
Pagi itu, Raja sedang berada di atas tahta. Dia hanya diam saja tanpa memgucapkan sepatah katapun. Sementara beberapa pangeran berdiri di hadapannya bersama puluhan petinggi prajurit.
Mereka semua sedang menanti keputusan Raja untuk segera memgumumkan panglima baru yang akan memimpin mereka dalam pertempuran kelak. Panglima Rungkut yang menjadi prajurit andalan kerajaan telah tewas dalam perang terakhir melawan pasukan musuh.
Selain kehilangan Panglima Rungkut, kerajaan juga kehilangan sekitar lima belas ribu prajurit saat perang menghadapi pasukan dari negara seberang.
Namun, sudah dua kali pertemuan, Raja masih belum memberi keputusan. Sedangkan waktu pelaksanaan perang hanya tinggal lima belas hari saja. Itu pun prajurit dari setiap kerajaan dan kadipaten belum datang. Mereka baru akan datang sekitar tiga hari mendstang.
"Yang Mulia! Apakah tidak menunjuk Panglima baru sekarang? Waktu kita sangat mendesak!" Kata Pangeran Ludira. Dia adalah anak tertua Raja dari permaisuri. Ludira juga merupakan seorangnprajurit yang gagah berani. Dia memiliki kemampuan tempur yang tidak diragukan.
Sebenarnya, permaisuri sudah mengusulkan Pangeran Ludira untuk menjadi Panglima Perang, namun Raja menolaknya. Bagaimanapun, Ludira adalah calon penggantinya. Dan dia tidak ingin Ludira ikut berperang.
Namun, Ludira yang adalah seorang prajurit, tentu saja tidak akan diam ketika negaranya dalam keadaan perang. Sementara ada puluhan Pangeran yang merupakan saudara dari Pangeran Ludira yang juga prajurit. Di antara mereka ada Pangeran Erlangga, Pangeran Lintang dan lainnya.
Mereka telah dididik menjadi prajurit sejak masih kecil.
"Ludira! Aku sudah katakan padamu, aku sedang menunggu seorang ksatria dari masa depan. Dia akan datang kemari dan dialah yang akan menjadi panglima kita. Aku sudah mendapat petunjuk bahwa ksatria itu akan sampai di sini hari ini." Jawah Yang Mulia Raja.
"Yang Mulia sangat bijaksana. Kami pasti mendukung apa yang akan Yang Mulia titahkan!" Sahut Ludira.
Raja kembali diam. Mereka semua tidak ada yang bicara lagi. Untuk waktu yang lama, ruangan besar yang disebut Balai Agung itu tidak ada suara. Bahkan jika ada jarum jatuh, itu akan terdengar sangat keras.
Tiba-tiba, Raja berdiri dan berkata, "Sudah saatnya!"
"Yang Mulia, tiga orang pendekar meminta untuk memghadap!" Kata prajurit itu.
"Biarkan masuk!" Kata Raja.
Prajurit itu segera undur diri. Saat kembali, dia masuk membawa Diana, Rangga dan Karmen.
Saat melihat Diana, Raja matanya berbinar. Dia sudah mengetahui bahwa dialah yang dimaksud oleh ramalan mimpinya. Seorang ksatria yang akan memimpin mereka dalam peperangan melawan bangsa asing.
Tanpa bicara apapun, Diana lalu maju bersama Karmen dan Rangga. Mereka bertiga menundukkan kepala.
"Kami datang atas petunjuk Tuan El, Yang Mulia!" Kata Diana saat itu.
"Aku tahu, hal itu sudah ditakdirkan. Anda adalah ksatria yabg sedang kami tunggu!" Jawab Raja.
Namun, ketika melihat Diana, Karmen dan Rangga, semua yang ada di Balai Agung seperti tidak percaya. Mereka hanya melihat anak-anak muda yang cantik dan tampan. Hanya saja, di pungung mereka ada pedang.
"Yang Mulia..." Ludira ingin bicara, namun Raja menghentikannya dengan mengangkat tangannya.
"Ludira, kamu harus belajar menghargai orang lain. Bukan yang kamu lihat lantas yang kamu lihat sesuai keinginanmu. Tetapi, kamu akan tahu apa yang belum pernah kamu lihat melebihi keinginanmu." Kata Raja.