Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Pasukan Pertapa Sakti


Raja menerima laporan bahwa Pertapa Sakti ada di sini dan mengirim pasukan yang kasat mata. Raja sampai terkejut dan berdiri dari duduknya. Juga para Pangeran, para menteri dan prajurit tinggi yang bersamanya.


"Jadi waktu pergi ke sana, Diana berhasil membujuk Pertapa sakti untuk membantu? Benar-benar hebat." Gumam Pangeran Ludira.


Demikian juga Pangeran Lintang juga tidak bisa berpikir lagi. Seorang perempuan muda yang sangat sakti, membunuh pembumuh Panglima Rungkut, mengalahkan ribuan pasukan hanya dengan tiga orang dan sekarang mendapat bantuan dari Pertapa Sakti.


Pangeran Lintang sangat ngeri jika terpikir dirinya pernah ingin berbuat jahat pada Diana.


"Benarkah Pertapa Sakti datang membantu?" Tanya Raja.


"Benar, Yang Mulia Raja! Aku melihat sendiri tadi. Dan kabarnya, Pertapa Sakti membawa pasukan kasat mata." Jawab pengawal.


"Panglima Diana begitu hebat dan sekarang Pertapa Sakti sampai turun membantu. Sangat luar biasa betapa hrbatnya Panglima Diana." Puji Raja.


"Apakah Yang Mulia tidak ingin menemuinya?" Tanya Ludira.


"Itu tidak perlu, aku tahu dia tidak akan senang bila aku temui walaupun aku seorang raja. Dia datang membantu kita saja sudah bagus. Aku tidak ingin ada konflik saat sekarang." Jawab Raja.


"Baiklah, Ayah. Anda sangat bijaksana. Aku akan selalu memghormati keputusan ayah." Sahut Ludira.


Saat itu terdengar teriakan teriakan dari pemimpin pasukan agar semua prajurit bersiap. Tampak semua wajah prajurit menjadi tegang dan cemas.


Diana di atas kuda memberi semangat, "Dengar! Perang ini adalah mempertahankan negara! Jika kita mati dalam membela negara, maka kita adalah pahlawan. Pahlawan tidak dibatasi dengan jabatan. Yang terpenting adalah, jangan sampai tanah air kita dikuasai oleh negara asing! Apakah kalian siap mati?"


Perkataan Diana seperti menggugah semangat para prajurit.


"Kakek! Apakah bisa pasukanmu menyerang duluan?" Tanya Diana.


"Tentu saja, Cucu! Aku akan segera memerintahkan mereka sesuai perintahmu!" Jawab Pertapa Sakti.


"Baik, Kakek! Sekarang!" Teriak Diana.


Kakek Tua Pertapa Sakti berbicara dengan bahasa aneh. Lalu Diana melihat di tangan masing-masing makhluk ada sebatang pohon seukuran kaki orang dewasa dengan ujung yang lancip. Lalu mereka mulai melempar batangan pohon itu ke arah prajurit musuh. Setelah dilempar, di tangan mereka kembali ada batang pohon yang sama dan dilempar lagi. Begitu seterusnya.


Saat kayu-kayu itu terbang, barulah semua orang melihatnya. Mereka tahh, itu adalah pekerjaan pasukan Pertapa Sakti. Saat itu, barisan terdepan musuh sebagai tameng sudah terbuka dan ribuan prajurit musuh tewas dihantam batangan kayu.


Diana Lalu menatap ke arah Jenderal Sutono. Jenderal Sutono paham maksud dari Diana. Lalu dia mulai meneriakkan agar pasukan peralatan berat pelempar batu segera menyerang.


Seketika, ribuan batu berukuran besar melayang melewati barisan prajurit dan langsung menuju musuh.


Serangan beruntun ini menewaskan sepuluh ribuan prajurit musuh. Serangan itu belum berhenti sampai Diana menghentikannya.


Sementara pasukan dari Kakek Tua Pertapa Sakti juga masih terus membombardir barisan musuh dengan kayu tajam.


Di sebelah sana, Panglima Jung Saka kemudian juga memerintahkan agat pelontar digunakan. Kedua pasukan yang berhadapan.kini saling serang dengan pelontar batu. Batu-batu yang dilomtarkan musuh juga mengenai prajurit Diana dan ribuan prajurit mati.


Terlihat puluhan ribu pasukan altileri musuh sudah mulai maju, Diana melihat ke arah Jenderal Jaya Wisesa. Jaya Wisesa pun menyiapkan pasukannya untuk memyambut pasukan altileri musuh.


Para prajurit pemanah sudah menarik busur sesuai aba-aba para komandan pasukan. Senentara pasukan Pertapa Sakti masih terus menyerang. Walaupun banyak yang mati, namun pasukan altileri musuh yang jumlahnya puluhan ribu terus maju.