
Sore itu sekitar jam lima, Hotel Sang tampak sudah ramai para pengusaha yang datang memenuhi undangan Rocky. Rocky sengaja mengundang mereka, karena Rocky ingin melakukan sesuatu yang akan membuat mereka takut dan kemudian berbalik kepadanya.
Rocky telah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Diana. Hal itu sebenarnya sudah masuk dalam.perhitungan Diana. Apalagi Diana juga tahu, bahwa Rocky adalah orang yang licik. Jadi kali ini jelas Diana akan sangat berhati-hati.
Untuk kali ini, Diana sengaja meninggalkan Dara bersama Anita dan tinggal di kediaman Jatmiko. Sedangkan Diana pergi ke hotel bersama Karmen. Diana juga pergi bersama dengan para direktur perusahaan miliknya.
Rombongan itu mengendarai puluhan mobil dengan iring-iringan yang mencolok. Ketika iring-iringan itu lewat, tentu saja menarik perhatian masyarakat setempat.
Sampai di hotel, iring-iringan iru juga masih mendapat perhatian publik. Mereka penasaran orang di balik iring-iringan itu. Setelah masuk area parkir, turun para direktur utama perusahaan-perusahaan milik Diana.
Orang-orang itu tentu saja mereka kenal. Dan itu membuat rasa penasaran mereka sudah hilang. Dan sekarang mereka tidak peduli lagi dengan hal itu.
Diana dan Karmen yang berada dalam satu mobik akhlirnha keluar. Mereka berjalan masuk ke hotel diiringi para dirut.
Saat masuk ke ruang pertemuan di hotel, tampak di sana sudah ada Rocky dan anak buahnya, Firman, seorang berusia paruh baya yang dengan kumis tebal yang tak lain adalah Roy Adiguna ayahnya Firman dan sebagian pengusaha yang sudah hadir.
Saat rombongan Diana memasuki ruangan, mereka semua terpana dengan kecantikan Diana dan Karmen. Rocky menoleh ke arah Lukas. Lukas mengangguk dan segera berlari menyambut mereka.
"Mari Nona, silahkan duduk di sana!" Lukas pun dengan hormat mempersilahkan Diana dan rombongannya ke arah meja besar.
Sebuah kursi memang sudah disiapkan unruk Diana. Orang-orang akan mengenalinya hanya dengan melihat kursinyang diduduki.
Di meja lain, sudah ada makanan dan minuman, dan saat itu swbuah rombongan pelayan yang membawa hidangan masuk ke ruangan dan menuju meja di mana Diana berada.
Memperhatikan hal-hal itu, Diana sudah tahu apa yang ada di otak Rocky. Makanan dan minuman sudah selesai dihidangkan. Rocky berdiri dan mengangkat gelas, "Saya bersulang untuk Nona Diana!" Teriaknya yang diikuti oleh yang lainnya.
Diana pun berdiri, mengangkat gelas dan tersenyum, "Terimakasih!" Lalu tanpa ragu Diana meminumnya.
Diana tahu bahwa minuman itu sudah dicampur sejenis obat yang akan membuatnya tidak sadarkan diri. Dan saat itu tentu saja Rocky akan segera bertindak.
Namun, apa yang dipikirkan Rocky justru terjadi sebaliknya. Diana sama sekali tidak bereaksi apa-apa setelah minum.
Rocky menoleh ke arah Lukas, diam-diam Diana memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu. Lukas menggeleng-gelengkan kepala, memberi kode dengan tangan. Rocky kemudian menoleh ke arah Diana. Dan pada saat itu, Diana sedang melihatnya dan tersenyum.
Rocky sampai terkejut saat itu. "Nona, bagaiman jika Nona memberi kami beberapa pelajaran berharga. Saya ada seseorang yang sedikit menguasai ilmu beladiri. Mohon sudilah bermain-main barang sebentar."
Di tempat lain, Jatmiko merasa memang Rocky ingin berbuat licik pada Diana. Namun saat itu dia hanya diam saja.
"Oh, Tuan Rocky terlalu meninggikan kemampuanku. Aku juga memiliki saudara yang juga memiliki kemampuan. Biarlah mereka saja yang bermain-main." Balas Diana.
Saat itu semua mata tertuju kepada Diana. Terutama Firman yang sangat terkejut. Ternyata Diana bukan orang sembarangan? Tapi dia merasa tenang karena di sana ada ayahnya yang juga kuat.
Lalu Karmen berdiri dan berjalan di panggung. Dari pihak Rocky, terlihat Paman Son yang membawa sebuah tongkat. Sedangkan Karmen tidak membawa apa-apa.
"Bagaimana bisa aku melawan seorang perempuan?" Kata Paman Son merasa hebat.
"Baik kalau begitu. Majulah!" Teriak Paman Son.
Karmen tersenyum, kemudian dia maju ke arah Paman Son yang saat itu sudah siaga dengan tongkatnya dan siap menyerang.
Satu tinjunya diarahkan ke kepala Paman Son dengan cepat. Paman Son terkesiap. Gadis inj ternyata cepat juga. Paman Son menggubakan tongkatnya untuk memukul lengan Karmen. Karmen menyadari tidak meungkin mengadu tangan dengam tongkat akhirnya menarik serangannya.
Detik berikutnya, setelah berteriak, Karmen menyerang menggunakan kaki, dia melesat bagai peluru. Sepatu hak tingginya mengarah ke dada Paman Son. Paman Son tetap menggunakan tongkatnya untuk menahan kaki Karmen.
Paman Son mengira itu sudah berhasil mematahkan serangan Karmen. Tidak disangka, Karmen justru mendesak Paman Son dan akhirnya tongkat itu malah mengenai dada Paman Son. Beruntung ada tongkat, kalau tidak, ujung sepatu hak tinggi Karmen bisa menembus dadanya.
Semua orang yang menyaksikan itu terkejut. Tenaga dan kecepatan Karmen melebihi Paman Son.
Paman Son mundur beberapa langkah dan mengatur nafas. Kali ini dia berinisiatif menyerang Karmen dengan tongkatnya.
Tongkat itu berputar layaknya baling-baling dan mengarah ke Karmen dengan cepat. Karmen susah siap dengan serangan Paman Son. Karmen melpat ke udara setinggi dua meter, lalu dalam keadaan seperti terbang, Karmen langsng menyerang ke arah Paman Son menggunakan kaki kanannya.
Namun, tongkat tadi ternyata berbalik arah kembali ke Paman Son. Karmen menyadari tongkat itu akan mengenai kakinya jika dia meneruskan serangan.
Karmen memutar tubuhnya di udara dan melompat seperti sedang berjalan di udara. Tangan kanannya diarahkan meninju kepala Paman Son yang saat itu sesang menanti tongkatnya dengan tangan kanan.
Paman Son tidak menyadari itu dan sedang menanti tongkat. Jadi dia tidak sempat menghidar.
"Bug!"
"Ah!" Paman Son jatuh terduduk, namun tongkat berhasil dipegangnya.
Paman Son merasa seperti tertimpa batu besar saat tinju Karmen menadarat di kepalangnya. Karmen pun mendarat dan berdiri membelakangi Paman Son yang saat itu sedang kesakitan dan duduk dai lantai panggung.
Saat Karmen menjejakkan kaki di lantai, sebuah pisau terbang ke arahnya.Karmen menyadari itu, namun sudah terlambat, pisau itu tinggal sejengkal akan menembua punggungnya. Tiba-tiba sebuah benda menabrak pisau dan mendorongnya ke arah lain.
Benda itu ternyata adalah sebuah sumpit. Sumpit itu berputas seperti sebuah mata bor dan melubangi pisau dan sumpit itu menancap di tembok.
Semua orang terbelalak melihat kejadian itu. Karmen segera mengarahkan pandangannya ke Paman Son, namun dia tidak melihat bahwa yang menyerangnya adalah Paman Son. Jadi dia mengalihkan pandangan ke Rocky.
Lalu Karmen menatap Diana. Diana tampak tidak menatap Karmen saat itu, namun aedang asyik makan. Karmen melihat, Diana hanya memegang satu sumpit saja. Ya, tentu saja, sumpit yang satunya dia gunakan untuk mendorong pisau tadi.
"Apakah ada yang bermain curang di sini?" Tanya Karmen dengan tersenyum
"Kalian laki-laki ternyata pengecut!" Teriak Karmen. Semua mata menuju ke arahnya. Saat itu Karmen sedang menatap Rocky dan para tetua, lalu berpindah ke Firman dan ayahnya yang duduk berdekatan dengannya.
Ayah Firman sengaja datang karena dikabari bahwa Firman terluka. Jadi dia datang untuk memberi pelajaran pada orang yang membuat anaknya terluka.