
Dara tidak peduli lagi dengan sekelilingnya. Dia sedang menikmati ayam goreng kesukaannya. Sampai mukanya berwarna ayam. Sesekali Anita menyuapkan sup bayam dan nasi. Bahkan pakaian Dara warnanya sudah berubah.
"Pelan-pelan, sayang." Kata Diana sambil mengelap dahi Dara yang berkeringat dengan tisu.
Dara tetap saja tidak peduli. Dia hanya ingin makan.
"Sela, perusahaan ayahmu dulu bergerak di bidang apa?" Tanya Diana.
"Eh... Ya... Perusahaan ayah dulu pemasaran. Tapi itu hanya perusahaan kecil saja." Jawab Sela.
"Kantor pemasaran di Kota M nantinya membutuhkan banyak orang juga. Apakah ayahmu bersedia bekerja di sini sebagai direktur marketing? Aku bisa merekomendasikannya." Kata Diana.
"Diana? Apakah kamu serius?" Tanya Sela setengah berjingkat.
"Ya, mungkin tiga bulan lagi perusahaan sudah berjalan. Ayahmu bisa bekerja di sana." Jawab Diana.
"Ayahku pasti senang. Dia memang sangat menyukai marketing. Walaupun umurnya sudah tua, tapi ayahku sangat terampil dan melek teknologi. Terimakasih Diana. Aku akan segera memberitahu ayahku." Sela sangat senang. Dia tidak menyangka, dulu temannya yang miskin, kini menjadi orang hebat.
Dari semua yang dibicarakan Diana, itu sangat masuk akal dan terbukti ada.
"Diana, apa kamu bisa merekomendasikan kami di perusahaan wisata?" Tanya Sela.
"Tentu saja, Sela. Kalian bisa datang kapan saja untuk bekerja. Aku akan beritahu Nona Cintya untuk mengaturnya." Jawab Diana.
"Nona Cintya? Maksudmu?" Tanya Sela.
"Dia direktur perusahaan itu dan wakilnya Nona Er." Jawab Diana.
"Oh, terimakasih Diana. Suamiku, trman-teman. Kita bisa langsung bekerja." Sela sangat bersemangat. Tak terasa dia berdiri, mendekati Diana dan memeluknya dari belakang. Diana memegang tangan Sela dan menepuk-nepuknya.
"Kalian nanti menginaplah di rumahku dulu, besok pagi kalian baru ke sana." Kata Diana.
"Kami mungkin perlu menyewa mobil, Diana." Kata Sela.
"Tidak perlu. Jika kalian sudah bekerja, nanti kalian bisa memakai mobil perusahaan. Bukankah kalian semua suami istri?" Sahut Diana.
"Benarkah?" Tanya Sela. Diana mengangguk dan tersenyum.
Diana mengambil ponsel, lalu memilih kontak dan segera memanggilnya.
"Halo, Nona!" Sapa Farel dari seberang telepon.
"Baik, Nona! Segera!" Jawab Farel. Lalu panggilan ditutup.
Saat itu, sekelompok orang datang dengan tergesa-gesa menuju tempat Diana dan teman-temannya.
"Nona Diana! Kenapa Anda datang tidak memberitahu kami? Kami bisa menyiapkan makan terbsik untuk Anda!" Terdengar suara dari pria paruh baya berpakaian lengkap.
Pria itu adalah Loki, Presiden Direktur Home Resto.
"Kami memberi salam pada Nona Diana dan Nona Dara!" Kata pria itu lagi sambil membungkuk hormat.
Mendengar itu, Dara mengulurkan tangan memberi salam. Namun ditangannya masih memegang paha ayam. Semua orang tersenyum melihatnya.
"Paman, sepertinya itu tidak perlu. Kami juga sedang makan. Tidak perlu repot-repot, kan?" Kata Diana.
"Tentu saja kami tidak repot, Nona. Jika bukan karena Nona, mungkin saja kami tidak hidup lagi." Jawab Loki.
"Itu semua karena kerja keras semua prajurit, Paman. Dan kalian juga harus menghormati mereka." Sahut Diana.
"Andalah pahlawannya bersama kakak Anda, Nona!" Ujar Loki.
Diana hanya tersenyum saja mendengar kata-kata Loki. Sementara Sela, Wawan dan lainnya makin terkejut. Diana dianggap pahlawan?
"Baiklah, Paman. Kami sudah selesai dan mungkin mobil yang menjemput kami akan segera tiba." Kata Diana mengalihkan pembicaraan.
"Makanan ini Anda tidak perlu membayar, Nona. Kami memberikan gratis untuk Anda." Kata Loki.
"Tidak perlu seperti itu, Paman. Aku akan membayarnya." Sahut Diana. Dia menjadi tidak enak hati.
"Kami memaksa, Nona. Biarkan ini menjafi hadiah yang sangat kecil buat Anda dan Nona Dara." Loki memaksa. Dan Diana tidak bisa menolak lagi.
Dara mendengar itu. Gratis itu tidak bayar. Dara berpikir untuk membawa pulang ayam goreng untuk makan di rumah. Fia memandang Diana. Diana menggelengkan kepala.
"Kami akan mengirimkan lebih banyak ayam goreng dan sup bayam untuk Nona Dara, nanti." Kata Loki yang mengerti maksud dari Dara.
"Paman, itu tidak perlu. Jangan repot-repot." Diana menjadi tidak enak.
"Tidak apa, Nona. Siang nanti kami akan mengirimkannya." Jawab Loki