
Diana berdiri menunggu makhluk-makhluk itu sampi di tempat itu, di belakangnya ada Rangga dan Kermen. Perdang mereka terhunus dan siap menyambut musuh.
Musuh yang berlari kian mendekat dan hampir mencapai ketiganya. Sementara Galang dan lainnya berjalan cepat menuju Diana.
Saat musuh benar-benar sudah sampai, "Kalian mundur!" Teriak Diana.
Kwrmen dan Rangga mundur beberapa langkah. Diana melompat tinggi di udara. Lalu meluncur deras ke arah musuh. Pedangnya ditebaskan dan menimb ulkan kilat raksasa yang menghantam musuh.
"Bang! Bang! Bang!"
Bunyi ledakan keras mengguncang, menyebabkan ratusan makhluk siluman terpental. Tak sedikit dari mereka yang patah menjadi dua bagian, patah tulang dan terbakar.
Terdengar sorak-sorai prajurit Diana yang menyaksikan hal itu. Mereka baru gahu mereka memiliki Panglima Perang yang sangat hebat. Teriakan itu menggema dan membuat siaran langsung dari para reporter terganggu suaranya.
Melihat itu, musuh menjadi ciut nyali. Namun, Diana tidak memberi kesempatan, fia mengulang hal yang sama beberapa kali. Pasukan musuh dibuat kacau dan ada yang berusaha mundur. Namun karena mereka terlalu banyak, mundur pun percuma karena prajurit yang belakanv merangsek maju dan mendorong yang di depan.
"Diana berhasil menguasai pedang itu." Kata Katmen pada Rangga.
"Itu keren sekali!" Teriak Rangg. Dia tidak sabar ingin segera maju bertarung, namun dicegah oleh Karmen.
Dari arah belakang tampak sosok makhluk hitam besar dengan pedang terhunus menyerang Diana yang terus menyerang dan membuat musuh kacau balau.
Dia adalah Seho dengan pedang api. Pedsng itu di tebaskan ke arah Diana. Diana sudah menyadari itu dan segera menangkisnya.
"Trang!"
Dua pedsng beradu dengan keras. Percikan api memenuhi seantrro medan perang dan membuat suasana pagi hari itu makin terang.
Seho pun terpental jauh dan jatuh terjerembab. Namun dia segera bangkit dan kembali menyerang. Prajurit musuh pun berhenti menyerang dsn hanya melihat adegan pertarungan di depan mereka.
Kilat itu sudah tidak bisa ditahan. Pedangnya terpental dan tubuh Seho pun terbelah menjadi dua bagian, lalu mati. Tubuh Seho berangsur-angsur berubah bentuk menjadi manusia kembali.
Tentu saja hanya Rangga yang terkejut melihat hal itu. Karena Rangga belum pernah bertemu Seho.
"Jangan kaget, dia memang manusia. Dia adalah Guru Seho dari Gunung Mer, murid Guru Galuh." Kata Karmen yang melihat Ranggak terkejut.
Rangga pun paham maksud Karmen. Dari arah belang musuh, sekitar sepuluh orang terbang menyerang Diana dengan pedang terhunus. Orang-orang berpakaian merah itu bergerak cepat dan langsung memyerbu Diana.
Galang dan rombongan sampai di tempat itu dan langsung menyaksikan Diana sedsng terus menggempur pasukan musuh. Galang tidak tinggal diam ketika melihat Diana diserang sepuluhan orang, dia segera menghunus pedangnya.
Pedang itu mengeluarkan kilatan api yang menyambar-nyambar. Mata Galang pun seperti ada kilatan api. Itu adalah Pedang Naga.
Galang melompat menghadang sepuluhan orang dari aliansi merah. Sepuluh orangbitu tidak menyangka akan serangan Galang. Mereka tidak menarik serangan, namun terus saja menyerang ke arah Diana. Diana sudsh menyadari itu sejak tadi. Dia hendak menghadang mereka, namun dari arah belakang Galang justru yang menghadangnya. Jadi Diana membiarkan saja hal itu.
Dia terus menggempur musuh yang makin lama makin mundur. Galang memutar-mutar tubuhnya di udara beberapa kali, lalu pedsng ditebaskan ke arah sepuluh orang aliansi merah. Serangan Galang tidak luput dan...
"Sret!"
Pedang seperti membesar dan merobek tubuh sepuluh orsng itu. Ada bau daging yang terbakar dari bekas robekan pedang. Mereka pun langsung jatuh ke tanah dan mati mengenaskan.
Galang tidak berhenti, dia langsung maju menggempur musuh bersama Diana. Kali ini pedangnya benar-benar sangat luar biasa. Makhluk siluman tyang terkena pedang Galang seperti tidak kebal lagi. Mereka banyak yang terluka. Memang mereka tidak bisa mati, namun jika tubuh terpotong, tentu saja mereka sudah tidak bisa bertempur lagi.
Hal itu terus dilakukan Galang dan Diana, hingga ribuan pasukan musuh tergeletak tak berdaya. Sosok tinggi besar pun maju, melihat anak buahnya banyak yang terluka menjadi geram. Namun, ketika melihat Galang, dia terkejut.
"Berhenti!" Terdengar suara besar dan berat menghentikan pertempuran.
Lalu dia berlutut. pasukannya yang mendengar itu segera berhenti. Melihat pemimpin berlutut, mereka pun sangat ketakutan. Mereka langsung ikut berlutut.