Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Hukuman Mati


Melihat sepuluh penyandera adipati dan keluarganya mati, Aryo menjadi panik. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Namun, saat itu kaki Rangga sudah menendang perut Aryo.


Aryo pun meringis kesakitan. Pandangannya menjadi gelap dan derik berikutnya dia sudah pingsan.


"Sinto, kamu sudah aku anggap seperri anakku sendiri. Tapi kamu menghianatiku!" Kata Adipati dengan raut muka sedih.


Sinto yang mendengar itu pun hanya tertunduk. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Sementara para prajurit yang jumlahnya banyak sekarang malah kebingungan. Tidak ada yang berani berbuat apa-apa selain hanya ikut menunduk.


"Paman, masih adakah sisa orangmu yang setia?" Tanya Diana.


"Ya, mereka ada di penjara, semuanya dipenjara dan itu semua ulah Aryo." Jawab Adipati.


"Karmen! Bisakah membantu melepaskan para tahanan?" Tanya Diana.


"Akan aku lakukan!" Jawab Karmen.


"Aku akan memgantarnya!" Kata anak dari adipati. Seorang pemuda dengan perawakan yang cukup besar.


Lalu keduanya naik kuda dan langsung menuju tempat penahanan prajurit yang masih setia pada adipati.


Saat memasuki sebuah jalan yang agak sempit dan gelap, keduanya dihadang oleh beberapa orang bersenjata pedang.


Orang-orang yang menghadang langsung menyerang Karmen dan putra adipati.


Karmen langsung menghunus pedangnya. Dengan gerakan cepat langsung saja menerjang orang-orang itu. Tanpa ampun, karmen segerw membunuh satu-persatu orang-orang yang menghadangnya.


Namun, tak cukup sampai di situ, masih ada banyak lagi orang lain yang datang menyerang. Karmen tidak mau ambil pusing, dengan kemampuannya, dia pun segera menghabisi orang-orang itu.


Saat tidak ada lagi yang menghadang mereka, keduanya meneruskan perjalanan. Hanya sekitar seratusan.meter saja sebenarnya mereka sampai di tempat di mana para prajurit yang masih setia ditahan.


Ketika keduanya sampai, hanya ada dua penjaga tersisa dan.mereka sudah berlutut sambil memgangkat kedua tangan.


"Cepat buka pintu!" Teriak Karmen. Kedua orang itu pun segera memgambil kunci, lalu pergi ke arah pintu besi, membukanya dan kemudian berdiri di samping pintu yang terbuka sambil menunduk.


"Raden Anggito!" Teriak para tahanan.


"Paman Lukito, kami datang menyelamatkan kalian." Jawab putra adipati. Lalu dia melepaskan ikatan pafda seorang yang dipanggilnya Lukito.


Lalu, setelah itu Lukito membantu melepaskan ikatan yang lainnya dan seterusnya sampai semua tahanan yang jumlahnya ribuan itu dilepaskan.


Saat semuanya keluar, Karmen terkejut ketika mengetahui jumlah orang yang ditahan sangat banyak. Dia baru tahu kalau ada ruang penjara yang muat ribuan orang.


"Apakah sudah semua?" Tanya Karmen.


"Masih ada banyak, kita akan pergi dahulu, Pendekar! Nanti yang lain menyusul." Jawab Rader Anggito.


"Tangkap kedua orang itu!" Teriak Karmen. Lalu Raden Anggito menangkap fua penjaga yang tersisa, meminta orang-orang mengikatnya dan membawa keduanya ke pendopo kadipaten.


"Raden! Siapa gadis itu?" Bisik Lukito.


"Dia adalah pendekar yang menyelamatkan kita. Ayo kita ke sana, nanti paman akan tahu." Jawab Anggito.


"Baik, Raden!" Sahut Lukito. Lalu mereka pun bergegas menuju pendopo kadipaten. Di sana, Diana sudah membuat keributan lagi. Saat Aryo siuman dan mulai ngomel-ngomel membuat Diana marah. Dia kemudian memberikan kesempatan pada Aryo untuk bertarung melawan Rangga. Jika Aryo bisa menang melawan Rangga, maka Aryo akan dibebaskan. Tapi jika kalah, maka dia akan dihukum mati. Dengan sombong, Aryo menyetujuinya. Berharap bisa lepas dari cengkeraman Diana.


Lalu pertarungan pun terjadi. Memang Aryo lumayan hebat, namun, lawan yang dia hadapi adalah Rangga. Yang viasa memghadapi ribuan musuh tanpa gentar sedikitpun. Rangga sangat senang bermain-main, dia hanya mengjindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Aryo.


Hal itu membuat Aryo penasaran dan i ngin segera menjatuhkan Rangga. Namun, Aryo tidak tahu jika Rangga bukan tidak bisa menyerangnya, tapi memang Rangga sedang mempermainkannya.


"Rangga! Kenapa lama sekali!" Teriak Diana.


Rangga kemudian mundur, menghunus pedangnya, lalu menyerang ke arah Aryo yang sedang kalap menyerang Rangga. Tanpa ampun, Rangga sudah berhasil.menyarangkan pedangnya dan pedang itu tepat menembus jantungnya.


Aryo membelalakkan mata, dia memang menginginkan itu. Dia ingin mati. Dan Rangga memberinya itu.


Raat tubuh Aryo jatu, saat itulah Karmen dan Anggito datang bersama Lukito dan lainnya. Mereka melihat Rangga yang masing memegang pedangnya dan bercucuran darah Aryo.