Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Diana Dan Dara


Diana menatap Karmen dengan pandangan terharu. Dia sama sekali tidak mengenal Karmen. Gadis cantik ini seperti sangat dekat dengan dirinya. Dia bahkan tidak segan memeluk Diana yang tak dikenalnya.


"Diana! Di mana nenek?" Galang yang sedari tadi diam membuka suara dan menanyakan neneknya.


Diana menatap Galang dengan pandangan menyelidik. Tadi malam Galang tidak mempercayainya. Galang mendekatinya. Dengan pandangan yang tajam sekali lagi Galang bertanya, "Di mana nenek? Aku akan mengajaknya pulang."


"Dia..." Diana tidak melanjutkan ucapannya. Dia bingung untuk menjawab. Galang maklum dengan keadaan Diana.


"Diana, tidak apa-apa. Dia serius." Ucap Karmen.


"Diana, bawa kami ke tempat nenek!" Pinta Galang. Diana yang kebingungan jadi tidak bisa bicara. Sementara puluhan karyawan juga kebingungan. Apakah Diana sudah memiliki anak?


"Diana! Apa kamu bisu? Kamu ditanya tidak menjawab!" Lili yang sangat membenci Diana membuka suara.


"Diam kamu!" Yang bicara adalah jatmiko. "Sapa yang menyuruhmu bicara? kamu tidak tahu siapa Nona Diana sebaiknya diam saja, kalau tidak kamu pasti mati!" Jatmiko melanjutkan.


Lili langsung diam. Dia sangat ketakutan mendengar Jatmiko mengucapkan kalimat itu.


Lalu tiba-tiba tubuhnya oleng dan terduduk lemas. "Maafkan aku." Suaranya lirih seperti tidak ada tenaga.


"Diana, ada apa dengan tanganmu? Apa ada yang menyakitimu?" Tanya Karmen ketika melihat tangan Diana yang merah seperti baru saja terkena pukul.


Diana menoleh ke arah Johan. Dia sama sekali tidak peduli dengan pria itu. Ketika dia melihat Johan, sontak Karmen mendatangi Johan.


"Apa kamu menyakitinya?" Tanya Karmen saat tiba di hadapan Johan.


"Aku...tidak..." Johan gelagapan tak bisa menjawab.


"Jawab!" Tanya Karmen sekali lagi. Dua orang pengawal berbaju hitam mendatangi Johan dan memegang kedua tangannya. Lalu kakinya ditendang dan akhirnya Johan berlutut.


"Ampuni aku!" Teriak Johan ketakutan.


"Aku tadi mendengar kamu mengancam Nona Diana, memecatnya dan kamu bilang Nona tidak bisa bekerja di manapun." Jatmiko kemudian mendatangi Johan.


"Ampuni saya, Tuan. Saya salah. Ampuni saya." Suara Johan makin memelas. Dia sama sekali tidak menyangka jika Diana merupakan gadis dari keluarga terhormat dan memiliki kemampuan. Johan sangat menyesal dengan perlakuannya pada Diana. Begitu juga dengan karyawan lainnya. Mereka selama ini memusuhi Diana dan sering menjebaknya agar dipecat oleh Pak Harun.


Kini, Jika Diana balas dendam, maka tamatlah riwayat mereka.


"Lepaskan saja dia!" Diana bicara pada Jatmiko. "Baik, Nona!" Jawab Jatmiko. Lalu kedua pengawal itu melepaskan Johan.


"Terimakasih, Diana. Ah, tidak! Terimakasih Nona.!" Seru Johan pada Diana karena senang dia dilepaskan dan tidak dihukum


"Ayo ke tempat nenek!" Ajak Galang. Diiringi pandangan orang-orang di sana, merekapun pergi meninggalkan gudang dan menuju ke tempat nenek Diah.


Para karyawan di gudang tidak menyangka jika Diana sebenarnya adalah seorang Nona besar. Seorang yang begitu terhormat. Namun hidup secara sederhana dalam kemiskinan.


Mereka menganggap Diana hanya seorang yang kecil dan miskin. Tak pernah sekalipun mereka menghargai Diana. Bahkan mereka seringkali membencinya dan menjebaknya agar melakukan kesalah dan dipecat.


Akhirnya, sampailah mereka di pondok kayu Nenek Diah. Sebuah pondok kecil yang sempit terbuat dari kayu dan beratapkan seng.


Para tetangga pun heran, siapa sebenarnya yang mereka kunjungi. Saat mereka terheran-heran, beberapa pengawal turun dan membukakan pintu mobil. Keluar Jatmiko, Galang, Karmen, Rangga dan terakhir Diana yang menggendong Dara.


Diana segera berjalan dengan cepat menuju pondok, mengetuk pintu dan memanggil neneknya.


Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam pondok. Pondok itu sepi. Diana memang tak pernah pulang sepagi itu. Jadi dia tidak pernah tahu apa yang dilakukan neneknya setiap dia kerja.


Diana pun membuka pintu, masuk dan mendapati pondok itu kosong. "Nenek di mana?" Gumam Diana.


Ruangan yang sempit itu tidak dilengkapi kamar dan dapur. Hanya ada kamar mandi saja. Tempat tidur juga hanya ada di ruangan itu dan dapurnya juga dekat kamar mandi.


Dulu saat kakek masih ada, mereka tinggal di rumah yang lumayan bagus. Namun ketika kakek meninggal, Nenek menjual rumah itu dan membeli pondok itu. Uang hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sampai akhirnya Diana mendapat pekerjaan.


"Diana! Lihat ini!" Kata Karmen lalu memberikan sebuah amplop.


Diana menerima amplop itu dan membukanya.


"Diana, nenek pergi dulu. Kamu ikutlah Galang. Dara juga merupakan anakmu. Nenek ada urusan yang harus diselesaikan. Jadi nenek pergi dulu. Kamu harus hidup lebih baik. Sudah lama kamu menderita. Bukan berarti kamu memanfaatkan Galang dan Dara. Tapi itulah takdirmu. Kamu punya masa depan.


Di sini bukan masa depanmu. Nenek akan selalu mengawasi kalian. Dan akan datang sering-sering. Salam nenek untuk Galang dan Dara. Nenek menyayangi mereka. Dara adalah cucu buyutku. Ada darah nenek yang mengalir di darahnya.


Nenek akan selalu menjaganya. Kamu, jangan bersedih. Nenek akan selalu mengunjungi kalian kelak. Setelah urusan nenek selesai, Nenek akan mengunjungi kalian.


Ingatlah! Jangan pernah menindas orang dengan kekuatanmu. Itu akan membuat kakek sedih.


Diana, Pergilah, Nak. Jangan sedih."


"Nenek." Diana kemudian menangis sedih. Dia memang sejak kecil dirawat oleh neneknya. Walaupun neneknya sangat cerewet dan suka ngomel-ngomel, namun nenek juga sangat menyayanginya.


"Diana, ayo kita pergi." Galang pun mengajak Diana. Galang sempat membaca surat nenek. Dan dia tahu bahwa nenek menginginkan Diana ikut dengannya.


Saat ini Dara yang kebingungan, memandang Diana. Melihat airmata Diana, Dara berusaha menghapus air mata Diana.


"Ibu." Panggil Dara. Dia pun menyadari, Dara masih dalam pelukannya. Lalu dia menghapus airmatanya dan tersenyum pada Dara. Dara ikut tersenyum.


Melihat Dara tersenyum, ada rasa tenang di hati Diana. Keduanya lalu sama-sama tersenyum.


"Dara, aku akan merawatmu sekuat tenagaku. Demi Riana Ibumu." Gumamnya dalam hati.


"Diana, ayo kita pergi." Karmen kemudian membantu diana berdiri. Tubuhnya agak lemah karena kesedihan. Namun kini dia memiliki semangat baru. Dia harus merawat Dara sebagai ganti ibunya yang sudah tiada.


Semua orang ikut larut dalam kesedihan Diana. Bagaimana pun, Diana selama ini hidup dalam penderitaan setelah diusir oleh Paman Han dan istrinya.


Diana kecil yang lucu harus hidup terpisah dari saudara kembarnya dan ikut nenek dan kakeknya. Selama puluhan tahun tak pernah bertemu, namun akhirnya dia kehilangan saudara kembarnya untuk selamanya.


Diana akhirnya ikut bersama Galang pulang ke rumah Jatmiko. Selama dalam perjalanan, Dara selalu menemaninya bersama Karmen.


Karmen yang juga seorang wanita, sangat memahami pikiran Diana saat ini.