Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Berpisah Lagi


"Bibi Mei, seperti apa wajah ayah dan ibuku?" Tanya Galang lalu menangis. Galang tidak bisa membendung perasaannya ketika berada dalam pelukan Bibi Mei.


"Dia sangat tampan sepertimu, Galang. Dia orang yang sangat baik, menolong siapa saja yang memang harus ditolongnya. Sedangkan ibumu, dia sangat cantik dan penuh kasih sayang." Bibi Mei mengusap kepala Galang dan ikut menangis. Cintya dan ibunya juga ikut menangis.


Cintya memang sangat lama berpisah dengan ayahnya dan baru kembali bertemu saat dia sudah dewasa. Tapi Galang sudah tidak bisa bertemu dengan ayah dan ibunya lagi karena mereka sudah tidak di dunia ini lagi. Mengingat itu, Cintya ikut sedih dan tentu saja ikut menangis.


Semua orang larut dalam kesedihan, terutama Galang. Bertemu bibi kandungnya, terasa berdekatan dengan ayah dan ibunya. Galang seperti seorang anak yang sedang dimanjakan oleh ibunya.


Hampir satu jam Galang menagis. Akhirnya dia pun merasa kesedihannya berkurang. Apalagi dia kini sudah bertemu keluarganya yang lain. Galang merasa senang.


Semua masih diam dan tidak ada yang bersuara. Ketika tiba-tiba ponsel Anton berdering dan ada panggilan video dari Diana. Anton segera menjawab panggilan, muncul di layar ponsel wajah Dara.


"Kakek!" Teriak Dara. Anton tersenyum dan melambaikan tangan.


"Oh... Cucu kakek yang telepon ya?" Anton menjawab Dara. Dara pun mengangguk dan tersenyum. Di sebelahnya ada Diana.


"Paman, kenapa Galang tidak membawa ponselnya? Tadi telepon ke ponselnya yang menjawab Rangga." Tanya Diana.


"Galang ada di sini, Diana." Jawab Anton.


"Dara menanyakannya." Kata Diana. lalu Anton memberikan ponselnya pada Galang. Galang menerima ponsel itu dan langsung melihat Dara.


"Ayah!" Dara berteriak lagi membuat semua orang di ruangan itu tersenyum. Lalu Bibi Mei dan Istri Anton juga ikut melihat ke ponsel dan gambar merekapun terlihat oleh Dara.


Dara yang melihat itu langsung memeluk Diana. "ibu....." Dara merengut, menyembunyikan wajahnya di pundak Diana.


"Dara, ini nenek." Kata Galang. Mendengar kata nenek, Dara langsung memandang ke ponsel lagi, namun setelah melihat, Dara kembali memeluk Diana. Dia tidak melihat nenek di sana. Nenek Dara adalah ibu angkat galang, atau wanita tua yang penah ditemuinya dan dipanggilnya nenek.


Galang lalu berjalan dan menuju Diah, "Ini siapa?" Tanya Galang, Dara menoleh dan melihat Diah.


"Nenek Uyut." Ucap Dara dengan pelan. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan mata dan malu-malu. Diana sangat terkejut. Ternyata neneknya bersama Galang.


"Cucu Buyut, kamu sudah makan, kah?" Tanya Diah.


"Sudah! Ayam Goleng!" Jawab Dara memberitahu bahwa dia sudah makan ayam goreng.


Semua orang tertawa. Sebelum Galang kemari, Anton sudah menceritakan semua mengenai siapa ayah angkat Galang dan semua cucunya, istri Galang dan saudara kembarnya hingga Rangga dan Karmen, serta berbagai perusahaan milik galang yang kini semuanya diserahkan pada Diana, baik di Kota S maupun di provinsi Kepulauan.


Dara tersenyum malu-malu, lalu kembali memeluk Diana. "Ibu, sudah!" Lalu Dara pun melepasklan pelukannya dan pergi dari sana. Diana, Dara dan Karmen masih di kapal dan baru saja akan berlabuh.


"Diana, bagaimana dengan kalian? Apa ada masalah?" Tanya Galang yang sebenarnya agak kuatir dengan keadaan mereka. Apalagi sekarang Rangga juga ikut bersamanya ke negara seberang.


"Kami baru saja sampai di Pulau Bintang. Dan ternyata di sini berkumpul Paman dan Bibi serta keluarga lainnya. Nenek memang ada bersamaku dan ikut ke Malaka." Mereka pun berbincang dan mengenalkan semua orang kepada Diana. Akhirnya panggilan ditutup.


"Paman Anton, secepatnya kami berangkat. Kami tidak bisa menunda waktu lagi. Aku kasihan dengan Diana, Dara dan Karmen." Galang membuka percakapan.


"Apa maksudmu dengan kami?" Tanya Anton.


"Paman baru saja bertemu dengan Bibi dan Cintya, sebaiknya Paman tinggal di sini. Saat kembali ke Kota S, kami akan mampir di sini." Jawab Galang mengambil kepuitusan. Dari sejak dia tahu bahwa istri dan anak Anton ada di sini, Galang tidak tega membiarkan mereka berpisah lagi.


"Galang, kami tidak apa-apa. Ayahmu menugaskan Pamanmu untuk menjagamu tentu ada alasannya. Dan sebagai seorang prajurit dan ksatria, Pamanmu harus setia dan patuh pada tugas." Kali ini yang bicara adalah istri Anton yang bernama Arumi.


Dia memang sulit untuk berpisah dengan suaminya yang baru saja ditemuinya. Namun, itu adalah tugas yang diberikan kepada suaminya, maka dia juga harus patuh.


"Anton, biarkan aku menggantikanmu." Tiba-tiba David membuka suara.


"Apa yang kamu katakan, David? Kamu akan tetap di sini sebelum Galang membuat keputusan berikutnya. Ini sudah menjadi tugas bagiku, maka aku akan melaksanakan tugas sampai akhir." Anton menolak David yang ingin menggantikannya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Lagipula, aku tidak banyak kerjaan, mungkin aku bisa menemani kalian jalan-jalan. Sudah lama aku tidak bepergian jauh." Nada suara David seperti memang dia ingin ikut bersama Galang dalam perjalanan kali ini.


"Tidak perlu, Paman. Aku akan memberi tugas saja pada Paman David. Aku akan mengatakannya setelah kembali dari Malaka." Kata Galang menolak David.


"Oh, Galang memang pintar menolak. Aku hanya ingin jalan-jalan saja. Aku bisa tinggal di kapal sewaktu kalian keluar dari kapal." David kembali memohon.


"David, apa yang kamu katakan? kamu tidak bisa meninggalkan Pulau Bintang untuk saat ini. Galang sudah mengatakannya tadi, kamu saja yang tidak paham." Anton segera mencegah. Pulau Bintang adalah Pulau milik Keluarga Bintang. David harus menjaganya.


"Iya, iya aku mengerti." David cemberut. Di wajahnya nampak sekali ada kekecewaan.


"Maaf, Paman David. Paman harus menjaga Bibi Mei, Bibi Arumi dan Cintya bersama Josh. Jangan biarkan mereka disakiti orang lain. Jika itu terjadi, aku akan memarahi Paman." Kata Galang sambil berkacak pinggang seperti seorang tua yang sedang memberi peringatan pada anaknya.


"Kamu semakin mirip dengan ayahmu, Galang." Bibi Mei berkata sambil tersenyum. lalu tangannya dipukulkan ke kepala Galang. Galang tertawa, dan semua menjadi ikut tertawa.


"Ayah, bolehkah aku ikut?" Tanya Cintya tiba-tiba.


"Oh, tidak boleh. Kamu harus menjaga Bibi. Jangan sampai Bibi menangis. Kalau itu terjadi aku akan menghukummu nanti. Tidak ada yang boleh keluar dari pulau ini tanpa seizinku." Galang langsung menjawab Cintya.


Galang sebenarnya tidak ingin mengorbankan siapapun dalam perjalanannya. Dia sudah ditemani oleh kakek Li dan Nenek Diah. maka dia sudah aman. Galang hanya ingin melindungi mereka semua.


Malam itu, mereka menginap di rumah David. Dan paginya, Galang dan orang-orang yang bersamanya pun berangkat menuju Malaka.