Super Rich Adventurer

Super Rich Adventurer
Ardelia Hotel


Galang, Dara, Karmen dan Rangga telah bersiap. Mereka diundang makan oleh keluarga Herlambang. Tempatnya juga sama di Ardelia Hotel. Selain mereka, Herlambang juga mengundang Kapten Herry. Mereka mendengar sendiri Kapten Herry diundang oleh Herlambang ke acara mereka


Dari mereka berempat, ada pakaian yang mencolok. Yaitu pakaian Dara. Dia minta Ayahnya membelikannya seragam polisi saat membeli pakaian. Dara terlihat sangat lucu dan imut dengan dandanan seperti itu.


Kali ini, saat mereka berangkat ke ruang acara, Dara tidak mau digendong. Dia berjalan layaknya seorang polisi yang sedang berbaris. Dan setiap kali berpapasan dengan orang, dia selalu mengangkat tangannya di kening.


Akhirnya mereka sampai di lift. Saat itu tidak ada orang lain selain mereka berempat. Namun saat pintu lift mulai tertutup, ada teriakan "tahan" dari luar, Rangga dengan cepat membuka kembali pintu lift.


Seorang pria 50 tahun dan seorang wanita masuk diikuti seorang pemuda berusia 25 tahun. Mereka seperti satu keluarga. Melihat dandanan mereka, pastilah pengusaha.


"Pa, apa kita tidak terlambat? Jangan sampai kita sia-siakan undangan Herlambang. Bagaimana penampilan mama?" Wanita itu suaranya berisik.


"Ini kesempatan kita mengenalkan Robin pada Dila." Kata wanita lagi.


"Mama kenapa sibuk sendiri, sih? Mama sangat cantik. Tenang saja." Pria itu mencoba menenangkan si wanita.


Wanita itu seperti tak mempedulikan orang di sekitarnya. Padahal di situ ada Galang, Rangga, Karmen. Dara juga harus disebut, jika tidak dia pasti marah nanti.


Sampai di lantai 6, pintu lift terbuka, wanita itu tidak sabar untuk cepat keluar. Namun karena buru-buru, kakinya malah menyentuh kaki suaminya. Saat hendak jatuh, kebetulan Karmen ada di depannya. Lalu Karmen memegang tubuh wanita itu agar tak sampai jatuh.


"Trimakasih!" Seru wanita itu. Lalu dengan cepat dia keluar dari lift dan tak peduli lagi dengan orang lain. Suami dan anaknya lantas buru-buru juga mengikuti wanita itu.


Galang, Karmen dan Rangga saling berpandangan dan tersenyum. Dara saat itu sudah berjalan duluan dengan masih bergaya baris berbaris. Entah apa tujuan Dara seperti itu, hanya dia yang tahu.


"Kamu ingat kamar nomor berapa, Lang?" Tanya Karmen.


"Ikuti saja orang itu. Rangga kamu jalan lebih cepat dan tunggu kami di sana!" Kata Galang.


Rangga berjalan lebih cepat. Dia ingin mengikuti tiga orang tadi agar mengetahui nomor kamar. Saat itu Rangga melewati Dara. Dara mengira harus cepat. Lalu Dara berlari mengejar Rangga. Sementara Elang dan Karmen justru harus mempercepat langkah mengikuti Dara.


Dara dan Rangga sudah sampai di dekat pintu masuk. Mereka menunggu Galang dan Karmen. Dara tampak terengah-engah. Nafasnya terlihat sangat cepat. Namun dia masih terus bersikap seperti seorang polisi.


Akhirnya mereka sampai di depan pintu dan mengetuk. Pintu terbuka, seorang petugas pintu menanyakan undangan.


"Undangan? Kami tak memiliki undangan. Kami diundang langsung oleh Pak Herlambang." Jawab Galang.


"Maaf, tapi kalau tidak ada undangan tidak boleh masuk." Petugas pintu tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah, kami tak perlu masuk." Kata Galang. Namun, Dara malah sudah menerobos masuk. Dara yang melihat Herlambang sedang berdiri dengan beberapa orang lalu berlari ke arahnya.


Petugas yang lain lalu mengejarnya. Terjadi keributan di dalam ruangan. Dara memanggil-manggil Herlambang.


"Kakek...! Kakek...!" Suara Dara melengking hingga membuat suara ramai menjadi tenang. Semua menoleh ke arah Dara.


Herlambang yang tahu itu Dara lalu menuju ke arahnya. Dia melihat Dara berlari, dia takut akan jatuh. Namun, saat itu seorang petugas juga berlari ke sana. Herlambang yang lebih dulu sampai ke depan Dara lalu menggendongnya.


Dara ingin memberitahu Herlambang kalau Ayah, Bibi Karmen dan Paman Rangga ditahan di pintu. Tangannya lalu di arahkan ke pintu. Saat itu petugas penjaga pintu sampai di sana.


"Maaf, Tuan. Biar saya membawanya keluar!" Kata petugas itu.


"Apa maksudmu dibawa keluar?" Herlambang malah bertanya.


"Dia?" Petugas itu kebingungan.


"Dia adalah cucuku. Kamu apakan dia?" Tanya Herlambang. Mendengar itu petugas sangat ketakutan. Dia lalu merasa panik. Entah harus melakukan apa. Sementara orang yang bersama anak ini sedang mereka tahan.


Dara lalu menarik baju Herlambang. Tangan Dara menunjuk ke pintu. Semua orang memperhatikan adegan itu menjadi terkejut. Sejak kapan Herlambang punya cucu?


Herlambang paham, mungkin maksudnya, Ayahnya ada di pintu. Akhirnya Herlambang berjalan ke arah pintu diikuti petugas itu. Galang sebenenarnya hendak pergi, namun karena Dara ada di dalam, mereka mengurungkan niatnya. Dia sudah berbicara pada penjaga, dia mau ambil anaknya lalu pergi. Namun, petugas tetap tak mengizinkannya.


"Tidak bisa, biarkan temanku yang mengambilnya dan setelah itu silahkan pergi.!" Kata petugas itu.


"Siapa yang kamu suruh pergi?" Suara Herlambang mengagetkan mereka semua.


"Tuan, mereka tak punya undangan, tapi nekad ingin masuk!" Jawab petugas itu.


"Mereka adalah tamu istimewaku. Kenapa kamu menahannya?" Herlambang sangat marah pada petugas itu.


"Diam!" Bentak Herlambang.


Saat itu Dara minta turun. Dia tidak ingin digendong saat berseragam polisi. Herlambang menurunkannya. Saat itu Dara melihat Dila. Dia berlari ke arahnya.


Akhirnya, Karmen, Galang dan Rangga masuk. Mereka sebenarnya tidak masalah dengan para penjaga itu. Namun Herlambang sangat marah sekali. Dia hendak memukul mereka tapi dihentikan oleh Galang.


"Tidak perlu, Paman." Kata Galang.


Dara kini sedang berdiri di hadapan Dila. Dila tersenyum melihatnya. Wanita itu sangat cantik dan anggun. Saat itu Dila hendak menggendongnya, tapi Dara menolak. Dia adalah polisi. Dia tidak perlu digendong. Danny dan ibunya juga berusaha menggendongnya karena gemas, tapi Dara menolak. Kini Dara justru menjadi pusat perhatian.


Seorang pria dan wanita paruh baya dan seorang pemuda mendekat. Mereka adalah orang yang bersama Dara di lift. Dara merasa tidak senang ketika dia berdiri berhadapan dengan Dila namun ditutupi oleh mereka.


"Wah, Nak Dila, kamu cantik sekali, selamat ya. Kamu sudah sehat kembali sekarang." Wanita itu memulai pembicaraan.


"Memang seharusnya Nak Dila itu segera punya suami agar ada yang melindungi. Jadi biar aman. Anak Tante ini jago karate lo. Selain itu, dia juga punya bisnis kecil-kecilan. Dia disuruh kerja di perusahaan ayahnya tapi tidak mau. Oh, ya. Ayo kenalan!" Kata wanita itu lalu menarik Robin ke hadapan Dila. Dila sebenarnya merasa risih. Dia tidak ingin acara ini terganggu dengan hal-hal yang sepele.


Namun, Dila tetap mengenalkan diri. Robin terlihat tegap dan lumayan tampan. Namun dibanding Galang, dia sangat jauh.


Danny yang melihat Dara tidak nyaman di belakang orang-orang itu lalu menghampirinya. Mengajaknya ke ibunya.


Saat itu, Herlambang, Galang, Rangga dan Karmen sampai di situ. Terlihat pakaian Galang, Rangga dan Karmen sangat sederhana. Namun ketiganya terlihat percaya diri.


Mereka rata-rata yang hadir memakai jas. Tapi Rangga dan Galang tidak. Sementara, Karmen seperti biasanya, memakai celana panjang dan hem. Namun kali ini bukan celana jeans, tapi dari bahan kain biasa. Karmen terlihat sangat cantik. Tak ada riasan di wajahnya.


"Mana cucu kakek?" Herlambang tiba-tiba bicara seolah-olah mencari Dara.


Saat itu Dara ada di samping Danny. Dia berdiri tegap. Melihat Herlambang, dia lalu memberi hormat.


"Ciap!" Membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Karmen melihat keringat Dara menetes di wajah. Dia mendekatinya dan ingin menyeka wajahnya dengan tisyu.


"Bu polisi, biar keringatnya dilap dulu, ya!" Dara kemudian tersenyum. Lalu Karmen menyeka wajah Dara dengan tisyu.


Herlambang tampak naik ke podium. Dara yang melihat itu lalu mengikutinya. Galang hendak melarangnya namun Dila mencegahnya. Herlambang mengambil microphone, berdiri di tengah podium, sementara Dara berdiri di sampingnya dengan posisi tegap. Lucu.


"Selamat malam!" Suara Herlambang menggema di seantero ruangan. Semua orang menyambut sapaan Herlambang.


"Ini adalah malam syukuran anak saya Ardelia Herlambang. Kami sengaja tidak mendokumentasikannya. Semua undangan juga dilarang mendokumentasikannya. Itulah sebabnya saat masuk kalian harus meninggalkan ponsel dan kamera di petugas pintu."


"Bebepa hari lalu, keluarga kami mengalami musibah. Anak kami diculik dan dan mereka meminta tebusan yang sangat banyak, 100 miliar!" Herlambang mengehentikan suaranya.


Semua orang terkejut saat Herlambang menyebut 100 miliar. Itu bukan uang yang sedikit.


"Kami sangat tertekan waktu itu. Tanpa kepastian apapun dari para penculik, kami sangat putus asa. Seperti tak ada harapan. Akhirnya saya memutuskan mengambil semua uang perusahaan untuk uang tebusan. Memang sungguh berat. Kami harus mengorbankan ribuan karyawan. Tapi semua itu demi anak saya tercinta." Herlambang menghela nafas.


"Apalagi, para penculik itu bukan saja membahayakan anak saya, tapi juga membahayakan penduduk kota dengan bom yang dipasang di berbagai tempat publik. Itu juga yang menjadi pertimbangan saya untuk mengeluarkan uang sebanyak itu." Herlambang menghentikan ucapannya. Dia melihat ke arah Dara. Dara yang juga menoleh, lalu memberi hormat.


Helambang tersenyum padanya lalu melanjutkan pidatonya.


"Saat menunggu telepon dari para pemculik..." Herlambang mengehentikan pidatonya. Dia melihat saat itu Kapten Herry datang. Dia tampak mengenakan serangam polisi. Memang saat itu dia masih bertugas, dan dia agak terlambat datang karena harus menyelesaikan tugas dahulu.


Sampai di hadapan Herlambang, dia lalu berucap, "Maaf saya terlambat, saya harus menyelesaikan tugas dan baru bisa sampai di sini sekarang. Dan saya berpakain formal."


Herlambang mengangguk. Herry melihat Dara lalu dia memberi hormat. Dara yang melihat Herry lalu juga memberi hormat.


"Selamat datang Kapten Herry!"


"Baik, kita lanjutkan. Saat menunggu telepon dari para penculik, saat itu saya sudah siap bertukar. Namun yang terjadi adalah, saya ditelepon seseorang... Dia mengatakan bahwa Dila sudah diselamatkan...." Mata Herlambang tampak berkaca-kaca.


Dia menyeka air matanya dengan saputangan. Suasana menjadi haru. "Saat itu, penelepon mengatakan saya disuruhnya datang ke rumah sakit. Saya merasa bahwa itulah saat kebahagiaan keluarga saya yang mengetahui anak saya selamat. Dan kabar dari kepolisian, bahwa semua bom telah disisir karena info juga dari penelepon rahasia." Herlambang mencoba menenangkan diri.


Herlambang melihat para hadirin wanita menangis mendengar ceritanya.


Tapi Dara tidak menangis.


Karmen yang melihat itu merasa penasaran. "Kenapa dia ceritakan itu?" Bisiknya pada Galang.