Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Ratu Keabadian


"Karmen, berjalanlah terus, jangan sampai berhenti di manapun, aku akan mencari Rangga dan segera kembali." Kata Diana, dia pun meminta kuda Karmen dan menyuruhnya naik kereta.


"Iya, Disna, berhati-hatilah. Aku akan membawa mereka semua dengan selamat." Jawab Karmen.


"Ibu!" Panggil Dara.


"Ibu mau mencari Paman Rangga, Dara sama Bibi Karmen dan Bibi Anita. Nanti Ibu kembali ya, sayang." Jawab Diana. Dara mengangguk. Tampak kedua tangan Dara diangkat minta dipeluk. Diana pun memeluk dan menciumnya.


Setelah itu, Diana naik ke kuda Karmen dan segera pergi. Kebetulan, jalan di hutan agak lembab, jadi jejak kaki kuda Rangga terlihat dengan jelas. Diana mengikuti jejak kaki kuda itu.


Diana berbelok di jalan setapak yang sempit. Dia mempercepat laju kudanya. Makin masuk, pohon-pohon makin rapat dan jalan makin sempit. Diana tidak bisa melarikan kuda dengan cepat.


"Kenapa Rangga tidak kembali saja?" Gumamnya ketika melihat jalan yang makin susah dilewati.


Namun Diana maaih bisa melihat jwjak kaki kuda milik Rangga.


*******


"Siapa kaluan?" Tanya Rangga setelah mengumpulkan tenaga dan bangkit berdiri. Masih ada sisa darah di sudut bibirnya.


"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu berani memasuki wilayah kekuasaanku?" Yang menjawab adalah gadis dengan mahkota.


"Bukankah hutan ini di bawah kekuasaan kerajaan Nusantara? Bagaimana kamu mengakuinya? Kamu membunuh setiap orang yang melalui jalan itu? Jalan itu dibangun oleh raja, bukan?" Tanya Rangga.


Tiba-tiba Rangga dikejutkan dengan sebuah kejadian. Rumah tua angker itu kini berubah menjadi kastil yang berkilauan. Dia kini berada di tanah lapang yang luas dan dikepung oleh ribuan tentara. Rangga sangat kagum karena kastil dilapisi dengan emas, sehingga berkilauan di bawah sinar matahari.


Rangga juga sekaligus terkejut. Dia kini dikepung oleh ribuan prajurit yang siap untuk berperang.


"Anak Muda, kamu dan teman-temanmu telah berani masuk ke dalam wilayah kekuasaanlu, aku adalah Ratu keabadian. Tidak ada yang selamat larena berani melanggar di wilayah kekuasaanku. Kamu akan segera dihukum mati!" Kata Wanita cantik yang mengaku sebagai ratu.


"Aku mohon padamu, biarkan teman-temanku pergi dengan selamat. Kalian boleh membunuhku, tapi jangan sakiti mereka." Ujar Rangga dengan tulus.


"Tidak bisa, setelah kamu, giliran teman-temanmu. Itu adalah konsekuensi karena berani melanggar kekuasaanku." Kata Ratu.


"Kami kan hanya lewat, bukankah itu jalan tidak digunakan? Bagaimana kamu berkata bahwa kami melanggar?" Jawab Rangga.


"Aku adalah penguasa. Aku tidak akan mencabut titahku. Kecuali.." Ratu tidak melanjutkan ucapannya.


"Kecuali apa?" Sahut Rangga.


Ratu tersenyum. Dia menatap Rangga dengan mata yang tajam.


"Gadis itu memiliki kalung. Jika dia menyerahkan kalung itu padaku, maka aku akan melepaskan kaluan semua." Jawab Ratu.


Rangga mengingat-ingat. Waktu itu Tuan El memang memberikan sebuah kalung kepada Diana, katanya itu dari Kakek Li. Ya, Rangga ingat, itu adalah Kalung Seribu Keajaiban. Tidak mungkin menyerahkan kalung itu ke orang jahat. Itu bisa membayakan bangsa manusia.


"Aku tidak tahu kalau dia punya kalung. Jika kamu melepaskan aky, aku akan berusaha menanyai temanku apakah dia punya kalungnya atau tidak. Jika iya, aku akan kembali lagi ke sini dan mebyerahkannya padamu." Kata Rangga. Itu adalah triknya.


"Hihihi! Memangnya semudah itu aku melepaskanmu? Aku tahu hatimu. Kamu ingin kabur dariku. Jangan mimpi, Anak Muda." Sahut Ratu dengan senyum sinisnya.


"Kamu mau menipuku, dan aku tahu hatimu yang jahat. Maka, aku akan mengambil kalung itu dengan paksa. Setelah membunuhmu, baru giliran teman-temanmu." Ratu mulai marah.


"Dengar! Mulai sekrang, tidak ada percakapan lagi! Serang dia!" Teriak Ratu.


Ribuan pasukan yang mengepung Rangga kemudian maju. Dengan senjata tombak dan pefang, mereka menyerang Rangga yang hanya sendirian.