
Pagi itu Kota M heboh. Semua media memberitakan kejadian di kediaman Gubernur. Peristiwa tadi malam telah menarik perhatian penduduk kota M dan sekitarnya.
Sementara di Perguruan Paser Maut, para guru juga ikut melihat berita di televisi mengenai rencana pembunuhan Gubernur yang berhasil digagalkan oleh seorang gadis cantik.
Tidak ada video yang ditampilkan, namun ada dua orang gadis cantik yang muncul di layar televisi. kedua gadis itu adalah Diana dan Karmen.
"Wah, dua gadis ini yang menggagalkan aksi pembunuhan gubernur?" Teriak Guru Nang.
"Menurut kalian, siapa gadis itu? Apakah lebih hebat dari Guru kita?" tanya Guru Lin penasaran.
"Coba dengarkan!" Kata Guru Tio.
"Gadis cantik itu bernama Diana. Dia berasal dari Kota S. Diundang oleh Gubernur karena diminta untuk investasi pada pembangunan proyek tempat wisata." Terdengar penjelasan mengenai siapa gadis cantik yang fotonya terpampang di layar televisi.
"Seorang diri, Diana berhasil membekuk kawanan pembunuh bayaran yang diduga berasal dari pasukan elit. Kedelapan orang berhasil dibuatnya pingsan hanya dalam waktu beberapa menit. Padahal kawanan pembunuh bayaran membawa senapan otomatis. Tak hanya itu, Diana juga berhasil menghadang dua peluru yang menerjang Gubernur dengan senjata rahasia." Lanjut pemberitaan.
"Wah, itu sangat keren!" Kata Guru Tio memuji.
"Ada apa?" Tanya seseorang.
"Guru Seho! Lihat, ada seorang gadis cantik menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Gubernur!" Jawab Guru Lin.
Guru Seho lalu mendekat dan melihat ke televisi, saat melihat wajah Diana, wajahnya berubah. Dia terlihat seperti orang yang tidak sehat.
"Guru Seho, ada apa?" Tamya Guru Tio penasaran.
"Oh, tidak apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan." Jawab Guru Seho asal-asalan. Lalu dia pergi dari tempat itu dan langsung menuju baraknya.
"Ada apa dengan Guru Seho? Tingkahnya makin aneh akhir-akhir ini." Tanya Guru Retno. "Begitu melihat televisi, wajahnya langsung berubah. Apa ada masalah serius dengannya?"
"Sudahlah, sepertinya memang dia butuh menyendiri. Biarkan saja dia begitu.." Jawab Guru Lin.
*******
Pagi itu setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Diana mengajak Dara keluar kamar. Mereka langsung menuju restoran. Restoran tampak sangat ramai orang yang kebanyakan minum teh atau kopi.
Padahal, jika pagi, tiap kamar mendapat jatah sarapan dan minuman teh atau kopi. Namun, hari ini orang malah minum di restoran, bahkan ada yang sarapan pagi.
Hal ini sebenarnya karena kejadian semalam. Orang-orang yang suka bergosip tentu saja tidak akan melewatkan obrolan kejadian semalam di kediaman gubernur.
Walaupun ini adalah hotel bintang lima, namun restoran dibuat tidak berlebihan, tempatnya sungguh enak untuk santai.
Dara tidak mau digendong, tapi dia berjalan sendiri sambil tangan sebelah kiri memegang jari telunjuk Diana. Di tangan kanannya ada botol susu dan susu masih hangat.
Berita televisi di restoran masih menampilkan kejadian malam tadi. Itu menjadi headline semua media televisi, koran, radio dan media online. Wajah Diana berkali-kali ditampilkan di sana.
Saat memasuki restoran, orang-orang menatap Diana lalu menatap ke arah layar televisi. Lalu mereka saling berbisik. Diana tidak peduli dan langsung mengambil tempat duduk yang masih kosong. Dara yang imut tentu saja tidak paham dengan itu semua.
Saat itu seorang pelayan menghampirinya, "Mau pesan apa, Nona?"
"Aku pesan teh panas saja." Jawab Diana.
"Baik, Nona. Tunggu sebentar." Pelayan segera berbalik dan hendak pergi, namun, dia kembali berbalik.
"Maaf, bukankah Nona yang ada dalam berita itu?" Tanya pelayan.
"Apa maksudmu?" Tanya Diana.
"Nona adalah orang yang menyelamatkan gubernur tadi malam." Kata pelayan sambil terus mengamati Diana, lalu menoleh ke layar televisi dan kemudian ke Diana lagi.
"Iya, betul, itu adalah Nona!" Teriak pelayan yang membuat orang-orang menoleh ke arahnya.
Pelayan berjalan dengan cepat untuk membuatkan pesanan Diana. Namun di dalam sana, dia tidak berhenti berbicara dan langsung menceritakan soal Diana yang saat ini ada di dalam restoran.
Tentu saja pelayan itu manambahkan bumbu dalam ceritanya. Saat itu manajer restoran sedang ada di sana, seorang laki-laki tampan berumur tiga puluhan ikut mendengarkan cerita pelayan.
"Cepat antarkan pesanan Nona itu!" Kata manajer yang membuat pelayan itu segera menghentikan ceritanya dan bergegas mengantarkan teh panas untuk Diana.
"Maaf, Nona, pesanannya agak lama. Oh ya, bolehkan aku berfoto dengan Nona?" tanya pelayan laki-laki itu pada Diana.
Diana tersenyum dan mengangguk. Pelayan itu mengambil ponsel di sakunya dan membuka aplikasi kamera. Lalu dia mendekati Diana, memasang wajah tersenyum, tangan kanan mengambil gambar beberapa kali.
"Terimakasih, Nona." Kata pelayan itu.
Diana hanya tersenyum saja. Pelayan itu pergi dengan wajah yang riang. Banyak pasang mata yang memandang tingkah pelayan itu dengan rasa iri. Pelayan itu sungguh berani.
Untung saja Diana adalah gadis yang rendah hati dan tidak sombong. Kalau orang lain, mungkin, jangankan diminta berfoto dengan pelayan, dengan manajer saja mungkin dia tidak mau.
Seorang pria tampan yang tak lain adalah manajer restoran mendatangi Diana. Sesampai di sana, dia memperkenalkan diri.
"Namaku Rian, aku adalah manajer di restoran ini. Jika butuh apa-apa silahkan hubungi aku." Katanya, lalu dia meletakkan sebuah kartu nama di meja. Kartu nama keemasan itu menarik perhatian Dara. Namun Dara tidak berani mengambilnya.
Sebelum Diana menjawab, tampak dari arah pintu masuk, Karmen dan Anita sedang menuju ke arah Diana. Dua gadis cantik itu tampak buru-buru.
"Diana, kenapa tidak membawa ponselmu? Gubernur meneleponmu!" Kata Karmen sesaat setelah sampai.
Karmen langsung memberikan ponsen Diana. Saat itu sedang panggilan aktif dari Gubernur. Karmen sengaja menghidupkan pengeras suara agar dia tidak perlu meletakkan ponsel di telinganya.
"Halo!" Sapa Diana.
"Nona Diana! Apakah Anda sedang di dalam restoran hotel?" Tanya Gubernur dari seberang telepon.
"Iya, benar." Jawab Diana singkat.
"Aku sedang dalam perjalanan, tunggulah di sana." Kata Gubernur.
"Baiklah!" Jawab Diana singkat, lalu dia mematikan panggilan.
Manajer yang ingin mendekati Diana terpaku saat mendengar Gubernur akan menemui Diana di restoran. Orang seperti apakah Diana? Sehingga Gubernur saja rela menemuinya?
"Jika tidak ada hal lain, kamu boleh pergi." Kata Diana pada manajer yang berdiri mematung.
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Diana.
"Tidak perlu, tadi aku dan Anita sudah minum di kamar. Lagian, kita kan mendapat jatah minum tiap pagi dan malam, kenapa kamu ke restoran?" Tanya Karmen.
"Aku hanya ingin mengajak Dara jalan-jalan saja. Takutnya dia bosan di kamar. Aku lihat restoran ini lumayan buat santai. Jadi aku kemari." Jawab Diana.
"Kalian duduklah dulu, kenapa terus berdiri?" Kata Diana.
Sementara, di bagian lain restoran, para pelayan sedang heboh. Pelayan yang tadi meminta berfoto dengan Diana sedang dikerubuti pelayan lainnya. Dia tidak berhenti bercerita soal Diana. Padahal dia tidak tahu kejadian sebwnarnya, namun dia ceritakan juga.
Manajer masuk dan langsung memarahi mereka. "Kalian ini sedang kerja, kenapa terus bergosip?"
Akhirnya kerumunan itu pun bubar dengan wajah yang cemberut. Manajer sebenarnya kecewa dengan Diana yang tidak meresponnya sama sekali. Tapi pada pelayan itu, bahkan dia bisa berfoto bersamanya. Bagaimana itu bisa terjadi? Bahkan dia lebih keren dan jauh lebih tampan dari pelayan itu.
"Niam, segera ke kantorku!" Kata manajer pada pelayan yang tadi berfoto bersama Diana. Niam mengangguk dan tersenyum kecut saat melihat manajer langsung menuju kantornya.
Para pelayan saling berpandangam. Mereka mulai menduga-duga, apa yang akan terjadi pada Niam?