
Mobil yang membawa lima orang suruhan Roy Adiguna sudah memasuki area parkir Dara Shinta Food. Kelima orang itu turun, sementara sopir masih menunggu di mobil.
Lima orang berjalan ke arah restoran-restorwn mencari keberadaan Diana. Dari cara mereka, tentu saja bisa ditebak, mereka bukan orang sembarangan. ya, mereka disewa oleh Roy Adiguna dan Rocky untuk membunuh Diana.
Kekalahan Rocky dan diusirnya Rocky dari Kota S juga mengakibatkan kerugian besar Roy yang merupakan pendukung Rocky. Tentu saja Roy mendapat keuntungan dari Rocky dan itu membuatnya makin kaya.
Kelima orangbitu menghentikan langkahnya di depan restoran lokal. Mereka melihat Diana di tengah restoran. Hanya ada tiga orang bersama Diana, yaitu Karmen, Dara dan Anita.
Sementara orang-orang berada di meja lain.Kelima orang itu masuk, namun dihadangnoleh penjaga. Dan puluhan pengawal Jatmiko dan pengamanan restoran yang berjaga di pintu. Tentu saja orang sembarangan apalagi tidak dikenal dilarang masuk.
"Kalian tidak boleh masuk. Hari ini restoran tutup pada pengunjung. Bukankah sudah ada tulisan di jalan masuk restoran?" Kata salah seorang penjaga.
"Minggir, atau aku akan membunuh kalian semua!" Kata lelaki botak yang memakai pakaian tentara.
Para pengawal Jatmiko pun berdiri saat mendengar pria botak mengancam.
"Aku hanya membutuhkan wanita itu, dan setelah itu kami akan pergi.!" Kata pria botak lagi.
"Apa maksudmu?" Tanya penjaga lagi.
"Apa maksudku? Hahaha.... Kami akan membunuhnya!" Ucap pria botak.
"Jangan mimpi, sebelum kalian bisa menemui Nona, kalian harus berhadapan dengan kami terlebih dahulu!" Teriak penjaga.
Lalu penjaga itu memberi perintah agar semuanya menyerang mereka berlima. Namun, mereka pun tidak berdaya berhadapan dengan kelima orang itu.
Satu persatu para penjaga itu pun tumbang bersimbah darah. Walaupun tidak mati, namun beberpa bagian tubuh mereka robek terkena sambaran pisau dari rantai milik pria botak.
Para pengawal Jatmiko yang mengetahui orang-orang itu datang hendak membunuh Diana, mereka pun akhirnya ikutan menyerang kelima orang itu.
Pertempuran mereka pun tidak seimbang. Mereka dapat dikalahkan dengan murah oleh kelima orang itu.
"Hahaha, apakah masih ada yang akan menghalangi kami?" Tanya pria botak itu.
Para pengawal Jatmiko jubmga mengalami nasib yang sama dengan para penjaga. Semuanya tumbang dengan beberapa bagian tubuh robek dan terluka parah.
Diana yang mengetahui keributan itu akhirnya mendekati mereka. Dara sempat ingin ikut, tapi ketika Karmen menggendongnya dan memeluk serta membenamkan wajah Dara di dada Karmen, Dara paham bahwa dia tidak boleh melihat apa yang akan terjadi.
Diana berjalan diikuti oleh Jatmiko. Setelah sampai di hadapan mereka berlima, Diana pun melihat para oenjaga dan pengawal Jatmiko sudah terluka parah.
"Paman, cepat telepon ambulan dan bawa mereka semua ke rumah sakit!" Perintah Diana.
"Baik, Nona!" Jawab Jatmiko. Lalu, Jatmiko terlihat menelepon dan agak menjauh dari Diana dan kelima orang itu.
"Kalian disuruh Rocky?" Tanya Diana, "Tidak disangka, kalian sepertinya sangat kuat, tapi malah menjadi begundalnya Rocky.."
"Apa maksudmu? Aku menerima bayaran sepuluh miliar untuk membunuhmu. Jadi, kami bukan begundal, tapi pembunuh bayaran." Jawab pria botak.
"Nilaiku serendah itu? Kalian harusnya minta satu triliiun, minta jaminan untuk keluarga jika kalian tewas di tanganku. Itu baru namanya memikirkan keluarga. Kalian datang hanya mengantar nyawa saja. Dan tidak pernah memikirkan keluarga kalian." Diana berkata sambil menghina mereka berlima.
"Adik Sasa, jangan buru-buru. Dia terlihat sangat cantik. Aku mau bermain dulu dengan dia. Soal membunuh, aku akan serahkan oadamu." Pria botak berkata lalu tertawa.
"Kakak Nan, jangan beromong kosong lagi! Ayo kiga bunuh orang itu dan segera pergi dari sini!" Kata perempuan di samping pria botak yang dipanggil Kakak Nan.
"Baiklah Adik! Aku tidak akan main-main lagi!" Jawab Nan, lalu melirik Sasa yang sudah menghunua pedangnya.
Sementara tiga orang lagi yang masing-masing membawa dua pedang pendek akhirnya juga menghunus pedang mereka. Sementara pria botak atau Nan juga telah melepas rantai yang merupakan senjatanya.
Lalu kelima orang itu pun mulai menyerang Diana. Diana yang tidak ingin membahayakan orang-orang dalam restoran, akhirnya melompat keluar reatoran diikuti oleh kelima orang itu.
Tiga orang maju duluan menyerang Diana dengan dua ledang pendek masing-masing. Mereka pun menyerang Diana dengan kecepatan yang cepat. Jika orang lain, pasti tidak akan bisa melawan.
Ketiga orang itu bukan sembarang lawan. Tetapi memiliki beladiri tingkat menengah. Hanya saja serangan mereka pun bisa dihindarinoleh Diana denvab santai. Bahkan Diana tidak terlihat terkejut ataupun merasa ketakutan memdapat serangan dari ketiga orang itu.
Setelah serangan mereka gagal, metrka kembali menyerang Diana. Kali ini mereka mengeping Diana dan masing-masing menusukkan pedang ke bagian tubuh Diana.
Tidak ingin mengambil resiko, Diana pun melompat tinggi. Lalu bersalto di udara dan mendarat di belakang salah satu dari tiga orang tadi.
Ketiganya terkejut ktika serangan mereka yang lebih ganas ternyata bukan apa-apa bagi Diana.
"Kalian bertiga minggir! Biar aku yang menghadapiny!" Teriak Sasa.
Lalu dia menghunus pedangnya dan terbang ke arah Diana. Pedangya diayunkan dan mengeluarkan bunyi seperti angin topan.
Diana menyadari bahwa musuhnya kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Pedang Sasa mengarah ke bagian dada Diana. Diana yang sadar akan bahaya, menghindar ke kanan dan kemudian mundur satu langkah. Pedang itu tidak mengenai Diana.
Lalu Sasa menyerang lagi. Dia mengerahkan sekuat tenaganya dan Sasa kembali terbang. Kali ini pedangnya seperti lebih banyak. Sekumpulan pedang kini dengan ceoat menuju Diana.
Diana yang sudah siap, lalu menyilangkan tangan di dada, detik berikutnya, dia sudah memegang puluhan benda berbentuk segitiga berwarna perak. Puluhan benda itu dilemparkannya ke arah pedang Sasa. Benda-benda berbentuk segitiga itu pun bertabrakan dengan pedang Sasa.
"Trang! Trang! Trang......!"
Beberapa lainnya terus melaju ke arah Sasa. Sasa terkejut dan berusaha menghindari benda-benda milik Diana. Beberapa bisa dia hindari, namun ada satu senjata Diana berbentuk segitinga yang menancap di bahu Sasa sebelah kiri.
Sasa berteriak kesakitan dan dia langsung sajut terduduk dan memegangi bahunya.
Walau senjata Diana tidak beracun, namun jelas itu masuk sedalam dua senti dan Sasa memgalami luka berat. Tangan bagian kirinya tidak bisa digerakkan. Sementara pedang Sasa juga sudah jatuh di tanah.
"Kamu melukai adikku! Aku akan membunuhmu!" Teriak Nan.
Senjata rantainya meliuk-liuk. Ujung rantai yang ada lusaunya yang sangat tajam mengarah ke Diana. Tiga cabang rantai dengan tiga pisau itu mengarah ke tiga bagian tubuh Diana yaitu leher, dada dan perut Diana.
Diana mundur dua langkah, namun ketiga pisau seperti mengejarnya. Diana terus menghidari serangan Nan dengan rantai berujung tiga pisau. Namun, tiga pisau milik Nan tidak biaa menyentuh kulit Diana.
Diana laksana bidadari yang sedang menari. Dengan gerakan-gerakannya, Diana justru terlihat sangat cantik dan membuat Nan terpaku.