Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Bantuan Erina


Dinda terus menangis dan terus memohon pada Karmen. Beberapa orang pengunjung melihat ke arah mereka.


"Kalian lihat apa?" Katmen marah.


Para pengunjung yang tahu siapa Karmen, tidak berani melihat lagi. Daripada berurusan dengan Karmen yang akan melibatkan Nona Diana, lebih baik cari aman. Itu pikir mereka.


"Aku akan mengampunimu. Tapi ada syaratnya. Kamu harus menjauhi Evan dan mulailah berbuat baik. Di sekolah, jangan pernah cari masalah. Soal Evan nanti akan aku urus. Dia bukan laki-laki yang baik untukmu. Kamu harus paham itu." Kata Karmen.


"Sekarang, aku akan mengantarmu pulang." Kata Karmen lagi.


"Ta-tapi aku masih kerja, Nona." Jawab Dinda.


"Tidak usah kerja lagi, ayo cepat!" Karmen emosi.


Merekapun akhirnya pergi ke rumah Dinda. Dalam.mobil, Dinda tidak bicara apa-apa. Dia hanya takut.


"Ayahmu sakit apa?" Tanya Erina.


"Ayahku jatuh di kamar mamdi seminggu yang lalu, awalnya masih bisa jalan dan bekerja, tapi sekarang sudah tidak bisa berjalan. Makanya aku bekerja mencari uang agar bisa membawa ayahku ke rumah sakit." Jawab Dinda.


Akhirnya mereka sampai di luar gang rumah Dinda. Diana menelepon Kapten Herry agar mengirim ambulan.


"Halo, Kapten! Minta tolong hubungi ambulan dan suruh ke alamat yang sudah aku kirim?" Tanya Diana.


"Baik Nona! Lima menit lagi ambulan akan sampai. Apakah perlu bantuan polisi, Nona? Kalau perlu, aku akan mengirim beberapa personil polisi." Terdengar suara Kapten Herry dari seberang telepon.


"Tidak perlu, Kapten. Cukup ambulan saja. Ohya, Kapte! Trlusuri murid bernama Evan. Aku akan mengirim datanya." Kata Diana. Lalu dia mrnutup telepon dan segera mengirim seseuatu melalui pesan chat.


"Sebentar lagi ambulan datang. Kamu pulanglah dulu dan beritahu ibumu agar bersiap ke rumah sakit." Kata Diana pada Dinda.


"Ta-tapi kami tidak punya uang." Jawab Dinda.


"Listi, temani Dinda ke rumahnya, kami akan tunggu ambulan datang!" Pinta Karmen pada Listi. Lalu Dinda dan Listi segera berjalan menelusuri gang masuk ke rumah Dinda, sementara Karmen dan Diana menunggu ambulan datang.


Hanya berselang lima menit, ambulan sudah sampai dan akhirnya ayah Dinda dibawa ke rumah sakit dan langsung mendapat penanganan dokter.


Diana memberikan deposit untuk biaya rumah sakit.


"Kamu tidak usah masuk sekolah dulu. Aku akan mengatur semuanya. Dan jangan keluar berkeliaran di luar rumah sakit. Aku akan minta Kapten Herry melindungimu." Kata Diana pada Dinda.


Listi dan Dinda sangat heran, Erina yang dia kenal, ternyata orang baik dan bahkan mengenal petinggi kepolisian.


"Kakak, ayo kita antar Listi dan segera pulang." Kata Diana pada Karmen.


Setelah memberikan uang untuk makan Dinda dan keluarganya, Diana, Karmen dan Listi segera meninggalkan rumah sakit. Tampak beberapa orang polisi sudah berada di sekitaran ruang gawat darurat di mana ayah Dinda sedang ditangani dokter.


Dinda sangat menyesal dengan perbuatannya. Walaupun dia bingung dengan semua ini, namub dia mempercayakan semuanya pada Erina. Melihat tindakan Erina, dia yakin bahwa Erina benar-benar akan menolongnya dari kesulitan.


Diana dan Karmen sudah sampai di rumah. Saat itu, Dara sedang marah. Dia marah karena ibunya belum juga pulang. Sudah beberapa orang membujuknya, namun dia tidak mau. Saat itu Diana dan Karmen masuk. Melihat Dara sedang berdiri di pojokan ruang tamu sedang dibujuk. Namun dia tetap tidak bergeming.


"Eh, itu Ibu pulang bersama Bibi!" Kata Arumi.


Dara tidak percaya, dia tetap berdiri dsn tidak bergeming sedikitpun.


"Sayang, Ibu pulang!" Kata Diana.


Dara hampir saja menoleh, namun dia masih jual mahal. Dia ingin ibu mrnghampirinya. Tentu saja Diana tahu itu, dia ke arah Dara dan langsung memeluknya. Dara tersenyum, membalikkan badan dan langsung memeluk ibunya.


Namun, Dara kaget, ibunya berpenampilan anrh. Terlihat lebih muda dan, rambutnya? Dara memegang kedua rambut Diana yang dikuncir. Selanjutnya, diapun meminta Diana menguncir rambutnya agar sama seperti tambut Diana. Semua orang tentu saja tersenyun gemas.