
Setelah penjelasan yang detil, akhirnya orang-orang dari suku Ro mengerti tentang Galang. Er pun merasa lega walaupun dia harus menunggu Galang beberapa tahu. Mungkin saja Galang tidak akan pernah datang. Namun dia akan selalu berharap.
"Galang, aku akan menunggumu." Kata Er dengan malu-malu.
"Er, aku tidak bisa berjanji padamu. Seperti sudah dijelaskan nenekku, itulah kenyataan hidupku. Aku memiliki seorang anak. Aku tidak bisa hidup menetap di manapun. Di mana aku ada, di situlah rumahku. Dan, masa depanku adalah kematian. Kamu sudah lihat sendiri aku membunuh banyak orang di sini. Tuan mereka akan mencariku dan hidup bersamaku adalah bahaya." Kata Galang.
"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menunggumu sampai kamu datang." Jawab Er.
"Baiklah, itu terserah padamu." Kata Galang.
Sebenarnya Galang hanya ingin menolong saja tanpa imbalan apapun. Dan ke depan, perusahaan Diana yang akan membeli emas dari pulau ini. Karena mungkin saja, pembeli yang awalnya membeli emas di sini sudah dibunuh atau tidak berani datang lagi. Jadi Galang memutuskan untuk membujuk Diana agar mau menbeli emas dari pulau ini.
Kepala suku memerintahkan agar orang-orang yang di bawa tiga kapal.itu untuk menginap di pulau. Mereka mendirikan tenda darurat di tanah lapang milik penduduk di sana. Mereka pun menginap di sana sampai badai laut reda.
******
Mobil Diana melaju dengan tidak terlalu kencang di jalan raya menuju rumah baru. Mereka diikuti oleh Jatmiko dan Farel serta Pambudi dengan dua mobil.
Jalan menuju rumah baru sangat bagus, semua jalan sudah diaspal. Dikiri dan kanan jalan, itu adalah rumah-rumah penduduk dan juga berbagai toko seperti toko sembako, perhiasan, pakaian dan lain-lain.
Ya, akses ke manapun sangat mudah. Menurut Pambudi, perjalanan dari rumah ke kota tidak sampai sepuluh menit.
Baru saja mereka melewati tikungan, tiba-tiba Karmen menghentikan mobilnya. Di depan sana ada kayu yang cukup besar melintang di jalan dan menghalangi mobil. Ada beberapa orang laki-laki berada di sana. Mengarahkan kendaraan agar berbelok ke kana di gang yang agak sempit, namun mobil bisa melintas. Karmen pun akhirnya mengikuti instruksi daei orang-orang itu.
"Aneh, kenapa di jalan raya ada kayu besar melintang? Bukankah itu bukan kayu roboh?" Tanya Diana penasaran.
"Ya, itu tadi kayu gelondongan yang panjangnya sekitar sepuluh meter." Jawab Karmen.
"Karmen, berhati-hatilah. Ada yang tidak beres." Diana memperingatkan.
Lalu diapun menelepon Jatmiko dan Pambudi agar mengikuti instruksinya bila terjadi sesuatu. Dari kaca spion, Karmen juga melihat ada banyak mobil yang mengikuti mereka selain mobil Jatmiko dan Pambudi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga menit, di depan sana, ada belasan mobil yang berhent menghadangi dan menutup semua jalan. Karmen akhirnya menghentikan mobil dan menatap Diana.
"Tunggu dulu, kita lihat apa yang akan terjadi." Kata Diana.
Lalu, sekelompok orang berbaju hitam dan memakai topeng hitam juga dari kain, keluar dai semak-semak dan mengepung mobil mereka.
"Karmen, lidungi Dara! Beritahu swmua agar jangan turun dari mobil!" Lalu Diana membuka pintu bagian atas, melompat naik dan kemudian melompat turun di depan mobil.
"Oh, rupanya ini fia orang yang sudah mengalahkan Rocky! Haha! Ternyata adalah seorang gadis cantik." Yang bicara adalah Guru Seho, murid dari Guru Galung dari Gunung Mer.
Lalu Guru Seho sudah berada di hadapan Diana. Di jarinya dia menjepit sebatang rokok. Beberapa orang berada di belakangnya adalah Rocky, Roy dan anaknya serta Lukas, asisten Rocky.
"Rupanya kamu belum mau bertobat? Ingat apa yang aku katakan?" Diana bicara pada Rocky.
"Jangan banyak omong, kamu akan dihabisi oleh Guru Seho!" Rocky sangat marah, apalagi mengingat dia dipecundangi Diana malam itu.
"Paman, lindungi Nona Dara. Aku akan membantu Nona Diana." Kata Karmen.
"Bibi!" Panggil Dara.
"Dara sama Kakek dan Paman Farel ya. Bibi mau bantu Ibu, sayang." Jawab Karmen. Dara nengangguk mengerti.
"Paman, tolong jangan keluar dari mobil." Kata Karmen pada Jatmiko. Lalu Karmen berlari ke arah Diana dan berdiri di sampingnya.
Diana menoleh ke arah Karmen, Karmen paham, "Dara bersama Paman Jatmiko." Katanya.
"Aku sebenarnya tidak ada urusan dwnganmu, tapi karena mereka membayarku dengan harga mahal, juga karena kamu sudah membunuh puluhan muridku, maka disamping karena uang, aku akan membalaskan dendam murid-muridku." Kata Guru Seho.
Diana ingat malam.itu ada puluhan orang berpakaian serba hitam dan memakai topeng hitam dari kain, mencoba membunuhnya dengan anak panah. Jika dia tidak menghabisi mereka, maka itu akan membahayakan orang-orang di sekitarnya.
"Itu kesalahan mereka sendiri. Aku hanya membela diri." Diana bicara dengan santainya.
"Oh, begitu. Tapi, aku tidak terima. Kamu harus mati di tanganku!" Guru Seho tampak sudah marah.
"Bicaramu terlalu percaya diri. Kamu belum tentu bisa membunuhku, tapi seperri orang yang paling hebat." Diana tampak jijik melihat Guru Seho.
"Anak-anak! Serang!" Teriak Guru Seho.
Puluhan orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Diana dan Karmen. Kali ini mereka menggunakan pedang sebagai senjata.
"Diana, biar aku saja!" Teriak Karmen, lalu dia pun maju menghadapi puluhan orang berpakaiam hitam yang sedang menyerang. Karmen yang memang hebat tentu saja tidak mundur hanya menghadapi orang-orang itu.
Namun, ternyata orang-orang berpakaian hitam itu memang sudah dibekali ilmu beladiri yang lumayan. Serangan serangan pedang mereka mengarah ke tubuh Karmen. Karmen habya bisa menghindar dan belum bisa menyerwng balik.
Orang-orang berpakaian hitam semakin brutal menyerang karena Karmen mampu menghidari serangan mereka. Sesekali Katmen melepaskan pukulan. Beberapa orang pun tersungkur jatuh, namun mereka bangkit lagi dan menyerang Karmen.
Karmen terus saja menghindari pedang musuh dan sesekali menyerang balik. Upayanya menyerang memang berbuah hasil yang baik. dengan kekuatannya, beberapa orang jatuh dan tidak bangun lagi. Namun mereka hanya pingsan.
Guru Seho memang sengaja membawa murid-murid terbaiknya kali ini. Jadi orang-orang berlakaian hitam itu tentu saja bukan orang-orang sembarangan.
Namun Guru Swho terkejut, Karmen bisa menghindari serangan pedang murid-muridnya dan bahkan bisa menjatuhkan mereka dengan oukulan tangan kosong?
Hampir satu jam pertarungan berlangsung, kini murid Guru Seho hanya tinggal sekita delapan oranv yang masih bertahan. Sementara Karmen tidak terluka sama sekali dan terlihat tidak kelelahan.
"Mundu!" Teriak Guru Seho. Orang-orang berpakaian serba hitam mundur dan berusaha menolong teman-temannya yang tergeletak di tanah dan di aspal.
"Ada apa?" Tanya Diana.
"Sekarang giliranmu menghadapiku. Mereka belum ada apa-apanya. Tapi aku? Kamu akan merasakan betapa hebatnya aku!" Kata Guru Seho. Dia membuang rokok lalu menginjaknya dan langsung vergerak menyerang Diana.