Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Penyerang Gelap


Saat masuk, yang disebut sebagai tuan Ken adalah seorang laki-laki berumur tigapuluh lima tahun. Berjalan di antra para pengawal yang berdiri dengan hormat di sisi kanan dan kiri. Terlihat wajah Tuan Ken sangat kejam dan bengis.


Galang dan lainnya saling pandang. Jika Tuan Ken yang dikatakan David masih hidup, tentu saja umurnya mungkin setara dengan David atau Anton. Kenapa ini masih muda? Awalnya Anton ingin menemuinya, namun setelah melihat Tuan nKen, Anton mengurungkan niatnya.


"Ini aneh." Gumam Anton, lalu melihat ke arah Galang.


"Paman, mungkin dia putra dari Tuan Ken, jadi dia mengambil nama ayahnya." Kata Galang.


"Tapi ini memang aneh." Anton mengulangi ucapannya.


Tiba-tiba dua orang masuk, seorang gadis dan seorang pemuda memakai topeng kain. Mereka langsung menyerang Tuan Ken yang sedang berjalan dengan santai. Dia pedang terhunus dan mengarak ke dada Tuan Ken. Para pengawal yang sigap, langsung menghadang dua penyerang itu. Pertempuran pun tidak bisa dihindari.


Dua penyerang tampaknya memang cukup kuat. Terlihat beberapa pengawal kewalahan mengahadapi kecepatan pedang keduanya. Beberapa saat kemudian, dua pengawal sudah jatuh dan bersimbah darah. Keduanya langsung meregang nyawa.


Pengawal lainnya pun masih berjibaku menyerang kedua orang misterius. Dua penyerang gelap tampak begitu bersemangat seperti memiliki dendam pada pria bernama Ken. Kecepatan pedang keduanya tampak masih cepat walau menghadapi lebih dari lima pengawal Ken.


"Minggir!" teriak Ken, para pengawal l;alu berhenti bertempur dan saat itu juga Ken menyerang kedua orang itu dengan sangat cepat.


Dua orang itu tampak mundur beberapa langkah dan saling pandang. Ternyata Tuabn Ken juga sangat hebat dan cepat. Tanp[a menunggu lama, dua orang itu pun langsung menyerang ke arah Tuan Ken. Tuan Ken tidak bergeming dan hanya menunggu serangan mereka datang. Dua pedang langsung mengarak ke dada Tuan Ken.


Saat itu, Ken merapatkan tangan di depan dada, selanjutnya kedua tangan terbuka ke depan seperti menunggu datangnya pedang kedua penyerang itu. Pedang pun akhirnya menusuk ke kedua tangan Ken. Yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pedang itu tidak menembus tangan Ken, melainkan kedua pedang itu patah masing-masing menjadi dua.


Tidak sampai di situ, kedua tangan Ken dikepalkan dan tinjunya mengarah ke dada dua orang penyerang. Dan..


Booom...!!! "Ahh!"


Kedua penyerang terpental dan memuntahkan darah, kedua mata mereka menjadi merah dan tangan memegang dada. Saat itu, Ken lalu mengambil dua pedang milik pengawalnya dan segera hendak menghabisi kedua orang itu. Dia sudah bersiap menghunjamkan pedang. namun sebuah bayangan dengan cepat menyelamatkan  kedua orang itu dan mereka pun menghiulang dari sana.


"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!" Teriak Ken, lalu dia menghujamkan kedua pedang ke lantai. Akibatnya, pedang itu menembus lantai keramik seperti menembus benda yang lunak.


Semua orang terkejut dengan kehebatan Ken. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Orang-orang yang tadinya ingin sarapan pagi, akhirnya harus melihat kejaduan yang sungguh diluar keinginan mereka. Melihat Tuan Ken masuk, maereka tentu berpikir akan ada kejutan apa. Mengingat, Tuan Ken adalah penyelenggara lelang tahunan..


Namun, kali ini mereka juga bertanya-tanya, siapa kedua orang itu dan siapa yang menyelamatkan mereka? Ternyata, Tuan Ken sangat hebat dalam hal beladiri dan kemampuannya sangat luar biasa. Dua orang tadi tentu saja bukan tandingan Tuan Ken.


Di meja makan Anton dan lainnya, ternyata Galang sudah tidak ada di sana. Anton bertanya pada lainnya, namun yang merekla pikir, Galang mungkin ke kamar kecil. Hal itu bukankah sudah biasa? Apalagi dari tadi mereka selalu memperhatikan Tuan Ken dan pertempuran di sana.


******


"Hmmm, ternyata mereka berdua satu perempuan satu laki-laki." Galang berkata dalam hati. Dua orang yang kalah oleh Ken diselamatkannya dan dibawanya ke kamarnya. Saat itu, suasana hotel memang sedang ribut. Galang menghilangkan jejak dan membersihkan darah sebelum naik ke lantai di mana dia menyewa kamar.


"Aku penasaran. Menurut cerita Paman David, seharusnya yang bernama Ken itu sudah tua, kenapa sekarang masih muda? Tidak masuk akal." Katanya lagi, juga masih di dalam hati.


Dua orang itu ternyata masih muda, seumuran Galang. Keduanya tam[pak pucat karen memuntahkan banyak darah. Pemuda itu terlihat cukup tampan, dan gadis itu juga sangat cantik.


"Siapa kalian? Kenapa menyerang Tuan Ken?" Tanya Galang.


Kedua orang itu saling pandang. Mereka belum yakin akan menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya beberapa tahun ini.


"Jika tidak ingin cerita, ya sudah tidak apa-apa. Itu juga bukan sesuatu yang penting." Galang melambaikan tangan. Lalu Galang mengambil dua botol minuman dan memberikannya pada mereka berdua.


"Kalian di sini saja dulu, baru nanti malam kalian bisa pergi. aku akan keluar membeli makan untuk kalian." Lalu Galang keluar kamar. Setelah dirasa aman, Galang berjalan di koridor menuju lift.


Ketika hendak masuk lift, Anton dan lainnya keluar dari lift.


"Galang? Darimana kamu?" Tanya Anton.


"Aku dari kamar, Paman. Kebetulan tadi waktunya minum ramuan Kakek Li. Jadi aku masuk duluan." Jawab Galang pura-pura.


"Sekarang mau kemana?" Tanya Anton lagi.


"Aku mau jalan ke depan, Paman. Cari angin saja. Cuma sebentar." Jawab Galang agakl gugup.


"Baikl;ah. Cepat kembali! Ada sesuatu yang harus dibicarakan." Anton pun tidak mempermasalahkan lagi.


"Baik, Paman. Aku segera kembali!" Lalu Galang masuk lift dan turun.


Sementara di kamar Galang, dua orang tadi masih menunggu di sana hingga malam hari.


"Kakak, pemuda tadi sepertinya bukan orang jahat. Buktinya dia menyelamatkan kita." Kata gadis itu.


"Kamu benar, tanpa bantuan pemuda itu, kita mungkin sudah mati. Pemuda itu ternyata sangat hebat. Mungkin dia bisa membantu kita menyelamatkan ayah." Pemuda itu setuju dengan adiknya.


"Kakak jangan melibatkan orang lain. Kita akan berusaha untuk menyelamatkan ayah. Guru mengatakan kalau akan ada seseorang yang datang menyelamatkan keluarga kita dari tangan Bai Lang." Kata sang adik mencoba memberi harapan.


"Adik, kita sudah berusaha selama beberapa tahun. Guru sudah mengajarkan banyak hal pada kita, tapi kita masih tidak bisa mengalahkan Bai Lang. Guru saja belum tentu bisa mengalahkannya. Bukankah kita hanya cari mati jika melawannya? Mengenai ramalan Guru, aku sama sekali tidak percaya." Sang kakak menjadi pesimis. Itu juga membuat pertahanan keteguhan sang adik jadi tambah goyah.


Pintu terbuka, Galang masuk dan meletakkan dua bungkus makanan di meja. Lalu Galang keluar lagi hendak menemui Anton dan lainnya. Kedua kakak-adik saling pandang dan terheran dengan sikap Galang pada mereka.


"Kakak, sebaiknya kita makan dulu. Nanti kita pikirkan lagi selanjutnya. Bagaimanapun, pemuda itu sudah menyelamatkan kita. Kita juga diberi tempat untuk bersembunyi." Gadis itu menyadarkan kegelisahan mereka berdua.


"Baiklah. Keduanya lalu makan. Selesai makan, karena rasa lelah, mereka pun tertidur di sofa.