
Setelah menelusuri sungai, Galang dan anton sampai di air terjun yang dimaksud. Air terjun itu kecil. Dan ternyata, air sungai itu berasal dari air terjun. Sekilas memang samar-samar, di balik air terjun itu terlihat agak gelap. Seperti ada sebuah pintu goa.
Anton melihat dengan jelas, bahwa itu memang sebuah pintu masuk ke dalam goa. Keduanya saling pandang. Anton maju lebih dulu dan melompat-lompat di bebatuan yang ada di kolam tempat jatuhnya air. Sampai di depan pintu goa, Anton memandang ke arah Galang. Lalu dia segera masuk ke dalam.
Galang pun mengikuti Anton. Dia meniru apa yang dilakukan oleh Anton. Akhirnya keduanya telah masuk ke dalam goa. Di dalam goa ternyata ada area yang sangat luas. Namun, area itu tidak ada apa-apa sama sekali.
Galang dan Anton berjalan mengelilingi area yang luas dalam goa, namun tidak menembukan apa-apa.
"Paman, ayo kita pergi saja. Di sini tidak ada apa-apa." Ajak Galang ketika memang tidak menemukan apa-apa sama sekali. Mereka juga heran, kata sopir bahwa ada orang aneh tinggal di sini, tapi kenapa tidak ada siapapun dan bahkan goa ini kosong.
"Baiklah, kita kembali saja. Mungkin memang goa ini kosong dan orang itu sudah pergi." Anton pun menyerah dan keduanya berjalan ke mulut goa.
Baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara terdengar seperti sebuah batu yang bergesekan. Galang dan Anton lalu menoleh ke belakang. Tampak dinding batu di belakang mereka bergerak hingga menimbulkan suara yang keras. Sampai akhirnya terlihat sebuah lubang besar seukuran tinggi tubuh manusia terbuka.
"Sudah datang kenapa langsung pergi?" Sebuah suara terdengar dari dalam lubang itu. Anehnya, di dalam lubang itu sangat terang seperti ada banyak lampu di dalamnya.
"Masuklah, aku sudah lama menunggu kalian!" Suara itu kembali terdengar. Anton dan Galang saling pandang. Dengan ragu, keduanya berjalan ke arah lubang itu.
Setelah masuk, mereka terkejut melihat sebuah ruang yang sangat besar mirip ruangan dalam rumah. Ruangan itu tampak sangat terang dengan banyaknya lampu yang menyala. Entah darimana lampu-lampu itu mendapatkan daya listrik.
"Kalian jangan terkejut. Seharusnya ketika kalian masuk tadi melihat di air terjun ada pembangkit listrik. Itu adalah buatanku untuk aku pakai sendiri." Kata seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi terbuat dari kayu.
Seorang berumur tujuh puluhan yang bicara tadi lalu berdiri. "Anton, kemana saja kamu selama ini? Aku sudah menunggumu sangat lama. Apakah cederamu sudah pulih?" Tanya orang tua itu.
"Iya, Paman. Aku sudah sembuh. Bahakan kakiku sama sekali tidak cacat setelah ditolong oleh Paman." Jawab Anton.
"Kalian duduklah!" Kata lelaki tua itu. Keduanya lalu duduk berhadapan dengan lelaki tua itu.
"Kalian tahu, aku sebenarnya sudah lama menantikan kalian datang. Karena aku ingin ikut dengan kalian dan tinggal di Kota S. Aku ingin memanfaatkan kemampuanku meramu obat dan menolong banyak orang. Ada banyak buku-buku kuno peninggalan leluhurku yang akan aku bawa ke kota S. Aku ingin minta satu saja pada Galang, buatkan aku rumah yang besar dan aku akan mendirikan perguruan ilmu pengobatan." Kata lelaki tua itu seperti sedang memohon.
"Bagaimana Kakek tahu namaku?" Tanya Galang heran. Kakek tua itu tertawa. Lalu melambaikan tangannya. Seperti mengisyaratkan sesuatu bahwa nama Galang cukup terkenal di Kota Pulau.
"Bukankah kamu cukup terkenal di Kota Pulau? Sekarang namamu saja sudah tertulis di alun-alun Kota Pulau. Foto kalian dibuat sepanduk sangat besar di sana. Kalian dianggap pahlawan." Kakek itu masih terkekeh saat bicara.
"Panggil saja aku Kakek Li. Aku datang ke negara ini karena ingin menyelamatkan peninggalan leluhurku yang tersimpan di sini." Kakek Li lalu berdiri dan berjalan ke sebuah rak buku. Di sana ada setidaknya puluhan buku.m
"Inilah harta peninggalan leluhurku selain ada satu peninggalan yang aku sendiri belum tahu siapa yang cocok akan memilikinya." Katanya sambil menunjuk sebuah kota yang terbuat dari logam tembaga. Entah apa isinya, namun Galang dan Anton tertarik pada kotak itu lalu berdiri dan mendekat.
"Apa isi kota itu, Paman?" Tanya Anton.
"Itu adalah sebuah kalung giok Seribu Keajaiban. Bagi siapa saja yang memang berjodoh dengan kalung itu, maka jika sudah menyatu dengan jiwanya, dia tidak akan terkalahkan. Kabar terakhir, yang memakai kalung itu adalah nenek buyutku. Aku tidak tahu pasti." Kata Kakek Li.
"Baiklah, Paman, ayo kita pergi dari sini. Galang akan membuatkanmu rumah di kota S. Kamu juga bisa mengajari murid agar ilmu yang kamu punya tidak berhenti. Jika memungkinkan, Galang juga akan membuat perusahaan farmasi. Itu akan sangat membantu dunia pengobatan." Kata Anton kemudian.
Lalu mereka pun segera berkemas. Memasukkan setiap benda yang ada ke dalam sebuah kantong yang mungkin sudah dipersiapkan. Setelah semua selesai, merekapun pergi dan kembali ke kediaman Sanjaya.
******
Jam dua dinihari, sebuah bayangan memasuki area kolam milik Rocky. Sosok itu tampak sangat tenang. Dia berajalan ke arah air mancur yang ada di tengah kolam.
Dengan sebuah gerakan, dia sudah sampai di sana, menginjak sesuatu dan ada sebuah pintu terbuka.
Lalu orang itu masuk dan terus berjalan di lorong jalan menuju ruang bawah tanah. Dia adalah Nenek Diah. Dia akan menyelamatkan para pengusaha yang telah disekap di penjara bawah tanah milik Rocky..
"Aku harus cepat!" Gumam nenek Diah.
Nenek Diah memang punya kecepatan yang sangat cepat. Dengan sekali gerakan, dia sudah sampai di depan pintu penjara.
Dua orang penjaga yang terkejut, langsung dibuatnya pingsan. Nenek Diah lalu berjalan mendekat ke penjaga itu, memeriksa tapi tidak menemukan kunci.
"Huh, dasar Rocky licik!" Nenek Diah menggerutu.
Awalnya dia mengira bahwa itu akan sangat mudah dan bisa langsung pergi menyelamatkan mereka. Tapi tidak ada kunci yang bisa digunakan.
Nenek diah lalu memegang gembok besar yang terpasang di pintu dan mulutnya berkomat-kamit seperti membaca sesuatu.
Tiba-tiba gembok itu meleleh. Para pengusaha yang ditahan di sana terkejut dengan yang dilakukan nenek Diah.
Akhirnya pintu terbuka. Nenek Diah membawa para pengusaha itu pergi dari sana. Dan membawa mereka ke pondoknya agar tidak diketahui oleh Rocky.
"Kalian sementara tinggal di sini sampai Galang dan Anton kembali. Setelah semua selesai, kalian akan bisa pulang." Kata Nenek Diah.
Lalu dia memberikan makanan kepada para pengusaha itu yang terlihat kumal dan kurus karena tidak terurus.