
Diana dan Katmen memandang sinis anak adipati. Namanya Aryo Gumilar, biasa dipanggil Raden Aryo Gumelar.
Dari kereta, tampak Rangga sudah bangun. Dan dia pun turun dari kereta. Ketika melihat orang-orang yang terbaring di tanah dan memegangi tulang kering mereka, Rangga melihat ke Diana.
"Aku tanya sekali lagi! Siapa yang melakukan ini?" Tanya Raden Aryo Gumilar.
"Aku!" Jawab Diana dengan santainya. Dia sama sekali tidak ada ekspresi yang mencolok. Namun memandang Raden Aryo Gumelar dengan jijik.
"kamu berani sekali berbuat onar di wilayahku. Kamu akan mati!" Teriak Raden Aryo.
"Berbuat onar? Mereka yang mulai kok. Kami mau jalan dicegat, sudah aku ingatkan, mereka tidak peduli dan malah menyerang kami. kalau aku menghajar mereka, itu adalah membela diri. Dan kamu! Tidak peduli siapa kamu, anak raja sekalipun jika berani padaku, maka kamu bisa bernasib sama seperti mereka. Maka jangan salahkan aku, aku sudah mengingatkanmu!" Jawab Diana dengan emosi.
"Kamu sedang bermimpi. Orang-orang itu sama sekali tidak menguasai ilmu beladiri. Jadi kamu dengan mudah mengalahkan mereka. Tapi lihat! Yang ini adalah para master beladiri. Kamu akan segera mati. Hahaha!" Sahut Raden Aryo.
"Apa kamy sedang menakut-nakuti akau? Sepertin ya aku sama sekali tidak takut. Dan tidak perlu aku maju untuk menghadapimu." Diana menoleh ke arah Rangga yang sudah turun dwri kereta.
"Rangga! Apakah kamu sudah pulih?" Tanya Diana pada Rangga.
"Eh, ya. Tentu saja! Aku sudah kembali segar!" Jawab Rangga sambil melompat-lompat kecil.
"Bagus sekali! Aku ingin kamu memberi pelajaran pada orang sombong itu. Jika dia memang anak adipati, maka berada di tempat perjudian dan pelacuran itu harusnya hal yang memalukan." Kata Diana.
"Oh, boleh juga! Aku akan mencoba kemampuanku lagi, mungkin sudah pulih!" Jawab Rangga.
"Kalian sombong sekali! Awalnya aku hanya akan memberi kalian pelajaran, lalu meminta kalian secara baik-baik untuk menjadi budakku. Tapi, kali ini, kalian swmua harus mati!" Teriak Raden Aryo.
"Serang mereka! Bunuh mereka!" Teriak Aryo sekali lagi.
Puluhan orang dengan senjata pedang langsung merangsek menyerak ke arah Rangga. Awalnya Rangga masih santai dan sedang melakukan pemanasan.
Rangga heran, kenapa serangannya tidak bisa menjatuhkan lawan?
"Apa lawan memang memiliki kemampuan lebih?" Gumam.Rangg. Lalu dia sekali lagi melakukan hal yang sama.
Tendangan dan tinju Rangga berhaail bersarang di tubuh lawan. Mereka terpental, namun bangkit lagi. Begitu terus.
"Hahahaha! Mereka msmang tidak begitu cepat, tapi mereka sangat kuat. Hahaha!" Aryo tertawa melihat Rangga belum.juga bisa mengalahkan mereka.
"Aku bantu!" Teriak Karmen lalu melompat turun dari kuda. Tidak ada aba-aba, Karmen langsung menyerang puluhan pria iru.
Sementara Rangga juga sudah maju, serangan Rangga masih sama seperti tadi.
Namun berbeda dengan Karmen, Karmen tidak menggunakan pedangnya, namun dia seperti seekor monyet, melompat di antara badan tiap orang, memukul dan lalu melompat ke orang lainnya.
Karmen mematahkan sebelah tangan orang-orang itu. Terdengar jeritan memyayat hati. Orang-orang it u sebwlah lengannya patah.
Melihat itu, Raden Aryo Gumilar langsung panik. Dia tidak menyangka lawan juga sangat kuat. Dia mengira karena anak buahnya kuat, maka, lawan pasti akan kalah.
"Karmen! Serang yang berpakaian bangsawab itu dan tangkap dia!" Teriak Diana.
"Jika kamu menyerangku, maka prajurit-prajurit ayahku akan berperang melawan kaliab!" Teriak Aryo.
Namun Diana tidak pedulu, dia tetap mau Karmen menyerang orang itu. Sementara Rangga masih sibuk dengab trik Karmen dan menyerang orang-orang pengikut Aryo.
Tidak terlalu lama, Aryo sudah dilumpuhkan dan dalam.ancaman pedang Karmen. Semua orsng kini memandang ke Diana dan lainnya. Mereka sangat ketakutan.