
Hari kelimabelas yang dijanjikan Raja sudah tiba. Musuh menginginkan penyerahan semua wilayah kerajaan tanpa perlawanan. Namun, pagi itu, pasukan Diana sudah bersiaga dan menunggu musuh datang. Area tanah lapang yang sangat luas sudah siap menjadi saksi pertempuran besar.
Benar saja, musuh juga sudah bergerak ke arah tanah lapang yang luas itu. Sejumlah pasukan yang sangat besar membuat suara bergemuruh bagaikan sebuah gelombang air bah.
Seorang prajurit mata-mata datang dengan kuda. Dia melarikan kuda dengan kencang dan menuju Diana. Saat itu, Diana swdsng bersama Raja dan para Jenderal serts para Pangeran di barisan depan.
Prajurit mata-mata segera turun, berlutut dan dengan cemas langsung berkata, "Yang Mulia, sekitar dua ribu pasukan musuh berputar dan menuju istana melalui jalan utara. Prajurit mata-mata sedang mengikuti mereka. Mereka dipimpin langsung oleh Panglima dari pasukan musuh!"
"Rangga, Karmen, kamu ikutlah denganku. Para Jenderal! Kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan untuk menghadapi mereia. Kami bertiga akan mencegah mereka sampai ke istana. Lindungi Raja dan jika memungkinkan, gunakan peralatan perang selama mungkin sampai kami kembali!" Kata Diana setelah mendengar laporan.
"Yang Mulia Panglima! Apakah kamu tidak membawa pasukan untuk menghadapi mereka?" Tanya Jenderal Sutono.
"Itu tidak perlu, Karmen dan Rangga sanggup menghabisi mereka, dan aku akan menghadqpi Panglima mereka." Jawab Diana.
Mendengar itu, Raja pun mengusulkan untuk membawa beberapa pasukan dengan peringkat master. Pasukan itu selama ini berada di sisi Raja sebagai pelindung. Jumlahnya hanya seribu prajurit.
"Itu tidak perlu, Yang Mulia!" Jawab Diana.
Daat berikutnya, Kuda Diana, Karmen dan Rangga telah melaju dengan sangat cepat dan dalam hitungan menit, ketiga kuda mereka sudah tidak terlihat, hanya debu bekas kaki kuda mereka yang masih terlihat.
Diana yakin, istana juga masih ada prajurit yang menjaga, jadi jika dia terlambat, setidaknya masih ada prajurit yang menghambat mereka sampai ke dalam istana.
Diana, Karmen dan Rangga terus melarikan kuda dengan sangat kencang. Ketiganya tentu saja yang utama demi menyelamatkan Dara dan Anita.
Prajurit musuh pergi ke istana melalui jalan sebelah utara, sedangkan Diana dari arah timur, dsn mereka langsung masuk melalui gerbang utama di timur.
Tentu saja ini membuat warga istana ingin tahu apa yang terjadi. Namun, tidak ada informasi apapun yang mereka dapatkan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Diana sudah tiba di pintu gerbang istana sebelah utara.
"Buka gerbang!" Teriak Diana. Para prajurit penjega saling pandang. Mereka kebingungan.
"Cepat buka gerbang, setelah kami keluar, tutup lagi dan tidak ada yang boleh keluar masuk melalui gerbang ini!" Teriak Diana yang mengenakan baju besi berwana perak.
"Lihat, dia adalaah Panglima! Cepat buka gerbang!" Teriak seorang prajurit penjaga.
Lalu, gerbang dari besi mulai terbuka.
"Lihat! Ada ribuan prajurit dari arah sana!" Teriak seorang prajurit di atas benteng istana.
Prajurit yang berjaga di benteng lalu melihat ke arah ribuan tentara yang datang. Mereka awalnya mengira kalau itu adalah prajurit pengawal Raja. Namun setelah makin dekat, ternyata itu adalah pasukan musuh.
"Pasukan musuh telah mengepung istana!" Teriak salah seorang prajurit. Hal itu didengar oleh sebagian penduduk istana. Tentu saja hal itu diteruskan ke warga lainnya. Dan itu membuat kepanikan di dalam istana.
Diana yang masih menunggu pintu gerbang terbuka lebar menjadi sangat marah. "Kamu! Apa yang kamu katakan! Kamu ingin membuat seluruh istana panik!?" Bisakah kamu diam dan perhatikan ucapanpu?"
"Maafkan saya, Yang Mulia!" Teriak prajurit itu sambil berlutut.