Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Hari Kesembilan


Kapal Galang sudah berada di perairan utara Kota S, kurang dari sehari, dia akan sampai di Kota S, ketika ponsel ada sinyal, tampak Galang melihat dan tiga panggilan dari Diana yang tak terjawab.


Kemudian, Diana juga mengirimkan pesan jika Galang sampai di Kota S agar segera menuju ke provinsi selatan membantunya , juga pesan Diana agar membawa serta Paman David. Itu saja pesannya, pesan lainnya adalah, Diana saat ini sedang memimpin pasukan untuk berperang.


"Bawalah Paman David bersamamu, ada sesuatu yang penting yang harus Pamam temui. Ajak juga Rangga dan Paman Anton kemari."


Itu pesan Diana yang terakhir. "Memimpin pasukan? Pasukan apa?" Tanya Galang dalam hati.


Lalu dia berjalan menuju dek atas kapal, Galang menggunakan lift. Sore hari cuaca tidak terlalu panas, matahari tertutup awan hitam, namun tidak ada tanda-tanda akan hujan.


"Galang, kemarilah minum teh!" Seru David ketika melihat Galang datang ke tempat itu.


"Paman, Diana mengirim.pesan, ketika kita sampai di Kota S, aku diminta mengajakmu unttuk ke Provinsi Selatan, ada hal yang penting. Aku juga diminta mengajak Rangga dan Paman Anton." Kata Galang menyampaikan pesan Diana.


"Baiklah nanti kita ke sana." Jawab David.


"Oh ya, Diana bilang kalau dia sedang memimpin pasukan. Pasukan apa? Apakah ada perang di provinsi selatan?" Tanya Galang seolah hanya pada dirinya sendiri.


Mereka semua saling pandang. Tidak ada yang tahu pasti apa maksud dari Diana.


"Tunggu! Diana mengirimkan foto!" Galang.lalu membuka foto-foto yang dikirimkan Diana. Dia sangat terkejut. Ada ribuan orang dengan baju zirah dan menyandang pedang berkumpul laksana pasukan yang akan berperang.


Tidak ada foto Diana di sana, namun ada foto Karmen dan dua orang laki-laki, yang satu orang sepertinya dari militer. Mereka semua saling berpandangan lagi.


"Rangga, panggilkan Guru Galuh kemari!" Kata Galang pada Rangga yang baru saja meletakkan cangkir tehnya.


"Baik!" Rangga segera berdiri dan berjalan menuju lift.


Sementara Galang masih mengamati foto-toto yang di kirimkan Diana. Sepuluh menit kemudian, Guru Galuh dan Rqngga sudah berada di dek atas.


"Guru Galuh, sebenarnya di Provinsi selatan ada peristiwa apa?" Tanya Galang.


"Tuanku, sebelumnya aku minta maaf, tadi muridku menelponku, muridku yang lain telah mencuri pedang dari Goa Kematian, itu membuat penghuninya marah. Dan itu dianggap pelanggaran pennanjian damai yang dibuat lima ratus tahjn lalu."


"Nona Diana sempat ke perguruanku untuk merebut ledang itu, namun mjridku berhasil kabur. Saat ini, Nona Diana adalah Pamgloma Perang melawan makhluk siluman Goa Kematian. Siluman-siluman itu kata muridku tidak bisa mati. Hanya pedang Nona Diana saja yang bisa membunuhnya. Namun itu tidak mungkin, karema siluman-siluman itu berjumlah ribuan."


"Tentu saja hanya Anda yang bisa mengatasinya Tuanku!" Jawab Guru Galuh panjang lebar.


Galang dan lainnya akhirnya mengerti.


******


Siang telah bergantti malam, para petuga jaga malam sudah menempati pos masing-masing. Juga patroli telah dijalankan sejak hari pertama penduduk mengungsi. Mereka berjaga bergiliran, juga patroli dilakukan oleh pasukan gabungan, dari sipil, tentara dan kepolisian.


Diana, Karmen, Anita dan Dara menempati tenda besar yang khusus dibuat untuk mereka. Gubernur meminta agar Dara dan Anita di bawa k3 kota, namun Dara tidak mau. Jadi, Diana lebih memilih membawanya ke medan perang. Anita bisa selalu menemaninya di sana.


Diana segera keluar dan menemui seseorang. Dia adalah Guru Nang dari Paser Maut.


"Nona, aku mau melaporkan sesuatu." katanya sambil membungkuk hormat.


"Ada apa?" Tanya Diana.


"Guruku sudah hampir tiba di Kota S.. Katanya sekitar dua hari lagi sampai kemari bersama Raja Naga." Kata Nang.


"Benarkah?" Tanya Diana hetan.


Saat itu, pemuda berambut panjang juga muncul. Dia membawa sebuah tas besar.


"Nona! Ini pakaianmu, Nona Karmen dan Nona Dara." Kata pemuda berambut panjang. Tampak pemuds itu sudah mengenakan pakaian perang, membawa sebuah pedsng panjang. Sementara tas yang dia bawa dia letakkan di depan Diana.


"Terimakasih! Kenapa Dara harus memakai pakaian perang?" Tanya Diana lagi.


",Aku mrngira pasti dia akan iri melihat Anda berpakaian seperti itu, jadi aku membuatkan pakaian yang sama persis. Sedangkan pakaian Anda itu sudah ada sejak lama. Aku menyimpannya ketika Anda membutuhkan." Jawab pemuda itu.


Dara, Karmen dan Anita keluar dari tenda, ketika Dara mendengar soal pakaian, dia langsung ingin keluar.


Karmen membuka tas berisi pakaian. Di sana ada baju besi yang panjang. Itu untuk Katmen dan Dara, ada tiga buah pedang, satu pedang kecil dan dua lagi pedang panjanh dan besar. Sedangkan untuk Diana, ada sebuah kotak dari kayu yang diukir.


"Itu adalah warisan leluhur Anda, aku menyimpannya ketika ayahku mrmberikannya padaku. Sedangkan pedang Anda itu adalah pedang Cakar Naga, trrbuat dari baja tua dsn berumur ribuan tahun. Pedang itu yang akan menemani Anda selanjutnya." Kata pemuda itu.


Walaupun Diana tidak paham, namun dia berusaha untuk tidak bertanya dalam.situasi begini. Dara tampak tidak sabar dengan pakaian perang untuknya, sebuah pakaian kecil diambil oleh Karmen, lalu dicoba untuk dipakaikan ke Dara. Dara sangat senang ran itu pas untuknya. Lalu Karmen juga mengambil pedang kecil terbuat dari kayu, mengikatkan di pinggang Dara, serta sebuah sepatu dipakaiakan.


Dqra sangat senang, dia akan ikut berperang bersama ibu dan bibinya, pikirnya.


"Nona-Nona sekalian, musuh sudah muncul dan mereka tak jauh dari sini, mereka sedang berjalan kemari, jumlahmya sekitar sepuluh ribu. Aku sudah melihatnya. Tapi jangan kuatir, Raja Naga akan segera datang." Kata pemuda itu mrmberitahu.


Seseorang berlari mendekat ke arah mereka, dia adalah pasukan yang berpatroli.


"Nona, mereka sudah muncul dan sedang menuju kemari. Jumlahnya mungkin puluhan tibu!" Kata orang itu dengan tubuh gemetaran.


"Baiklah, Karmen, segera perintahkan kepada semua pemimpin pashkan agar waspada. Istrirahat yang cukup, besok kita akan berperang melaean mereka." Kata Diana pada Karmen. Karmen segera pergi dari sana dan menemui semua pemimpin pasukan.


Setiap satu regu pasukan berjumlah lima ratus orang. Jumlah pemimpin pasukan hanya ada tujuh orang, itu artinya jumlah semua prajurit yang akan berperang hanya sekitar tiga ribu limaratus. di tambah tiap pemimpin pasukan dan para petinggi.


"Nona, apakah aku sudah boleh pergi?" Tanya Guru Nang.


"Pergilah, Guru Nang. Ingatkan semua guru dan muri-muridmu agar mematuhi perintah pemimpin pasukan. Sepertinya Guru Seho bergabung dengan makhluk-makhluk itu. Biarkan aku yang menghadapinya, jangan kuatir, kita pasti memenangkan perang ini vepat atau lambat." Kata Diana.