Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Diserang Panah


Selesai berbicara, Rangga langsung duduk, saat itu makanan sudah datang. Mereka saling berpandangan. Aneh memang, tidak ada piring maupun sendok makan. Makanan itu diletakan di sebuah tempat mirip.piring, namun terbuat dari lidi. Di atasnya ada daun pisang yang sudah dipanaskan.


Ada nasi putih, sambal terasi dan juga ada daging. Itu seperti daging ayam, namun berwarna hitam karena dibakar. Ada lalapan mulai dari kacang panjang dipotong pendek, kubis, potongan timun dan daun kemangi. Di dalam sambal juga ada tempe dan terong yang sudah digoreng.


Diana mencuci tangannya, lalu dia mencobanya. Setelah merasakan, Diana pun memgambil yang kedua kalianya. Dia merasakan bahwa itu enak. Dia tidak memperhatikan Rangga, bahkan Rangga sudah menghabiskan separuh makanannya.


"Apa?" Tanya Diana.


"Ini enak.. Saat kembali ke kota M, aku akan membawanya. Mungkin kita bisa belajar memasak dan menjual makanan seperti ini." Kata Rangga.


"Itu mungkin cocok untukmu, aku tinggal beli saja." Balas Diana.


Mereka pun lahap makan. Rangga sampai minta tambah. Dia sudab tidak peduli dengan aturan makan di asalnya. Yang jelas, ini enak dan dia akan makan di sini lagi kapan-kapan.


"Diana, aku mau minta dibungkus unruk dibawa pulang. Mungkin Karmen dan Anita akan suka." Kata Rangga.


"Pesanlah lebih banyak. Kepala desa dan laimnya pasti juga mau." Sahut Diana.


Setelah makan, Rangga memesan lagi untuk dibawa pulang. Dia memesan banyak untuk di rumah. Diana hanya tersenyum. Lalu dia dan Rangga mulai minum arak sambil mengobrol.


Namun, sesaat ketika mereka sedang asyik minum, ada puluhan anak panah yang menerobos masuk. Diana sudah menyadari sejak awal. Dia bergerak cepat, menghunus pedan dan dengan pedangnya, dia menangkis serangan anak panah pada dirinya.


Namun, itu belum cukup. Masih ada lagi anak panah yang menuju ke arahnya. Diana sangat gesit. Serangan demi serangan dapayt dipatahkan. Dia sama sekali tidak kehilangan tenaga.


Diana memperhatikan mereka. Yang jelas Diana tidak mungkin mengenal mereka. Sambil terus melompat ke sana kemari membabat anak panah, Diana semakin dekap kepada para penyerang. Kin semua mata tertuju padanya.


Para pengunjung pasar tradiaional memilih menjauh jika tidak ingin mati karena salah sasaran. Namun mereka tidak ingin menyia-nyiakan tontonan menarik itu. Mereka semakin mengagumi Diana.


Dia sangat hebat dan gerakannya sangat lincah. Belum pernah mereka menjumpai pendekar sehebat ini.


Saat Diana sudah dekat dengan mereka, prajurit di belakang para pemanah berlompatan menyerang Diana. Diana tidak masalah. Dia yang masih memegang pedang Cakar Naga langsung menebaskan pedangnya. Terlihat zebuah cakar besar langsung membuat sayatan besar di tubuh para prajurit dan langsung mati.


Prajurit lainnya yang menyerang menjadi ragu, namun Diana tidak lagi berbasa-basi. Di sekali lagi menebaskan pedangnya. Sebuah cakar besar kembali beraksi membuat mereka semua tumbang dan langsung mati.


Duana tahu ini adalah kerjaan Suro Kampak. "Tuan Pendekar! Mereka adalah prajurit-prajurit dari negeri seberang. Pimpknan mereka bekerjasama dengan Suro Kampak." Yang bicara adalah Jogoboyo.


"Paman, bisakah membantuku untuk menguburkanmayat-mayat itu? Aku akan menyuruh orang-orang di sini membantu, pasti mereka mau." Pinta Diana.


"Baik, aku akan memnawa beberapa orang untuk mrnggali." Jawab Jogoboyo.


"Mengenai mereka prajurit dari negeri seberang, itu menjadi tanggung jawabku. Aku akan membereskan mereka semua." Ujar Diana.


"Kalian semua! Daripada menonton saja, lebih baik kalian bantu menguburkan mayat-mayat itu! Jangab biarkan membusuk di sini dan akan mebimbulkan bau di pasar!" Teriak Diana.


Setiap laki-laki yang mendengar itu langsung membantu Jogoboyo dan lainnya mengangkat mayat para prajurit dan di bawa ke tempat pemakanman. Hanya saja, Jogoboyo memerintahkan hanya menggali satu lubang besar untuk mayat-mayat itu dan menumpuk mereka di lubang itu.