akan mengenai Diana tidak ada tenaga yang berarti. Diana malah menagkisnya dengan santai.
Guru Seho hanya mengetes saja. Namun kemudian kedianya sudah terlibat pertarungan dengan tangan kosong. Memukul, menangkis, menghindari. Itu terjadi selama lehih kuran riga puluh menit. Keduanya terlihat tidak kelelahan. Hanya saja nafas Guru Seho agak terengah-engah. Namun Diana tampak biasa saja.
Guru Seho juga sangat terkejut. Diana adalah seorang gadis berumur dua puluh tiga tahun, namun memiliki kekuatan yang bisa jadi lebih tinggi darinya. Guru Seho merasakan bahwa Diana sama sekali tidak mengerahkan seluruh tenaganya, namun dia bisa mengimbanginya.
"Guru Seho, sebaiknya Anda menyerah dan segeralah hukum Rocky. Maka aku akan memaafkanmu. Aku sudah berkata bahwa tidak ada urusan denganmu. Jika kamu membunuh Rocky, maka aku anggap kita tidak ada urusan lagi." Kata Diana setelah mereka berdua masing-masing mundur.
"Itu tidak mungkin! Aku sudah berjanji padanya akan membunuhmu. Dan kamu tidak perlu mengaturku!" Jawab Guru Seho.
"Memang penyesalan harus datang di belakang. Aku hanya mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal nanti. Jika itu terjadi, maka aku sudah tidak bisa memaafkan kalian semua. Bahkan, kalian sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Tapi, Guru Seho, aku tidak akan membunuhmu dan murid-muridmu. Tapi aku akan memulangkanmu ke Gunung Mer. Biarlah Gunung Mer yang akan menghukummu." Kata Diana. Lalu dia mengeluarkan sebuah pedang pendek. Itu diambilnya dari pondok neneknya beberapa waktu lalu.
Rangka pedang berwarna perak berukir bintik-bintik seperti butiran beras. Diana pun menghunus pedangnya. Tampak pedang iru juga berwarna perak. Pedang bermata dua itu sangat tajam dan terlihat kokoh. Gagang pexang terbuat dari gading gajah dan berwarna kuning keemasan.
Senjata Guru Seho juga sebuah pedang panjang. Pedang itu tampak sedikit melengkung dengan bagian ujung pedang membesar. Gagangnya terbuat dati kayu dengan ukiran kepala harimau di bagian ujung gagang. Pedang panjang dan besar itu terbuat dari besi baja pilihan. Sekali tebas, maka batang pisang akan langsung putus. Bahkan, kayu jika terkena pedangnitu juga akan terluka dalam. Itu adalah pedangi Guru Galuh yang diambilnya, warisan dari Klan Harimau milik nenek moyangnya.
Walaupun pedang itu tipis, namun jangan salah, pedang itu tidak mudah patah walaupun dipukul dengan besi baja berukuran besar.
Semua orang sudah mengira. Diana pasti akan kalah jika beradu senjata dengan Guru Seho. Apalagi Guru Seho adalah sworang ahli pedang yang sudah terkenal seperti Guru Galuh.
Dalam dunia beladiri di wilayah selatan, ilmu beladiri Guru Seho setingkat di bawah Guru Galuh. Itu kenaoa Guru Galuh mempercayakan beberapa urusan perguruan kepada Guru Seho. Padahal ada banyak guru-guru lain yang juga sama hebatnya dengan Guru Seho, namun memang masih setingkat di bawah Guru Seho.
Saat ini Guru Seho sudah menerjang ke arah Diana. Pedangnya ditebaskan ke bagian kepala Diana dengan kekuatan penuh. Diana tidak mau ambil resiko menangkis dengan oedang kecilnya. Namun dengan cepat dia menghindar ke samping dan pedangnya ditebaskan ke pedang Guru Seho. Kedua pedang beradu. Namun keuntungan bagi Diana karena menebas pedang itu dari samping, Guru Seho pun terbawa maju oleh pedang itu.
Sementara tangan kaki kiri Diana dia gunakan untuk menendang bagian pinggang Guru Seho. Guru Seho menyadari itu dan segera berguling ke kiri menghindari tendangan Diana. Tendangan pun lolos dan Guru Seho cepat bangkit berdiri.
"Wah, kamu ternyata hebat juga!" Seru Guru Seho.
Kemudian dia kembali menyerang Diana. Pedangnya diputar-putar hingga membuat putara seperti baling-baling. Dari putaran itu, terdengar angin kencang keluar dari sana. Angin iru mengarak ke Diana yang saat itu berdiri tegak dengan pedang di depan dada.
Menyadari lawan mengerahkan tenaga dalam, Diana juga tidak berani bermain-main. Tiba-tiba Diana melompat ke udara, lalu menukik tajam ke arah Guru Seho dengan ujung pedang diarahkan untuk mengacaukan baling-baling oedang milik Guru Seho.
Akhirnya kedua pedang kembali beradu. Kali ini kedua pedang memercikkan api dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.
"Trang! Trang! Trang!"
Tangan Guru Seho bergetar, pedan ditangannya terlepas. kulit tangan kanan melepuh seperti terbakar. Sementara Diana sudah menjejakkan kaki di tanah dengan kokoh tanpa ada luka apapun.
Semua orang terkejut mwlihat hal itu. Terlebih Guru Seho. Benar-benar dia telah meremehkan Diana.
Menyadari hal itu, Diana tidak tinggal diam. Tangan Diana bergerak dan sebuah benda melesat. Benda itu menancap di paha kanan Guru Seho. Guru Seho yang tidak berpikir akan diaerang, dia lengah. Tahu-tahu dia terjatuh terjerembab. Mukanya babak belur dan dia meringis kesakitan.
"Ampuni aku!" Teriak Guru Seho. Dia mencoba bangun dan menuju Diana lalu berlutut.
"Sudah terlambat. Kalian semua tidak akan luput dari hukumanku!" Kata Diana.
"Rocky dan kalian semua! Kalian tidak bisa kemana-mana. Jangan coba-coba kabur!" Teriak Diana.
"Serang!" Tiba-tiba Roy berteriak. Di detik berikutnya, mereka semua bergerak menyerang Diana. Namun, Guru Seho dan murid-muridnya memilih menyingkir, dan jika ada kesempatan, mereka akan kabur.
Rocky, Roy dan lainnya akhirnya bergerak maju menyerang Diana. Karmen mengambil pedang Guru Seho yang tergeletak di aspal. Dia pun ingin membantu Diana.
Fokus Diana kini pada Rocky dan Roy serta lainnya. Guru Seho memanfaatkan momen itu untuk kabur bersama murid-muridnya yang kini sudah pulih.
Diana tidak sempat lagi mencegah, lalu dia dan Karmen menghadapi Roy dan lainnya. Pertarungan memang tidak seimbang dalam jumlah, namun Diana dan Karmen bukan lawan mereka. Diana menghadapi Roy dan Rocky. Sementara Karmen menghadapi sisanya yang berjumlah puluhan orang.
Pertarungan akhirnya pecah dan dari pihak Roy, semua anak buahnya mati di tangan Karmen termasuk anaknya dan Lukas.
Melihat hal itu, Roy makin berang. Diapun menyerang dengan membabi buta seperti putus asa. Sementara Rocky berniat kabur memanfaatkan serangan dari Roy ke Diana.
Karmen menyadari itu, lalu dia menghadang Roy. "Diana! Rocky mau kabur!"
Karmen menyadari dia tidak akan menang melawan Rocky, jadi dia memilih menghadapi Roy.
Diana pun melompat, dalam sekejap, dia sudah berada di dwpan Rocky, menebaskan pedangnya dan leher Rocky terpotong. Mata Rocky melotot, dia benar-benar menyesal saat ini. Diana benar-benar menepati janjinya. Jadi Rocky mati dengan oenasaran. Tubuh dan kepalanya terpisah, matanya melotot.
Sementara Karmen juga sudah mengakhiri pertarungan dengan Roy. Dada Roy tertusuk pedang milik Guru Seho dan dia mati di tangan Karmen. Akhirnya mereka swmua dikalahkan.
"Ambil pedangnya dan kita segera pergi!" Teriak Diana pada Karmen.
Karmen mengambil pedang dari tubuh Roy, mengambil sarung pedang yang tergeletak di tanah, kemudian mengikuti Diana menuju mobil Jatmiko.
Sementara, sekitar lima puluh orang berbaju hitam dengan membawa mobil box sudah sampai di tempat itu. Mereka yang mengurus mayat dan meninggalkan jejak.
Area itu dibeesihkan hingga terlihat seperti tidak oernah terjadi apa-apa. Akhirnya mereka semua meninggalkan trmpat itu. Diana melanjutkan perjalanan menuju rumah barunya diikuti Jatmiko dan Pambudi.
"Guru Seho itu korban Rocky. Dia pikir bisa melarikan diri? Dia tidak bisa menghindariku." Kata Diana di dalam mobil. Lalu dia menoleh ke arah Dara. Dara tersenyum sangat manis di samping Diana di kursi belakang.