
Bagaimana pun, perang hari kedua akan dimenangkan oleh pasukan Diana. Prajurit lebih kuat, banyak petarung berkekuatan master. Dan, di bawahnya ada banyak sekali prajurit pilihan, baik dari sipil, militer maupun kepolisian.
Kali ini pasukan musuh seperti dijebak untuk dibunuh dalam peperangan. Bagaimana tidak? Setelah bersekutu dengan makhluk yang tidak bisa mati, mereka berharap bisa memenangkan perang. Namun di luar dugaan, mereka diuji untuk berperang sendiri melawan Diana.
Tentu saja, jika menolak, bisa jadi mereka juga akan dibunuh oleh makhluk siluman, karena mereka juga bangsa manusia. Mereka bahkan tidak punya pilihan lagi. Akhirnya setuju.
Di medan perang, dua orang laruh baya masih berjibaku melawan prajurit musuh. Dua orang tua, tapi kekuatan mereka tidak main-main. Mereka berdua bak banteng yang kesurupan. Menerjang musuh tanpa ampun. Mereka adalah Anton dan David.
"Anton! Bagaiman di sana?" Tanya David yang masih melawan prajurit musuh.
"Urus dirimu, jangan sampai perutmu tertembus pedang musuh!" Jawab Anton seenaknya.
"Apa kamu bilang? Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah kencing di celana?" Tanya David sambil tertawa.
"Kalau kamu bukan kakaku, aku bisa menghajarmu!" Anton marah.
"Hahahahaha! Apakah kamu lupa dua puluh lima tahun lalu? Kamu terkencing di celana saat dikepung tentara negara seberang? Jika bukan karena aku, mungkin kamu juga akan terkentut! Hahahahaha!" David bercanda. Suaranya tentu saja didengar oleh prajurit musuh.
Prajurit musuh heran, kedua orang ini sudah berumur, namun kekuatan fisik bahkan masih sangat kuat melebihi orang yang lebih muda.
"Jangan sembarangan bicara! Aku tentu akan menghajarmu nanti!" Teriak Anton dengan wajah memerah. Dia masih sibuk melawan musuh. Dia juga malu, kelakar David di dengar banyak orang. Namun sebenarnya, musuh justru memtalnya langsung turun.
Melawan prajurit sebanyak itu, dua orang ini sama sekali tidak merasa kesulitan. Bahkan masih bisa saling melempar candaan satu sama lainnya.
Sepuluhan orang prajurit musuh maju bersama ke arah David. Mereka menebaskan pedang ke seluruh bagian tubuh David. Saat itu David tengah tertawa karena Anton. David pun melompat ke belakang sambil menangkis serangan musuh dengan pedangnya. Sementara sepuluh orang tadi tidak mengurungkan serangan walaupun David dapat menghindarinya.
Saat itu David tidak sengaja menginjak sosok mayat. Dia oleng dan jatuh. Sepuluh orang itu mengejarnya dan menebaskan pedangnya. David yang dalam kondisi terbaring di tanah tidak bisa menghindar. Kakinya dia gerakkan menendang mayat dekat kakinya. Mayat itupun melucur deras ke sepuluh orang yang menyerangnya.
"Bruk!"
Terdengar suara jatuh bersama. Namun masih ada tiga orang yang tidak jatuh, ketiganya terus menuju ke arah David yang belum sempat bangun. Tiga pedang dengan cepat menuju bagian-bagian tubu David. Dalam kondisi terbaring, David berusaha menangkis pedang musuh. Namun satu pedang tidak sempat dia tangkis.
"Jleb!"
"Ah!"
Pedang menusuk paha David. David berteriak. Anton yang melihat itu langsung melompat ke arahnya. Dia menebaskan pedang berkali-kali dan langsung membunuh sepuluh orang tadi.
Anton menoleh ke arah David yang justru malah tertawa.
"Jangan hanya lihat! Cepat cabut pedangnya!" Teriak David.
"Sudah terluka masih juga marah!" Jawab Anton. Lalu dia langsung menarik pedang itu tanpa aba-aba.
"Paman!" Seru Diana yang sudah sampai di tempat itu.
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja." Jawab David.
"Diana! Apakah kamu membawa tisyu?" Tanya Anton.
"Buat apa, Paman?" Diana malah bertanya.
"Pamanmu sebentar lagi pasti menangis karena kesakitan. Berikan tisyumu!" Jawab Anton. Diana tersenyum masam dikulum dengan candaan Anton.
"Aku akan menghajarmu!" Teriak David.
Diana hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua pamannya.
Diana lalu memotong kain dari tubuh mayat di dekatnya dan memberikannya pada Anton.
"Ikatlah, Paman! Sebaiknya Paman David pulang saja. Obati lukamu! Jangan sampai mati di sini!" Teriak Diana yang sudah melesat pergi dan mulai menghajar musuh lagi.
"Kamu dengar tidak apa yang dikatakan Diana?" Kata Anton sambil mengikatkan kain ke paha David.
"Kamu jangan sampai mati di sini, itu kata Diana. Hahahahaha!" Anton kini hang mencandai David.
Tangan David digerakkan dan memukul kepala Anton. Anton tidak berusaha menghindar, namun dia terus saja tertawa.
"Paman! Apakah paman mau pulang? Biar aku panggilkan prajurit untuk mengantarmu!" Karmen berlari mendekat.
David menoleh ke Karmen yang diikuti oleh beberapa prajurit yang membawa tandu.
"Tidak perlu, kamu kira aku selemah itu?" Jawab David.
"Ayolah, pulang saja, aku tidak mau kamu mati di sini!" Kelakar Anton
"Paman, jangan dipaksakan, pulanglah, biar para prajurit membawamu+" Kata Karmen lagi.
David tidak menjawab, melainkan mengambil pedangnya di tanah. Lalu dia sudah melesat ke arah musuh. Kembali dia berta4ung melawan prajurit musuh. David seperti tidak merasakan bahwa dia sedang terluka. Namun malah bertarung lebih ganas dari sebelumnya.
Melihat itu, Anton menoleh ke arah Karmen. Anton mengangkat kedua bahunya. Kemudian dia sudah menyusul David untuk berperang kembali. Karmen hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua orang itu.
"Kalian boleh pergi!" Kata Karmen kepada para prajurit yang bersamanya.
Karmen lalu pergi dan kembali menyerang musuh, begitu juga dengan para prajurit yang bersamanya. Dia tadi diberitahu Diana bahwa Paman David terluka. Diana meminta Karmen untuk membawa David kembali ke kemah. Namun malah David kembali berperang.
*******
"Kita makan dulu di restoran itu!" Kata Galang. Lalu dia membelokkan mobil ke sebuah restoran yang cukup ramai. Namun karena restoran itu besar, banyak tempat tersisa.
"Guru Galuh, bersikap biasalah padaku. Itu akan membuatku nyaman." Kata Galang pada Guru Galuh.
"Itu tidak bisa diterima, Tuanku. Itu sama saja aku menerima hukuman." Jawab Guru Galuh.
"Itu perintah! Jangan dilawan. Kamu boleh memanggilku Tuan Muda." Kata Galang sambil melotot. Terlihat Guru Galuh wajahnya masam.
"Ba-baik, Tuanku eh mm maksudku, Tuan Muda." Jawab Guru Galuh.
Galang tersenyum melihat kelakuan Guru Galuh. Sementara Guru Galuh terlihat malu.
Mereka pun masuk ke restoren. Galang hanya mengenakkan kaos lengan panjang biasa dan celana jin. Sedangkan Josh mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam serta celana jin berwarna putih.
Guru Galuh tetap menjaga oenampilan, berpakaian layaknya seorang guru di perguruan beladiri, sedangkan Kakek Li mengenakan pakaian ala Tiongkok seperti biasanya.
Suasana di restoran tidak terlalu ramai, karena orang-orang lebih senang menonton berita di televisi. Berita menampilkan perang di bagian selatan. Berkali-kali reporter menyebut nama Diana sebagai sosok pahlawan. Semua orang tentu ingin tahu bagaimana sosok Diana.
Dalam layar kaca, tampillah sosok Diana yang memakai pakaian perang kebesarannya. Terlihat sangat cantik namun sangat gagah sebagai seorang panglima perang.
Dikabarkan dalam.berita, bahwa Diana sudah membunuh ribuan musuh hari ini dan pasti memenangkan perang di hari kedua ini. Berita pun berpindah. Kini ditampilkan dua orang pria berusia lima puluhan tahun. Mereka adalah David dan Anton.
"Ayah?" teriak Josh terkejut mengetahui bahwa ayahnya ikut berperang.
Banyak pasang mata mengalihkan pandangan ke Josh karena teriakannya.
"Orang di televisi itu ayahnya!" Kata Kakek Li pada banyak orang yang memandang ke mereka.
Orang-orang itu pun melihat Josh dengan tatapan hormat. Memiliki ayah yang berperang tentu saja sangat membanggakan.
"Salah seorang yang bernama David terluka. Nona Diana menyuruhnya meninggalkan medsn perang, namun pria itu menolak dan kembali berperang melawan musuh." Terdengar seorang reporter memberitakan.
Josh berdiri. Dia terlihat tegang.
"Tenanglah. Ayahmu tidak apa-apa." Kata Kakek Li menenangkan Josh.