Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Raja Kota Pulau


Setelah perjalanan satu jam, akhirnya mereka pun sampai. Menurut sopir angkutan, itu adalah istana Raja Kota Pulau. Anton turun dan mendatangi penjaga gerbang, lalu memberikan surat yang diberikan oleh Raja Kota Pulau.


Penjaga gerbang membaca surat itu dan memandangi Anton dengan pandangan menyelidik. Penjaga satunya kemudian membawa surat itu dan melaporkannya langsung pada Kepala Rumah Tangga. Kepla Rumah Tanga pun langsung menemui Raja Kota Pulau.


"Tuan, orang yang membawa surat ini ingin menemuimu." Lapor Kepala Rumah Tangga lalu berikan sebuah kertas kepadanya.


Raja Kota pulau, dia tidak berpenampilan seperti seorang raja. Bahkan tidak seperti bayangan, seorang raja yang dikelilingi oleh dayang-dayang dan prajurit. Hanya saja, beberapa orang sedang berada dio sana dan duduk mengelilingi sebuah meja besar.


Setelah membaca surat itu, Raja Kota Pulau terlihat sangat marah.


"Kenapa kalian malah membiarkan Tuan Anton dan Tuan Muda Galang di gerbang? Bagaimana kalau mereka marah dan menghukum kita?" Raja Kota Pulau sangat matah sekali.


Lalu dia berdiri diikuti belasan pria lainnya dan langsung pergi ke gerbang. Saat itu di gwebang, Anton sedang berdiri membelakangi para penjaga yang saat itu berdiri menghadapnya. Sementara Galang dan lainnya sedang berada di mobil menunggu.


Sesampai di sana, Raja Kota Pulau berlari dengan tergesa-gesa. Menjatuhkan diri berlutut diikuti vbelasan pria yang bersamanya dan juga Kpela Rumah tangga.


"Tuan Anton!" Terdengar suara Raja Kota Pulau memanggil Anton. Anton menoleh dan melihat dengan teliti spa yang memanggilnya. Anton melihat belasan pria sedang berlutut.


Setelah beberapa saat memandangi mereka, akhirnya Anton membuka suara, "Kamu? Bukankah kamu Sanjaya?"


"Tuan, maafkan kami yang tidak menyambutmu dengan baik. Aku sudah mengutus mobil penjemput kalian saat mengetahui kalian sudah berhasil menangkap Suryanata. Karena aku yakin itu pasti Anda dan Tuan Muda Galang." Raja Kota Pulau yang dipanggil Sanjaya memberi penjelasan.


Anton memberi kode agar semuanya turun dari mobil. Turun dari sana Galang, Diana, Karmen, Rangg, Dara dan Tomas. Sementara Sanjaya dan lainnya masih berlutut di tanah.


"Tuan Muda Galang, Nona Dara. kalian sungguhb bermurah hati mau datang ke tempat kami tanpa penyambutan." Kata Sanjaya sambil menunduk. Tak ada satupun belasan pria yang berada di belakang Sanjaya berani menegakkan kepala.


"Galang, dia adalah Sanjaya. Kamu saat itu masih sangat kecil, tentu saja tidak mengingatnya. Dia dulu adalah salah satu pengawal keluargamu. Berilah salam padanya." Kata Anton memberitahu Galang.


"Paman, bangunlah. Tapi tidak perlu seperti ini." Galang memberi perintah. Namun Sanjaya tidak berani bangun.


Saat itu dari dalam rumah yang seperti istana itu berlarian keluar puluhan orang pria, wanita, tua dan muda. Mengikuti Sanjaya, merekapun ikut berlutut. Beberapa di antara mereka adalah anak-anak kecil seusia Dara. Saat itui mata Dara justru berfokus pada anak-anak kecil yang juga ikut berlutut.


Anak-anak itu juga melihat ke arah dara dan mereka tersenyum. Dara melambaikan tangannya juga sambil tersenyum. Dara minta turun dari gendongan Diana, lalu berjalan ke arah anak-anak itu. Mata orang-orang tertuju pada Dara dan tersenyum juga gemas.


Dara dengan malau-malu melihat mereka. Ada tiga anak kecil seusianya dan satu oanak lebih tua dua atau tiga tahun. Tampak-anak-anak itu sedang berlutut. Dan ketika Dara mendatanginya, anak-anak itu serempak memanggilnya, "Nona!"


Dara ingat tadi dia dibelikan makianan oleh ayahnya. Jadia berlari kecil ke arah ayahnya dan meminta makanan yang dibeli.


Setelah mengambil makanan, Dara lalu berjalan ke arah anak-anak kecil itu dan membagikannya. Ternyata makanan itu lebih satau. Dara kebingungan dan mencari-cari siapa yang bisa diberikan makanan itu. Dia melihat ada seorang remaja putri yang ada di dekatnya, lalu memberikan makanan itu padanya.


"Terimakasih, Nona Dara." Kata remaja itu. Dara pun tersenyum dan langsung berlari ke arah Diana dan memegang tangannya. lalu menariknya agar menemaninya.


"Ibu!" Mereka berjalan ke arah anak-anak itu. Diana mengajak anak-anak yang sudah diberikan makanan oleh Dara ke arah rerumputan lalu mengajak mereka untuk duduk. Dara senang sekali karena punya teman baru.


Orang-orang pun tersenyum gemas melihat tingkah Dara.


"Sanjaya, apa kamu tidak ingin mengajak kami masuk?" Tanya Anton.


"Sanjaya terkejut dan segera menoleh ke arah Anton dan lainnya. "Maafkan kami, Tuan. ayo masuk. KLita akan berbincang di dalam." Sanjaya memerintahan mereka yang berlutut agar berdiri dan menyingkir memberi jalan.


Sementara Diana dan dara masih bersama anak-anak itu, mengobrol dan tertawa cekikikan. Setelah beberapa lama, akhirnya semua telah berada di dalam rumah Sanjaya yang sangat besar dan megah seperti istana.


Dalam penyelidikan Sanjaya sebelumnya yang menyeklidiki galang dan lainnya, Sanjaya belum mengetahui informasi tentang Diana. Kini dia baru tahu siapa Diana setelah ANton menjelaskannya. Semua orang kini menaruh hormat pada Diana.


"Sanjaya, kenapa kamu disebut Raja Kota Pulau? Bukankah itu berlebihan?' Tanya Anton.


"Begini, Tuan. Setelah Tuan Besar menyuruhku membawa sebagian hartanya kemari, aku mengembangkannya di Kota Pulau. maka aku banyak membangun perusahaan di sini. Perintah Tuan besar, maka aku hanya boleh menguasai sepuluh persennya, dan sisanya adalah milik Tuan Muda Galang." Sanjaya menghela nafas.


"Puluhan tahun aku menyebar orang-orangku untuk mengetahui keberadaan Tuan Muda. Baru beberapa minggu lalu orang-orangku menemukan Tuan Muda di Kota S. Mengenai aku dipanggil Raja, sebenarnya itu sangat rumit. Hanya kebetulan perusahaan menguasai hampir sembilan puluh persen nilai pasar di kota ini. Aku disebut-sebut sebagai Raja Kota Pulau. Itu sebenarnya terlalu berlebihan. Apalagi Gubernur juga sestuju itu. Aku tidak bisa menolaknya. Tuan Mudalah yang layak disebut Raja Kota Pulau." Kata Sanjaya memberikan penjelasan.


"Tuan Muda, perusahaan Anda di sini maju dengan sangat pesat. Tuan Besar berpesan agar nantinya Anda mengelolanya. Jadi aku hanya diberi mandat untuk mengembangkannya. Sampai suatu hari, Suryanata membuat pengumuman bahwa dialah yang menguasai Kota Pulau dan mengintimidasi kami."


Sanjaya tampak tersenyum, "Tapi kini kita semua sudah terbebas berkat Tuan Muda, Tuan Anton dan lainnya."


Saat itu Kepala Keluarga masuk, "Tuan, persiapan pesta hampir siap. Alun-alun sudah ditata sedemikian rupa. Apakah Tuan ingin memeriksanya?"


"Baiklah, aku akan ke sana nanti. Siapkan kendaraan saja." Jawab Sanjaya.


"Paman, bolehkah kami ikut Paman ke sana?" Tanya Diana pada Sanjaya.


"Oh, tentu saja Nona boleh ikut. Kami akan senang." Jawab Sanjaya dengan hormat.


"Ibu, ikut!" Dara juga juga tidak mau ketinggalan. Dia memang sedang tergila-gila dengan Diana, jadi dia akan ikut kemanapun Diana jalan-jalan. Dan saat itu, Karmen dan Rangga juga akan ikut bersama mereka. Sementara Galang dan Anton memilih untuk tinggal. Galang yang terluka di lengannya akan diantar oleh anak buah Sanjaya ke rumah sakit.