
Karmen dan Rangga terus saja menyerang prajurit musuh dan terus membunuhi mereka. Karmen dan Rangga tidak memberi kesempatan pada mereka untuk melepaskan serangan anak panah.
Mereka berdua tahu, tujuan anak panah adalah istana. Maka mereka terus saja menerjang dan menyerang mereka dengan ganas. Hampir separuh prajurit sudah tewas dan terus saja ada yang mati di tangan mereka berdua.
Sudah hampir satu jam mereka bertempur, dan terlihat belum akan menyudahi peperangan.
Di sisi lain, Diana sedang bertarung melawan lima orang pendekar sakti bawahan Panglima Jung Saka. Diana berkelit menghidari setiap serangan mereka. Dia sangat cepat dan berkali-kali melepaskan serangan dengan pedangnya dan memaksa lima orang untuk mundur. Namun, mereka kembali maju dan menyerang Diana dengan lebih ganas lagi sambil mengepung Diana.
Diana memutar otak agar mereka tidak mengepungnya. Dia melompat tinggi di udara dan kemudian dia mundung dengan masih di udara.
Pedangnya ditebaskan lagi dan sebuah cakar raksasa kembali keluar dari pedang dan menerjang ke arah lima orang itu. Kelima orang ingin menguji Diana. Mereka menggunakan senjata mereka untuk menghadang cakar naga milik Diana.
"Blar! Blar! Blar!"
Ledakan keras terdengar, bahkan puluhan prajurit terpental akibat ledakan itu dan langsung meregang nyawa.
Kelima pendekar juga terpental. Masing-masing memuntahkan darah segar. Mereka langsung duduk dan mengatur jalan darah serta pernafasan. Mereka terkejut dengan kekuatan Diana yang luar biasa.
"Kita tidak bisa mengalahkannya." Kata salah seorang pendekar.
"Benar! Dia sangat kuat dan kekuatannya puluhan kali Panglima Rungkut. Sepertinya kita akan segera mati!" Sahut lainnya.
"Sebagai prajurit, mati di medan perang adalah kehormatan. Apalagi yang membunuh kita adalah seorang Panglima yang hebat." Sambut lainnya.
"Setuju! Kita akan terus melawannya. Panglima tentu akan membantu kita nanti." Yang lain lagi memberi semangat.
Kelima orang itu sudah bangkit dan bersiap untuk menyerang Diana yang berdiri tegap seperti tidak terjadi apa-apa.
Agak jauh dari tempat itu, Panglima Jung Saka masih mengamati pertarungan kelima pendekar dan Diana. Pada saat itu, Diana juga sedang menatapnya. Dan berikutnya, Diana langsung melompat ke arah Panglima Jung Saka dan memyerangnya, cakar naga raksasa kembali keluar dari pedang dan dengan ganas meluncur ke arah Jung Saka.
Namun, kelima pendekar sakti yang sudah siap kembali, menghadang cakar naga Diana dengan senjata mereka. Ledakan keras kembali terdengar dan kelima pendekar kembali terpental. Puluhan prajurit juga terpental dan meregang nyawa.
Di sisi lain, prajurit Jung Saka hanya tinggal beberapa ratus saja. Jung Saka sangat terkejut menyaksikan hal itu.
"Mundur!" Teriak Jung Saka. Prajurit Jung Saka lalu mundur dan berlari sekuat tenaga.
"Diana! Kita kejar mereka, kah?" Tanya Karmen.
"Tidak perlu! Kita segera kembali ke medan perang. Aku yakin akan punya kesempatan lagi membunuh Panglima musuh hari ini atau besok." Jawab Diana. Dia bersiul, kemudian kuda putih menghampirinya. Demikian juga dengan Karmen dan Rangga.
Lalu ketiganya kembali ke medan perang melalui istana. Para prajurit yaang berada di benteng sangat takjub dengan kehebatan Diana, Karmen dan Rangga. Mereka pun segera mengirin pesan ke istana bahwa musuh berhasil dikalahkan.
Istana bersorak dan turun ke jalan. Mereka menanti Diana, Karmen dan Rangga lewat di jalan untuk menuju medan tempur. Di antara mereka, terlihat Anita dan Dara yang dikawal prajurit serta diikuti oleh puluhan pelayan.
Saat melewati mereka, Dara berteriak memaanggil Diana, "Ibu!"
Teriakan Dara membuat Diana segera turun dari kuda dan menghampirinya. Diana memeluk Dara dengan erat. Rasa rindu pada Dara karena berpisah beberapa hari.
"Ikut Ibu!" Teriak Dara lagi.
Diana tersenyum dan menggeleng. "Kali ini, Dara tidak bisa ikut, Sayang. Dara bersama Bibi Anita. Setelah Ibu, Paman Rangga dan Bibi Karmen mengalahkan musuh, nanti segera pulang, ya."
Dara walaupun setengah hati menerima, namun dia mengangguk dan kembali memeluk Diana.
"Anita, jaga Dara, ya." Kata Diana.
"Iya, Nona! Nona Dara sudah punya banyak teman di sini." Jawab Anita.
"Oh, ya?" Tanya Diana sambil memandang Dara. Dara tersipu dan tersenyum.
Sementara penduduk istana yang berada di jalan sedang mengelu-elukan Diana, Rangga dan Karmen. Setelah berpamitan, Diana, Rangga dan Karmen kembali memacu kuda tidak terlalu cepat menuju ke medan perang.