Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Ke Rumah Dinda


Jam tujuh malam, Kapten Herry sudah sampai di halaman rumah Diana. Kebetulan Anton dan Rangga sedang bersantai di depan rumah. Dan Dara juga ada di teras depan sedang bermain bersama Anita.


Saat melihat Kapten Herry, Dara berdiri tegap dan memberi hormat. Herry juga berdiri tegap dan memberi hormat. Hal itu membuat orang-orang tertawa.


"Hormat kepada polisi kecil!" Kata Herry. Dara langsung nyengir. Lalu kembali bermain boneka bersama Anita.


"Silahkan duduk, Kapten!" Kata Anton sambil menyodorkan kursi pada Herry.


Herry pun duduk dan mulai mengobrol.


"Sepertinya ada yang penting, Kapten?" Tanya Anton.


"Benar, mengenai Junito, orang ini terlalu licin fan memiliki pelindung yang sulit untuk dideteksi. Apakah Farel berhasil mendeteksi sesuatu di sekolah?" Tanya Kapten Herry.


"Sebaiknya Kapaten langsung saja temui Farel. Dia di lantai atas bersama timnya." Jawab Anton.


"Oh ya, Kapten! Aku penasaran dengan kejadian tadi pagi di sekolah." Lalu Rangga mulai menceritakan kejadian yang dialaminya di sekolah. Itu soal Listi, Dinda dan Evan. Kejadian besqr yang seharusnya menjadi perhatian, ternyata malah selesai begitu saja ketika Kepala Sekolah dan Wakilnya datang.


Juga, tidak ada tindak lanjut mengenai penyelesaiannya.


"Aku khawatir kejadian serupa akan terulang terus dan mengakibatkan trauma yang pada semua murid." Kata Rangga mengakhiri ceritanya.


"Hmmmm. Apakah kamu tahu siapa Evan?" Tamya Herry.


"Aku belum.menyelidikinya. Kapten, bisakah polisi menangkap Evan jika memang terbukti dia melakukan kejahatan? Anak ini sepertinya bukan anak orang sembarangan. Kepala sekolah dan wakilnya saja seperti melindunginya." Tanya Rangga.


"Hukum kita bisa menangkap, tapi kan perlu bukti secara fisik agar bisa diadili. Jika belum ada tindakan fisik seperti melukai, itu tidak bisa dilakukan." Jawab Herry.


"Oh, begitu? Jadi mungkin aku bisa berbuat sesuatu agar dia tidak melakukan kejahatan lagi?" Tanya Rangga.


"Jangan gegabah, kamu di sana untuk mengawasi Junito. Kamu harus melihat peluang dia bisa ditangkap." Kata Herry.


"Aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan orang jahat menindas orang lain di sekolah, apalagi yang ditindas adalah anak perempuan." Jawab Rangga.


"Itu mungkin bisa dipertimbangkan. Tapi harus hati-hati, kalau bisa selidiki dulu siapa orang tua dari anak itu." Balas Herry.


"Kemana Nona, Diana?" Tanya Herry.


"Oh, dia tadi pergi bersama Karmen. Sepertinya ada seseuatu yang penting. Aku juga tidam menanyakannya." Jawab Anton.


"Baiklah, aku akan ke atas menemui Farel." Kata Herry.


"Hormat polisi kecil!" Teriak Herry.


Dara hanya nyengir dan kemudian kembali bwrmsin boneka bersama Anita.


*******


Rumah Dinda


Rumah itu masuk di gang yang sempit. Mobil tidak bisa masuk ke dalam dan hanya sepeda mitor yang bisa masuk. Jalan ke sana juga harus melewati banyak rumah-rumah kecil berhimpitan.


Listi mengetuk pintu. Saat pintu dibuka, seorang perempuan berumur empat puluhan muncul.


"Maaf, Bibi. Apakah Dinda ada?" Tanya Listi.


"Dinda keluar setelah pulang sekolah tadi. Jam sebelas nanti baru pulang. Dia kerja paruh waktu di sebuah restoran. Kalian siapa?" Tanya perempuan itu menyelidik.


"Kami teman sekolah Dinda. Apakah kami boleh masuk?" Tanya Listi.


"Rumah kami sangat sempit. Lihatlah, itu adik-adik Dinda." Jawab perempuan itu sambil menunjuk ke dalam. Terlihat memang sempit. Tidak ada kursi dan mereka hanya menggelar tikar untuk duduk.


"Kalau boleh tahu, Dinda bekerja di restoran apa?" Tanya Listi.


"Dia bekerja di restoran hotel, aku tidak tahu pasti. Tapi itu hotel yang paling bagus katanya." Jawab ibunya Dinda.


"Apakah sudah lama Dinda bekerja di sana, Bibi?" Tanya Listi lagi.


"Baru seminggu ini. Temannya yang membawanya." Jawab perempuan itu.


"Baiklah, Bibi. Kami permisi dulu. Lain waktu kami kesini lagi." Kata Listi berpamitan.


"Oh ya, kalau Dinda pulang, sampaikan padanya, aku temannya, namaku Listi dan dia Erina bersama kakaknya, Karmen." Kata Listi lagi.


"Baik, aku akan sampaikan padanya nanti." Jawab perempuan itu.


"Bibi, terimalah ini." Kata Erina sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang.


"Apa ini, Nona? Aku tidak mau terima." Kata wanita itu.


"Terima saja, Bibi. Kamu akan membutuhkannya. Kami adalah teman Dinda." Kata Erina memaksa Bibi menerimanya.